Main Menu

Tercepat dan Melampaui Target

Tian Arief
17-11-2011 00:01

Atletik mencatat sejarah baru di arena SEA Games XXVI. Untuk pertama kali, dua sprinter Indonesia, Franklin Ramses Burumi dan Serafi Anelis Unani, menyandingkan medali emas di nomor bergengsi, sprint 100 meter putra dan putri. Perolehan medali emas di cabang atletik melampaui target. Indonesia berpeluang besar merebut juara umum.

Sabtu malam pekan lalu itu, Franklin dan Serafi secara mengejutkan menyandingkan medali emas di nomor lari 100 meter putra dan putri dalam ajang SEA Games XXVI. Franklin mencatat waktu 10,37 detik, mengalahkan sprinter Singapura, Yeo Foo (10,46 detik). Sprinter Thailand, Sondee Wachara, yang dijagokan karena pernah mengukir waktu 10,30 detik, tergusur ke tempat ketiga (10,46 detik). Adapun Serafi membukukan waktu 11,69 detik.

Di cabang atletik, nomor lari 100 meter merupakan nomor bergengsi, sedangkan mencari dan mencetak bibit sprinter tangguh tidaklah mudah. Setelah sprinter putra senior Suryo Agung Wibowo mundur dari tim SEA Games, Pengurus Besar Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PB PASI) pun tak berani menargetkan medali emas di nomor itu.

Dalam SEA Games XXV 2009 di Laos, Suryo mencetak rekor dengan waktu 10,17 detik, memecahkan rekor atas namanya sendiri pada SEA Games XXIV 2007 di Thailand (10,25 detik).

Begitu pula dengan nomor 100 meter putri, yang menjadi momok bagi PB PASI, sama sekali tak ada target emas. Maklum, setelah era Irene Joseph, peraih medali emas SEA Games 1999 di Brunei Darussalam, tak pernah ada lagi sprinter wanita Indonesia yang mampu meraih emas di ajang olahraga dua tahunan se-Asia Tenggara itu.

Praktis, perolehan dua medali emas di nomor bergengsi pada SEA Games XXVI, yang menempatkan Franklin dan Serafi sebagai pelari tercepat Asia Tenggara, itu adalah di luar dugaan.

Pada hari pertama pertandingan cabang atletik itu, bintang baru Rini Budiarti turut menyumbang medali emas di nomor 3.000 meter halang rintang putri. Sedangkan atlet andalan lari jarak jauh, Triyaningsih, mencatatkan diri sebagai langganan medali emas SEA Games, dengan menyabet emas di nomor 10.000 meter putri. Pada SEA Games 2007 dan 2009, Triyaningsih juga menggondol medali emas di nomor ini. Walhasil, pada Sabtu malam yang cerah itu, tim atletik berjaya dengan perolehan empat medali emas, empat perak, dan satu perunggu.

Prestasi di cabang atletik terus berlanjut pada laga berikutnya. Ahad lalu, tiga medali emas disikat lagi lewat Agus Prayogo di nomor 10.000 meter, Heru Astriyanto (nomor 400 meter), dan Ridwan (nomor 1.500 meter). Pada Senin lalu, Franklin kembali menyumbangkan medali emas di nomor lari 200 meter putra. Triyaningsih juga menyabet emas di nomor lari 5.000 meter putri.

Dengan demikian, Franklin maupun Triyaningsih sama-sama berhasil menyandingkan emas masing-masing di dua nomor bergengsi lari jarak pendek dan jarak jauh. Prestasi menyandingkan medali emas di cabang atletik ini juga diikuti Agus Prayogo pada hari kelima, Selasa lalu. Agus menyabet emas di nomor 5.000 meter putra. Pada hari yang sama, atletik menyumbangkan lagi satu medali emas nomor estafet 4 x 100 meter putra, sehingga total diperoleh 11 emas, plus "bonus" 12 perak dan 11 perunggu.

Sukses Indonesia mengunduh emas di cabang atletik diikuti keberhasilan di cabang-cabang bergengsi lainnya. Cabang dayung, yang dilangsungkan di Situ Cipule, Karawang, Jawa Barat, bahkan berhasil mempersembahkan dua medali emas pada hari pertama. Dua medali emas itu masing-masing diperoleh di nomor kano tunggal (C1) 1.000 meter oleh pedayung Eka Octarorianus dan nomor C2 1.000 meter oleh duet Eka Octarorianus bersama Anwar Tarra.

Bagi Indonesia, perolehan emas pada hari pertama itu --dari lima emas yang diperebutkan-- merupakan momen yang amat dinanti selama delapan tahun. Terakhir kali perolehan emas pada hari pertama oleh atlet Indonesia terjadi pada SEA Games 2003 di Vietnam lewat pemanah Rina Dewi Puspitasari. Setelah itu selalu nihil. Pada SEA Games 2007 di Thailand, medali emas pertama malah diperoleh 10 hari sejak medali emas pembuka diperebutkan.

Taufik Alwie, Andya Dhyaksa, dan Noverta Salyadi (Palembang)[Laporan Utama, Gatra Nomor 02/18 Beredar Kamis, 17 November 2011]

Tian Arief
17-11-2011 00:01