Main Menu

Mimpi Pebulutangkis Rehan/Fadia Menang di Olimpiade

Wanto
24-08-2017 22:23

Pasangan ganda campuran Rehan dan Fadia (pbdjarum.org/yus4)

Jakarta, GATRAnews - Pasangan pebulutangkis muda Indonesia di nomor ganda campuran, Rehan Naufal Kusharjanto dan Siti Fadia Silva Ramadhanti dipastikan tidak akan turun di kelas perorangan dalam mengarungi kejuaraan internasional berikutnya.

 
Hal itu disampaikan Nova Widianto salah satu pelatih ganda campuran PB PBSI. Menurutnya, selain untuk menggali banyak potensi, main di kelas single dirasa sudah tak mungkin bagi pasangan itu.
 
Justru, kelas single atau tunggal, menjadi pekerjaan rumah pelatih untuk mengorbitkan pemain baru. "Kalau buat balik ke single, sebenarnya tugas pelatih untuk mencari. Jadi kalau mereka mungkin sudah ke double dan campuran saja," terangnya dalam keterangan tertulis yang diterima wartawan, Rabu (23/8).
 
Seperti diketahui, Rehan/Fadia merupakan pasangan muda ganda campuran Indonesia yang baru saja meraih medali emas digelaran Asia Junior Championship (AJC) di Jakarta, Juli lalu.
 
Kesuksesan itu membuat keduanya diguyur bonus sebesar Rp60 juta oleh PB Djarum. Ketika ditanya mengenai kans main di level single atau perorangan, Rehan sendiri mengaku bahwa dirinya tidak begitu siap.
 
Pasalnya, sejumlah kejuaraan yang telah dilewati merupakan hasil dari kerja keras tim dengam main di nomor ganda. "Saya mungkin nggak bisa untuk main di single. Kaki juga sudah tidak kuat. Jadi mungkin hanya akan main di (nomor -red) ganda saja," ujar Rehan.
 
Senada diungkapkan Fadia. Atlet muda yang meniti kariernya di olahraga tepuk bulu sejak usia 6 tahun itu mengaku sudah nyaman main di nomor ganda. "Karena sudah bisa main mix double," terang dia.
 
Fadia justru berharap, dengan berpasangan bersana Rehan di level junior, dirinya mempunyai sebuah mimpi untuk meneruskan kesuksesan dari seniornya, yakni pasangan Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir.
 
"Kalau bisa secepatnya untuk menjadi juara dunia (di level -red) senior. Saya mau nyusul seperti Enci Butet (sapaan Liliyana Natsir -red)," kata Fadia.
 
Hal yang sama diucapkan rekanannya, Rehan. Remaja asal Yogyakarta itu termotivasi mendapatkan prestasi tertinggi ketika bertempur di level senior. Medali emas adalah sebuah impiannya ketika melangsungkan pesta olahraga terbesar dunia, Olimpiade.
 
Motivasi juga tak lepas karena faktor sang ayah bernama Tri Kusharyanto yang mampu menorehkan medali perak di ajang Olimpiade. "Yang jelas saya ingin mendapatkan medali lebih daripada ayah saya," timpal Rehan.


Reporter: Wanto
Editor: Arief Prasetyo

Wanto
24-08-2017 22:23