Main Menu

Nyaris Jadi Cawapres, Mahfud: Saya Diatur Orang Istana

Bernadetta Febriana
06-09-2018 08:14

Mahfud MD (Dok. GATRA/Dharma Wijayanto/FT02)

Yogyakarta, Gatra.com - Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD kembali bicara blak-blakan soal kegagalan sebagai calon wakil presiden Joko Widodo di detik-detik akhir. 

 
“Terus terang saya sedikit kaget bahwa saya tidak jadi dipilih. Namun setelah bertemu dengan Presiden Joko Widodo dan paham situasinya, saya memahami serta menerima keputusan itu,” ujarnya di kampus Universitas Islam Indonesia, Sleman, DI Yogyakarta, Rabu (5/9).

 
Di kampus UII, Mahfud menjadi pembicara bersama mantan hakim Mahkamah Agung Artidjo Alkostar dalam dialog ‘Indonesia Merdeka, Indonesia Beradab’.

 
Setelah kegagalan itu dan kembali ke Yogyakarta, Mahfud bercerita dia memutuskan untuk tidak bicara ke media tentang cawapres. Menurut dia, soal cawapres adalah urusan penting bagi negara dan tidak layak dilokalisir hanya soal namanya.

 
Namun Mahfud mengatakan terpksa bereaksi saat muncul "negarawan-negarawan ‘nyinyir’", seperti Ketua Umum PPP Romahurmuziy, yang mengeluarkan isu bahwa tidak ada yang menjanjikan jabatan cawapres kepada dirinya. Mahfud juga dituding datang sendiri ke Jakarta menjelang pengumuman cawapres.

 
“Isu itu tidak benar. Sebelum pengumuman, saya dipandu sepenuhnya oleh orang-orang Istana (Negara). Bahkan jam berapa saya harus datang di Plataran dan nantinya harus ngomong apa saat jumpa pers, mereka yang atur,” ujarnya. Plataran adalah restoran tempat pengumuman cawapres Jokowi.

 
Untuk melawan isu tidak benar itu, Mahfud memutuskan harus berbicara kepada publik. Pilihannya jatuh melalui televisi yakni di acara Indonesia Lawyer Club. Dia menyatakan gembira bisa menjelaskan semuanya kepada publik.

 
“Setelah itu saya tidak bicara lagi ke publik, baru kepada anda (moderator dialog di kampus UII) saya bicara untuk kedua kalinya,” ujarnya.

 
Atas kegagalan ini, Mahfud menyatakan dia tidak marah dan jika marah ia tak tahu harus ditujukan kepada siapa. Saat itu, dia bilang tidak memiliki daya apa pun karena pembatalan sebagai cawapres itu sebuah keputusan politik.

 
 Mahfud mengibaratkan dirinya sebagai Khalid bin Walid di zaman kepemimpinan khalifah Umar bin Khattab. Menurutnya, saat meraih prestasi tertinggi karena memenangkan banyak perang, Khalid diberhentikan.

 
“Khalid berkata, bahwa saya tidak berperang demi atau untuk Umar. Saya berperang demi Allah. Saya juga berpikiran sama,” pungkasnya.


Reporter: Arif Koes Hernawan

Editor: Bernadetta Febriana 

Bernadetta Febriana
06-09-2018 08:14