Main Menu

Hafiz/Gloria dan Praveen/Debby Terhenti di Perempat Final All England

Iwan Sutiawan
17-03-2018 12:26

Dua ganda campuran Indonesia, Hafiz Faisal/Gloria Emanuelle Widjaja dan Praveen Jordan/Debby Susanto.(Dok.PBSI/re1)

Birmingham, Gatra.com - Dua ganda campuran Indonesia, Hafiz Faisal/Gloria Emanuelle Widjaja dan Praveen Jordan/Debby Susanto, terhenti di babak perempat final All England 2018 BWF World Tour Super 1000 yang digelar di Arena Birmingham, Inggris, Jumat (16/3) waktu setempat.


Hafiz/Gloria seperti dilansir laman PBSI, Sabtu (17/3), gagal melangkah ke semifinal setelah dikalahkan pasangan Tiongkok, Zhang Nan/Li Yinhui, dalam pertarungan sengit tiga game dengan skor 14-21, 21-18, 18-21. 

Sementara perjuangan Praveen/Debby terhenti setelah menelan kekalahan dua game langsung dengan skor 16-21, 15-21 dari wakil Denmark, Mathias Christiansen/Christinna Pedersen.

Hafiz/Gloria menyampaikan, pihaknya kurang fokus di poin-poin kritis yang menjadi faktor kekalahan di laga perempat final ini. "Intinya, kami kurang kuat tahan fokus di akhir-akhir, seharusnya kami bisa menahan unggul satu demi satu poin dan lebih tenang. Bukannya menekan malah keenakan mainnya. Jadi terbalik posisinya," ujar Hafiz.

Pasangan asal Tiongkok itu banyak mengarahkan bola atas kepada Hafiz. Secara permainan, Hafiz/Gloria bisa mengikuti permainan lawan. Namun mereka tidak stabil dalam laga tersebut. Pengalaman Mathias Christiansen/Christinna Pedersen membuat mereka sangat tenang di poin-poin kritis.

"Lawan juga lebih ketolong sama pengalaman, saat poin genting mereka lebih tenang, kami belum bisa kuasai keadaan," kata Hafiz. 

Gloria menimpali, "Memang saat finishing, fokus kami kurang. Sebetulnya lawan juga mulai kendor, tetapi tadi ya kuat-kuatan fokus saja," ujarnya.

Atas kekalahan ini, Hafiz/Gloria, akan lebih giat lagi berlatih agar bisa meraih hasil maksimal di setiap turnamen serta bisa menjadi penerus seniornya, Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir yang sempat mereka kalahkan di turnamen ini.

"Mudah-mudahan bisa jadi penerus Tontowi/Liliyana. Mereka tekun, kalau latihan, tiap program mereka habiskan. Kalau kami mau bagus seperti mereka, ya kami harus lebih dari itu, di setiap latihan usahakan maksimal habiskan program, kalau masih ada tenaga, tambahan sendiri," ujar Hafiz. 

Gloria menyampaikan harapan senada. "Berharap sih pasti jadi penerus mereka [Tontowi/Liliyana], di saat ada kesempatan kami harus pergunakan. Dari kesempatan kami bisa ambil atau tidak," ujarnya.

Sementara Praveen/Debby menyampaikan, pihaknya sudah melakukan yang terbaik untuk kembali menjadi juara All England seperti dua tahun silam. Namun permainan pasangan Denmark sangat bagus.

"Kami sudah coba yang terbaik dan berusaha semaksimal mungkin, mereka memang bagus. Dibanding dengan [Joachim Fischer] Nielsen, Christiansen lebih lincah, larinya cepat, mungkin karena Fischer lebih tinggi," kata Praveen. 

Debby menimpali, bahwa pasangan Denmark itu mainnya lebih rapi dan jarang melakukan kesalahan sendiri. "Kalau untuk kesiapan, kami sama-sama siap. Kami juga merasa dirugikan dengan keputusan hakim servis, apalagi saya, batas tingginya kan sedada saya, sudah servis tennis itu kalau sedada. Sementara lawan mau servis lob atau seperti apa pun servisnya, tidak ada yang dinyatakan fault,"
ungkapnya. 

"Ini sedikit memengaruhi kami, walau bagaimana pun juga, kami merasa dirugikan. Apalagi terjadi di saat poin yang dibilang krusial, lagi ramai permainannya," kata Debby, menambahkan. 

Usai All England 2018, Praveen dan Debby sama-sama kembali ke pasangan main masing-masing. Praveen bersama Melati Daeva Oktavianti, sementar Debby bersama Ricky Karanda Suwardi. 

"Back to reality ya? ha ha ha. Mungkin seperti itu [kembali ke pasangan masing-masing]. Ke depannya seperti apa kan kita tidak tahu keputusan pelatih. Tetapi sementara ini ya ke pasangan masing-masing," kata Debby. 


Editor: Iwan Sutiawan

Iwan Sutiawan
17-03-2018 12:26