Main Menu

Menakar Silaturahmi Biru Sandiaga Uno ke Jantung PAN dan Muhammadiyah

Mukhlison Sri Widodo
31-08-2018 10:57

Bakal calon wakil presiden Sandiaga Uno saat mengunjungi lembaga perempuan Aisyiyah (GATRA/Arif Koes Hernawan/yus4)

Yogyakarta, Gatra.com - Bakal calon wakil presiden Sandiaga Uno berkeliling Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) selama satu hari, Kamis (30/8). Mengunjungi mantan ketua umum Muhammadiyah dan lembaga perempuan, Aisyiyah. Silaturahmi yang dianggap jalan memutar mencari suara ormas Islam besar itu.

 

Jadwal Sandi padat selama satu hari itu. Ia menyambangi pasar tradisional Beringharjo, di Malioboro, pusat kota Yogyakarta. 

Sandi juga datang ke kantor koran terbesar di DIY, Kedaulatan Rakyat. Cawapres usungan Partai Gerindra, Demokrat, PKS, dan PAN ini juga menggelar diskusi wirausaha bersama mahasiswa.

Namun yang menarik perhatian, Sandi mengunjungi sekolah dasar milik Yayasan Budi Mulia Dua di Sleman. Yayasan ini didirikan dedengkot PAN dan mantan ketua umum PP Muhammadiyah Amien Rais, dan diketuai anaknya, politisi PAN, Hanafi Rais.

Ketiganya sempat bertemu di dalam sekolah secara tertutup. Seorang anggota Panwaslu Sleman, yang membawa surat tugas, dilarang masuk. Sementara, di gerbang sekolah terpasang spanduk “IAM Sandi: Santun, Muda, Berprestasi”. 

Kepada wartawan, Sandi, Amien, dan Hanafi kompak bilang tak membahas politik. “Kami tidak bicara politik sama sekali. Murni (bicara) tentang pendidikan karena ini investasi jangka panjang,” ujar Sandi.

Sandi menampik pertemuannya dengan Amien dan Hanafi untuk membahas bergabung ke PAN, meski kini saban tampil di publik, termasuk ketika seharian di Yogyakarta, ia selalu mengenakan baju biru, warna khas partai itu.

“Belum ada pemikiran itu. Saya sekarang ini sedang mengurus mundur sebagai kader Gerindra. Jadi saya ingin tuntaskan proses tersebut. Saya harus bisa menjadi sosok di atas semua kepentingan agar bisa diterima,” sanggah dia.

Pernyataan itu baru disampaikan Sandi usai menemui pimpinan pusat lembaga perempuan Muhammadiyah, Aisyiyah. Sandi ditemui ketua umum PP Aisyiyah, Siti Noordjanah Djohantini di rumah pribadinya di Kasihan, Bantul.

Siti Noordjanah menyatakan, program Aisyiyah selaras dengan program Sandi. Karenanya pihaknya akan sinergi dan memberi masukan konkret. 

“Tapi kader Aisyiyah, seperti Muhammadiyah, secara individu dipersilakan memilih capres sesuai pilihannya,” ujarnya. 

Ia juga berdalih bila pihak Aisiyah tidak punya sikap resmi terkait pilihan ke salah satu pasangan capres dan cawapres.

“Tidak ada juga perwakilan kami di keduanya. Pimpinan yang jadi timses harus izin dan nonaktif,” ujar Siti yang menyebut kader aktif Aisyiyah lebih dari 10 juta orang.

Siti tak lain istri Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir. Haedar telah ditemui Prabowo dan Sandi beberapa waktu lalu usai menjalani cek kesehatan untuk syarat pemilihan presiden. 

Saat Sandi menemui Siti, Haedar disebut pilih berada di kantor media ormas itu, Suara Muhammadiyah, sekitar lima kilometer dari rumahnya.

Sandi juga menyanggah pertemuannya ini untuk menggaet pemilih dari Aisyiyah dan Muhammadiyah. 

Meski, ia sebut Aisyiyah adalah dapur "the power of emak-emak", yang jadi jargon politiknya menggaet suara perempuan. "Kami hanya silaturahmi dan ingin mendapat aspirasi,” katanya.

Peneliti dari Forum Studi Media dan Komunikasi Politik Indonesia atau Formasi, Muhammad Taufik Rahman menyebut, kunjungan Sandi untuk memetakan dukungan dari Muhammadiyah.

“Pilpres 2019 sebenarnya bukan pertarungan Muhammadiyah lagi setelah Jokowi memilih Ma’ruf Amin. Ini jadi kontestasi PDI Perjuangan dan NU. Pilihan ini tentu berdampak pada Muhammadiyah,” ujar dia kepada Gatra.com, Jumat (31/8).

Selama ini Muhammadiyah dianggap memainkan high politic. “Keberpihakannya tidak ditampilkan secara terbuka, tetapi diaktualisasikan di belakang layar. Penjajakan ke Aisyiyah jadi jalan memutar mencari celah prospek suara dari ormas ini. Ada potensi elektoral besar,” kata Taufik  yang memperkirakan dukungan ormas ini mencapai 15-20 juta orang.

Menurut Taufik, “silaturahmi” ini, termasuk kabar bergabungnya ke PAN, tak lepas dari investasi politik Sandi. 

“Sandi puya proyeksi jadi capres 2024. Dia butuh kendaraan politik yang kuat. PAN butuh logistik yang cukup. Jika Sandi bisa gantikan peran seperti Sutrisno Bachir (pengusaha, mantan ketua umum PAN) dan PAN bisa kasih posisi kuat buat Sandi, saya kira sinyal ke sana kuat,” tuturnya.


Reporter: Arif Koes
Editor: Mukhlison

Mukhlison Sri Widodo
31-08-2018 10:57