Main Menu

PBSI Mulai Latih Atlet Soal Servis Sesuai Aturan Baru BWF

Iwan Sutiawan
24-02-2018 01:57

Ilustrasi. (Dok. PBSI/FT02)

Jakarta, Gatra.com - PBSI mulai melatih para pemain untuk melakukan servis sesuai dengan ketentuan Federasi Bulutangkis Dunia (BWF) yakni batasan tinggi servis tiap pemain menjadi 115 cm dari permukaan lapangan.


Latihan tersebut seperti dilansir laman PBSI, Jumat (23/2), menggunakan alat pengukur tinggi servis. Aturan batasan tinggi servis ini mengharuskan saat pertemuan shuttlecock dan kepala raket (impact), tidak boleh lebih tinggi dari 115 cm.

Dalam latihan ini, PBSI secara khusus mendatangkan tiga wasit bersertifikat BWF untuk memberi arahan dan masukan kepada para atlet mengenai salah satu aturan baru BWF itu.

Ketentuan ini rencananya mulai dicoba dalam kejuaraan All England 2018 BWF World Tour Super 1000 yang akan berlangsung bulan depan. Latihan tersebut untuk mempersiapkan para atlet agar terbiasa dengan aturan baru meski BWF belum meresmikan ketentuan tersebut.

Salah satu wasit yang dilibatkan adalah Edy Rufianto. Dia sudah malang melintang bertugas sebagai wasit dan hakim servis di berbagai turnamen internasional. "Rata-rata kesulitannya adalah tangan kiri yang memegang shuttlecock, selalu mengangkat keatas pada saat akan memukul shuttlecock," katanya di Pelatnas Cipayung.

"Bisa saja sebelum servis, shuttlecock posisinya di bawah, tapi saat impact, tangannya ke atas, waktu mau memukul kebawah lagi. Ini mungkin terjadi, seperti servicenya Christinna Pedersen," ujar Edy

Edy menjelaskan, latihan ini untuk mengawasi servis apakah sesuai ketentuan baru atau tidak. "Mungkin awalnya ada pemain-pemain tertentu yang merasa dirugikan dengan aturan yang lama. Servisnya sering di-fault dengan batasan iga terbawah. Artinya, sesuai dengan antropometri si atlet. Kalau atletnya tinggi seperti [Mads Pieler] Kolding, ya berarti otomatis rusuk terbawahnya juga tinggi. Rusuknya dia akan sedada orang lain, misalnya Kevin [Sanjaya Sukamuljo] yang tidak terlalu tinggi," kata Edy.
 
Edy menilai aturan baru ini kurang menguntungkan bagi pemain berpostur tinggi. Namun menguntungkan untuk pemain berpostur tidak terlalu tinggi seperti mayoritas pemain Indonesia. Ukuran 115 cm ini dianggap sebagai batas aman bagi pemain untuk melakukan servis tinggi (flick servis), bahkan mereka yang tinggi sekalipun.
 
"Greysia [Polii] saya ukur rusuk terbawahnya itu ketinggiannya 112 cm, artinya dia diuntungkan tiga cm lebih tinggi dari aturan yang lama. Servisnya dia bisa naik lagi tiga cm," katanya.

Edy juga menjelaskan bahwa dalam poin 9.13 aturan mengenai servis yang mengharuskan batang dan kepala raket harus mengarah ke bawah pada saat servis, sekarang ini tidak diberlakukan. Dengan kata lain, pemain bisa bebas melakukan servis seperti apa pun asalkan impact-nya tidak lebih dari 115 cm.
 
"Jadi karakter permainan bulu tangkis memang sudah bergeser. Sebelumnya di bulu tangkis, servis itukan awal dimulai permainan, kalau di tenis jadi awal serangan. Kalau sekarang bisa jadi servis di bulu tangkis itu awal serangan juga," ujar Edy.
 
Menurutnya, saat ini tidak ada batasan batang raket dan kepala raket di bawah, sehingga bisa saja Kevin servis drive untuk menyerang. "Untuk pemain seperti Kevin, Marcus [Fernaldi Gideon], Apriyani [Rahayu], aturan ini justru menguntungkan, buat yang berpostur tinggi, ini bisa jadi bencana," katanya.


Editor: Iwan Sutiawan

Iwan Sutiawan
24-02-2018 01:57