Main Menu

Susy Susanti Nilai 3 Aturan Baru BWF Beratkan Pemain

Iwan Sutiawan
24-02-2018 00:31

Ilustrasi (Shutterstock/FT02)

Jakarta, Gatra.com - Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi PP PBSI, Susy Susanti, menilai tiga aturan baru Badminton World Federation (BWF) atau Federasi Bulutangkis Dunia (BWF) sangat memberatkan pemain.

 

Ketiga aturan tersebut dilansir laman PBSI, Jumat (23/2), pertama; pemain elit harus bertanding minimal 12 turnamen dalam setahun, kedua; servis dari tinggi rusuk terbawah tiap pemain menjadi satu standard 115 cm dari permukaan lapangan, dan ketiga; kemungkinan perubahan sistem skor pertandingan dari reli poin 21 menjadi skor 11 poin dikali lima game.
 
Dalam sistem skor ini, game didapat pemain di poin 11. Seting terjadi pada kedudukan 10-10 dan maksimal game di angka 15. Jika terjadi kedudukan imbang 14-14, maka akhir game adalah 15-14.

Kemudian, perpindahan tempat pada game kelima ketika raihan angka mencapai 6 dan sesi coaching oleh pelatih diberikan maksimal dua kali dalam lima game tersebut.

Aturan ini skor 11x5 ini belum diputuskan secara resmi karena kemungkinan disiapkan untuk Olimpiade Tokyo 2020 mendatang atau dua tahun lagi jelang perhelatan akbar tersebut.

Menurut Susy, waktu 2 tahun tidaklah cukup bagi pemain untuk menyesuaikan diri dengan sistem skor baru tersebut. Dalam perubahan skor pindah bola (poin 15) menjadi reli poin (skor 21), butuh waktu empat sampai lima tahun untuk bisa diadaptasi total oleh pemain.
 
Kerena itu Susy menyayangkan karena selain butuh waktu yang panjang untuk adaptasi para pemain, juga saat penonton mulai terbiasa dan menikmati permainan dengan sistem skor reli poin, namun semua aturan itu harus kembali diubah.

Menurut Susy, perubahan yang sangat mendasar ini tentunya akan mengubah semua aspek dari seorang pemain, mulai dari cara main, pola main, program latihan, dan sebagainya.
 
"Penerapan skor 11 untuk persiapan Olimpiade 2020, waduh terlalu mepet. Perubahan skor 15 ke 21 saja empat sampai lima tahun penyesuaiannya. Sekarang saat orang sudah menikmati permainan bulutangkis poin 21, diubah lagi aturannya. Kami ingin tahu sebetulnya bulutangkis mau dibawa kemana?" ujarnya.
 
Menurutnya, badminton sudah populer dan kenapa tidak mempertahankan terlebih dahulu. "Kalau ada yang kurang, ditambah tapi tidak secara drastis," tandas Susy.


Editor: Iwan Sutiawan

Iwan Sutiawan
24-02-2018 00:31