Main Menu

PBSI Akan Kirimkan Surat ke BWF Soal 3 Aturan Baru Bulu Tangkis

Iwan Sutiawan
24-02-2018 01:13

Ilustrasi (Shutterstock/FT02)

Jakarta, Gatra.com - PBSI akan mengirimkan surat serta berdiskusi dengan pihak-pihak terkait soal 3 aturan baru dari Badminton World Federation (BWF) atau Federasi Bulutangkis Dunia (BWF). Langkah pertama adalah menyampaikan masalah ini dalam Konfederasi Bulutangkis Asia (BAC).


"Akan ada pertemuan dengan BAC bulan depan, kami akan diskusikan dengan negara lain, karena beberapa negara memang keberatan juga, bukan cuma Indonesia," kata Susy Susanti, Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi PP PBSI dalam laman PBSI, Jumat (23/2).

Menurut Susy, Indonesia harus berperan lebih aktif soal 3 aturan baru BWF karena banyak aturan yang sifatnya mendadak dan tidak ada pihak yang bisa menjelaskan secara detail apa tujuan aturan baru itu.

Adapun tiga aturan baru BWF, pertama; pemain elit harus bertanding minimal 12 turnamen dalam setahun, kedua; servis dari tinggi rusuk terbawah tiap pemain menjadi satu standard 115 cm dari permukaan lapangan, dan ketiga; kemungkinan perubahan sistem skor pertandingan dari reli poin 21 menjadi skor 11 poin dikali lima game.
 
"Mungkin saja akan ada pemungutan suara, saya harus cek lagi dengan tim hubungan internasional soal ini. Indonesia adalah salah satu negara yang dipandang di bulu tangkis, seperti Tiongkok, Korea, Denmark, Malaysia yang punya suara cukup kuat untuk memberikan masukan," kata Susy.
 
Susy juga menyampaikan, akan meminta penjelasan lebih mendalam soal aturan batasan servis yang akan mulai dicoba di All England 2018 BWF World Tour Super 1000. Beberapa ketentuan servis ini masih memiliki kekurangan yang dapat merugikan pemain, sehingga ia akan mempertanyakan hal ini dalam manager meeting All England nanti. Selain itu, waktu penerapan aturan juga dinilai terlalu mendadak bagi pemain untuk beradaptasi.
 
"Waktunya sempit [untuk adaptasi]. Ini mengubah kebiasaan selama puluhan tahun. Jadi tiap atlet harus mengukur lagi dan ada yang dirugikan ada yang diuntungkan," katanya.

Kalau yang postur tubuhnya kurang tinggi tentunya akan sangat diuntungkan. Sedangkan yang tinggi agak sedikit dirugikan dan ada plus dan minus untuk semua pemain. "Tetapi namanya aturan, kami mencoba untuk menanggapi positif dan menyesuaikan diri," ujarnya.
 
PBSI, lanjut Susy, menilai ada beberapa kelemahan dari aturan ini, di antaranya berapa jarak pasti antara hakim servis dengan alat pengukur, karena ini memengaruhi sudut pandang, servis atlet fault atau tidak.

"Kalau hakim matanya minus atau plus juga memengaruhi, tentunya kami tidak mau atlet kami dirugikan. Berapa ukuran standardnya, alatnya kan bisa dipindah-pindah, dari simulasi hari ini bisa terlihat semua," kata Susy.


Editor: Iwan Sutiawan

Iwan Sutiawan
24-02-2018 01:13