Main Menu

Definisi Kemenangan Harus Dirumuskan Jika Ingin Menjuarai Pertandingan Olahraga Internasional

Flora Librayanti BR K
11-08-2018 16:05

Ilustrasi olahraga. (Shutterstock/Warren Goldswain/re1)

Jakarta, Gatra.com - Sosiolog dan Pengamat Olahraga, Fritz E Simanjuntak mengatakan pemerintah harus merumuskan defining victory (defenisi kemenangan) jika ingin merintis prestasi olahraga di Indonesia. Misalnya mendefenisikan kemenangan dengan sasaran adalah kompetisi olimpiade seperti yang dilakukan China.

 

Bersamaan dengan defining victory tersebut, harus dibangun sarana prasarana infrastruktur di daerah-daerah yang diharapkan menjadi sentral dalam pembinaan olahraga. “Kedua hal ini baik defining victory dan sarana prasarana adalah kelemahan awal dari pemerintah kita. Tidak punya defining victory dan tidak punya sarana yang cukup,” kata Fritz di Jakarta, Jumat (10/8).

Sarana dan prasarana untuk olahraga ini harus dibangun di tengah masyarakat dan sekolah-sekolah. Sebab untuk menemukan bibit atlet muda berawal dari sekolah.
Hal yang ketiga yang tidak kalah penting adalah mengiatkan kompetisi rutin di masing-masing cabang olahraga. Pembinaan jangan hanya dilakukan saat hendak berkompetisi di Asian Games atau Sea Games misalnya. Harus ada kompetisi rutin di setiap cabor.

Kompetisi yang dilaksanakan menurut Fritz harus dibentuk menjadi kompetisi unggulan baik dari segi media maupun bisnis. Sebab dari kompetisilah uang tersebut bisa datang. Sebagai contoh Premier League di Inggris. Kendati belakangan klub-klub sepakbola Inggris selalu gagal memeroleh tropi Liga Champion, tapi kompetisinya menjadi yang termahal di dunia.

Fritz menyimpulkan untuk pembinaan dan mencetak atlet lapis setelah atlet unggulan dimulai dari sekolah ataupun perguruan tinggi. Indonesia harus mempunyai kompetisi berkualitas dari sejak dini di sekolah. “Inilah yang belum kita punya. Pemerintah memang terbatas dananya akhirnya hanya membiayai atlet elit saja yang dilakukan pada saat multievent seperti Asian Games atau Sea Games atau Olimpiade. Bukan pembinaan jangka panjang,” sebutnya.

Jika ingin merintis atlet berprestasi, pemerintah harus memberikan standar ukuran bagi masing-masing pengurus besar dari masing-masing cabor. Misalnya jika cabor ingin mendapatkan bantuan dana harus diberikan syarat-syarat yang harus dipenuhi. Alasannya, 90% pembinaan dalam olahraga itu hampir dikatakan tidak berhasil.

“Kita ambil contoh bulutangkis, Susi Susanti yang sampai sekarang tidak ada penggantinya. Atau Taufik Hidayat sudah 10 tahun. Kita hanya punya jagoan ganda dan hanya itu terus orang-orangnya. Begitu susah kondisinya,” katanya.

Contoh lainnya yang sederhana adalah Brazil sebagai negara raja sepakbola. Pada Piala Dunia 2014 mereka gagal dan dipermalukan Jerman dengan skor 7-1. Padahal di sana ada pemain kelas dunia. Pemain Jerman yang sukses jadi juara Piala Dunia 2014 keok di 2018 karena mereka sulit mendapatkan pemain muda.

"Itulah pentingnya kita melakukan pembinaan massal dan terencana karena tingkat kegagalannya tinggi. Jadi perlu investasi yang besar," pungkasnya.


 

Reporter : DPU
Editor : Flora L.Y. Barus

 

Flora Librayanti BR K
11-08-2018 16:05