Main Menu

Aturan Servis Baru BWF, Herry: Harus Ada ’’Hawk Eye’’

Iwan Sutiawan
13-03-2018 12:35

Ilustrasi. (GATRA/Adi Wijaya/FT02)

Jakarta, Gatra.com - Kepala Pelatih Ganda Putra PBSI, Herry Iman Pierngadi, mengatakan, pihaknya akan segera mencari cara agar servis sesuai aturan baru BWF dan tidak lagi merugikan para pemain di lapangan, khususnya di sektor ganda. Pihaknya mengusulkan harus ada "hawk eye".


"Ini merugikan untuk semua pemain, khususnya ganda. Kita harus mencari solusinya. Jangan sampai kita terlalu lama menyalahkan aturan baru ini, bagaimanapun juga, aturan ini harus dijalani dan kita harus beradaptasi," katanya dikutip dari laman PBSI, Selasa (13/3). 

Herry usai German Open 2018 di Jerman, menyampaikan, ajang ini  merupakan mulai uji coba penerapan aturan baru tersebut. Namun menurutnya, semua kembali kepada hakim atau wasitnya, karena bisa saja kemenangan itu ditentukan service judge.

Hal itu, lanjut Herry, seperti yang menimpa Fajar. Servisnya dari babak pertama sampai semifinal German Open itu dinyatakan aman. "Tetapi kenapa di final bisa disalahkan sampai lima kali? Saya lihat posisinya servisnya sama, tingginya sama, semua sama, tapi service judge beda orang," ujarnya. 
 
"Jadi, yang menentukan itu service judge, peluang human error juga besar. Kalau perlu ada hawk eye juga. Jadi kalau dinyatakan salah, kita bisa challenge dengan bukti yang jelas, ada rekaman, otentik dan bisa dipertanggungjawabkan, ini lebih fair. Kalau sekarang kan penilaian sesaat saja, yang tahu hanya service judge dan Tuhan, dan keputusan ini mutlak, tidak bisa diprotes," katanya. 
 
Meski demikian, Herry mengaku tetap otimistis ganda putra Indonesia bisa meraih gelar di All England tahun ini. "Optimis tetap dong, tetapi disayangkan drawing-nya kurang menguntungkan untuk Indonesia. Masukan buat BWF, kalau turnamen penting seperti All England, ada baiknya proses drawing itu disiarkan langsung via live streaming atau ada saksi," katanya. 
 
Misalnya, seperti di beregu, pengundian (drawing) manual dan bisa dilihat semua orang. "Jadi kalau draw-nya sudah begitu dan masih ketemu sesama Indonesia, ya namanya nasib. Kalau pun drawing menggunakan komputer, ada baiknya bisa disaksikan, kan jauh lebih fair, ini menurut pemikiran saya," katanya. 

Sedangkan saat ditanya soal siapa ganda putra yang akan mewakili tim Indonesia di Piala Thomas, Herry mengatakan, bahwa semua tentunya ingin masuk dalam skuat untuk mewakili Indonesia.

"Semua juga mau masuk tim Thomas, main di Asian Games, mau juara, termasuk Fajar/Rian. Ya, Fajar/Rian harus buktikan, saya melihat bukan cuma ambisi dari omongan saja, tetapi dari hasil, apa yang mereka lakukan di pertandingan, saya bisa menilai. Saya sudah punya patokan, sudut pandang, kira-kira siapa sih yang akan masuk, siapa yang tidak masuk," katanya.


Editor: Iwan Sutiawan

Iwan Sutiawan
13-03-2018 12:35