Main Menu

Hasto: Capres Negarawan Harusnya Sampaikan Hal Positif, Bukan Merendahkan Bangsa

Bernadetta Febriana
12-10-2018 08:39

Hasto Kristiyanto (ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay/awy)

Jakarta, Gatra.com - Kedua kubu peserta pemilu presiden 2019 mulai saling melancarkan serangan. Tuduhan Prabowo Subianto bahwa sistem ekonomi Indonesia yang melebihi neo-liberal ditanggapi sinis oleh pihak TKN Jokow-Ma’ruf.

Menurut Hasto Kristiyanto, tuduhan Prabowo tersebut bukan evalusi kritis tapi cenderung otopis dan klaim sepihak tanpa dasar. 

“Sejarah mencatat, bahwa reformasi lahir karena koreksi atas sistem yang otoriter dimana ekonomi kekuasaan saat itu hanya didominasi kroni Soeharto. Pak Prabowo seharusnya paham hal ini,” kata Sekretrais TKN Jokowi-Ma’ruf ini.

Saat itu, lanjutnya, ekonomi kekuasaan ditopang oleh sistem otoriter. Dalam sistem itu mereka yang kritis dipenjara, bahkan diculik dan terkadang dimusnahkan. 

“Ketika terjadi krisis, kedaulatan negara digadaikan melalui Letter of Intent IMF, dan Pak Prabowo memahami hal ini dan segala akibatnya tidak bisa cuci tangan. Kami akan siap berdebat sekiranya yang disampaikan adalah konsepsi ekonomi Indonesia yang sesuai konstitusi yang selama ini terus diperjuangkan oleh Pak Jokowi,”sanggah Hasto.

Menurut Hasto, Prabowoharus paham bahwa dampak 32 tahun Ekonomi Kekuasaan juga membawa “keuntungan” bagi total kekayaannya saat ini. 

“Saya memastikan bahwa serangan Pak Prabowo ke Pak Jokowi tersebut akan menimbulkan serangan balik dari rakyat. Sebab pernyataan Pak Prabowo tersebut sama saja dengan menepuk air di dulang, terpercik muka sendiri,”kata Hasto.

Sekjen PDI Perjuangan tersebut sangat tidak rela sistem ekonomi saat ini disebut ekonomi kebodohan dan pada saat yang sama beretorika tentang “Make Indonesia Great Again”. 

“Serangan ekonomi kebodohan Pak Prabowo semakin menunjukkan bahwa Beliau pura-pura lupa dengan sejarah, lalu menimpakan hal tersebut sebagai kesalahan Presiden Jokowi. Padahal dari aspek elementer saja, Pak Prabowo tidak bisa membedakan antara penganiayaan dan operasi atau mark-up wajah,”sindir Hasto.

Bagi Hasto, itulah contoh dari kebodohan itu sendiri. “Capres negarawan seharusnya menyampaikan narasi positif untuk Indonesia Raya, bukan malah merendahkan martabat bangsa dan rakyatnya sendiri, dengan membodoh-bodohkan ekonomi bangsanya,”katanya.

Tindakan membangun infrastruktur secara masif, jaminan sistem kesehatan nasional, sertifikasi tanah rakyat, program kerakyatan melalui Kartu Indonesia Sehat dan Indonesia Pintar; pengambilalihan Freeport, Blok Rokan dan Blok Mahakam serta berbagai prestasi lainnya, bukanlah kebodohan. "Bagi kami, banteng-banteng PDI Perjuangan, konsepsi ekonomi Pak Jokowi justru mencerdaskan bangsa. Hanya orang-orang yang tertutup mata hatinya yang melihat segala sesuatu dari perspektif negatif,” kata Hasto.


Bernadetta Febriana

Bernadetta Febriana
12-10-2018 08:39