Main Menu

Penerapan Iptek Olahraga Dinilai Belum Maksimal

Edward Luhukay
18-12-2014 23:50

Ilustrasi Olahraga Atletik (REUTERS/Lucy Nicholson)Jakarta, GATRAnews - Penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi olahraga (iptek) dalam menunjang performa atlet Indonesia belum diterapkan secara maksimal. Hasilnya prestasi atlet Indonesia dalam sejumlah ajang internasional, sulit untuk ditingkatkaan. Menurut Deputi IV Bidang Peningkatan Prestasi Olahraga Kementerian Pemuda dan Olahraga, Djoko Pekik Irianto, iptek olahraga yang berhubungan juga dengan riset dan teknologi, belum mendapat perhatian penuh dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara.

Hasilnya, saat masih menjadi pelatih fisik di sejumlah cabang olahraga, Djoko mengungkapkan, banyak atlet yang tidak mampu memenuhi kriteria standar yang ditentukan oleh tim kepelatihan, Contohnya, saat Djoko ikut dalam kepelatihan klub sepak bola Pro Duta FC beberapa tahun lalu.

"Saat itu saya temukan banyak pemain Pro Duta yang anemia, itu berarti kurang makan. Tapi bukan berarti mereka tidak makan, hanya saja mereka memakan makanan yang dimakan orang kebanyakan," ucap Djoko dalam rilis yang diterima GATRAnews, Kamis, (18/12).

Djoko menjelaskan, iptek olahraga memang tidak hanya terkait dengan pemanfaatan teknologi modern dalam meningkatkan performa atlet. Iptek olahraga juga mencakup nutrisi, fisioterapi, penangangan cedera, penelitian, psikologi, biomekanik, dan fisiologi terapan.

"Negara-negara maju sudah mulai serius mengimplementasikan iptek olahraga dalam fase pelatihan dan juga pertandingan. Atlet di siapkan seperti memasuki medan perang, selain ditempa pelatih, juga dibantu oleh ilmuwan yang bersinergi meningkatkan performa atlet," tambahnya.

Hal senada juga diungkapkan oleh Ketua bidang sport science Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) pusat, Zainal Abidin, dimana penerapan iptek olahraga dalam pusat pelatihan cabang olahraga di Indonesia masih sangat minim. Ia bahkan menyebutkan penerapan iptek olahraga tidak sampai 50%. "Dilihat dari penerapan tes berkala yang menentukan program latihan saja, masih belum secara holistik dijalankan. Misalnya saja dari segi rontgen, ECG (jantung), dan kimia darah masih belum dilaksanakan secara maksimal," tuturnya.

Di sisi lain, ketua Komite Media Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia M. Ikhwan Zain, menyoroti penanganan cedera bagi atlet indonesia yang juga bagian dari iptek olahraga. Saat ini menurutnya masih sedikit rumah sakit yang mampu melakukan rekonstruksi penangangan cedera.

"Adanya penanganan umum, misalnya saja cedera ligamen. Dokter bedah umum cenderung melakukannya secara umum, tapi dengan rekonstruksi bisa dilakukan pembedahan kecil dengan melubangi bagian tertentu dan melakukan operasi dengan kamera mini. Ini membuat cedera lebih cepat pulih," katanya.



Penulis: Wanto
Editor: Edward Luhukay {jcomments on}

Edward Luhukay
18-12-2014 23:50