Main Menu

Setelah Kekalahan 2014, di Piala Dunia 2018 Tite Merombak Skuad Brasil

G.A Guritno
13-06-2018 22:32

Skuad tim Brasil 2018 (REUTERS/Andrew Yates/yus4)

Brasil, Gatra.com - Brasil adalah tim paling sukses di Piala Dunia, dengan lima kali sebagai juara. Namun sebagai tuan rumah 2014, mereka tersingkir di semifinal secara menyakitkan. Kalah telak dari tim Jerman dengan skor 1-7. Sejak itu, tim Brasil telah dibangun kembali.

 

Saat semifinal Piala Dunia 2014 itu, alih-alih permainan yang indah, justru tim Samba pada babak pertama sudah takluk 0-5 dari Jerman. Menit-menit kekalahan itu sampai dijuluki Brasil Mineiraço ("bencana di stadion Mineirão").

Usai babak pertama, manajer Jerman, Joachim Löw mengatakan kepada timnya bahwa itu terlalu menyakitkan dan mereka harus mulai bermain lebih buruk. “Saya tidak ingin ada orang yang membodohi orang Brasil di depan jutaan penonton,” kata dia kemudian.

Meskipun ada instruksi Löw, Jerman mencetak dua gol lagi di babak kedua. Brasil akhirnya dapat mencetak gol hiburan pada menit ke-90, yang dilesakkan oleh gelandang serang Brasil, Oscar.

Sejak kekalahan menyakitkan itu, menurut Tom Wheeldon seorang pengamat bola, perubahan besar pada tim nasional (timnas) Brasil telah dilakukan. Manajer baru Tite (Adenor Leonardo Bacchi) diangkat sebagai pelatih timnas pada Juni 2016. Ia telah dua puluh lima tahun memimpin beberapa klub Brasil.

Tite telah memindahkan Brasil kembali ke gaya bermain menyerang cepat yang indah, menggantikan pendekatan lebih lambat yang terbukti gagal pada 2014. Perombakan itu, sejauh ini nampak berhasil. Brasil telah melalui 10 kemenangan dalam 12 pertandingan kualifikasi untuk menjadi negara pertama yang mendapatkan tiket ke Piala Dunia.

Tite tidak hanya membawa Brasil kembali ke taktik masa lalunya, ia juga telah membuat beberapa perubahan penting bagi personel. Di formasi awal tim 2014, hanya Neymar pemain depan yang bermain untuk klub papan atas yang dibawa.

Dua striker lainnya, yakni Fred dan Hulk - masing-masing dari Fluminese dan Zenit Saint Petersburg ditinggalkan. Dan kini tim tidak lagi tergantung pada Neymar.

Tite membawa bakat baru yang mengesankan, yaitu: Roberto Firminho dari Liverpool dan Philippe Coutinho dari Barcelona. Mereka berdua tidak ada di skuad Piala Dunia 2014 Brasil.

Firminho adalah bagian penting dari tim Liverpool yang mencapai final Liga Champions 2017-18. Manajer klub Jurgen Klopp menggambarkannya sebagai "mesin"-nya. Dia menunjukkan keterampilan yang sama untuk negaranya dalam pertandingan persahabatan 3 Juni melawan Kroasia, mencetak gol kedua dalam kemenangan Brasil yang menentukan.

Coutinho juga memainkan peran yang kuat dalam permainan itu, memberikan bantuan untuk gol Neymar. Musim ini mengesankan secara statistik, ia mencetak 8 gol dalam 18 penampilan sejak ia bergabung dengan Barcelona dari Liverpool pada Januari 2018.

Kehadiran Coutinho, cukup meredakan kekhawatiran tentang kebugaran Neymar di Piala Dunia, setelah cedera pergelangan kaki saat bermain untuk PSG di bulan Februari.

Selain tiga penyerang itu, ada Gabriel Jesus yang diprediksi bakal bersinar di Piala Dunia Rusia. Striker Manchester City 21 tahun itu telah mencetak 20 gol dalam 39 penampilan untuk klubnya sejak bergabung pada tahun 2017, dan 9 gol dalam 16 pertandingan untuk timnas Brasil.

Untuk lini pertahanan, Tite membuat beberapa modifikasi penting. David Luiz - bek tengah dan kapten yang tampak tidak berdaya menghadapi serangan gencar Jerman dalam duel semi final Piala Dunia 2014 - tidak pergi ke Rusia.

Kali ini, posisi bek tengah pilihan pertama Tite adalah Marquinhos, 24 tahun setelah penampilan yang solid untuk PSG. Ia akan bersama Miranda dari Internatiozale yang sudah berusia 33 tahun. Miranda di musim 2017-18 membawa klubnya ke kualifikasi Liga Champions dalam enam tahun.

Di belakang keduanya adalah penjaga gawang Roma, Alisson yang menjadi kunci melajunya Roma ke semifinal Liga Champions 2017-18. Dia tidak kebobolan satu gol pun di kandang dalam kompetisi Eropa sampai klub tersingkir di babak kedua terakhir. Kelas Alisson jelas di atas kiper pilihan pertama Brasil di Piala Dunia 2014, Júlio César.

Bagaimana kans Brasil di Piala Dunia 2018. Brasil difavoritkan memimpin Grup E, melawan Serbia, Swiss, dan Kosta Rika. Jika mereka memenangkan grup, mereka akan menghadapi runner-up dari Grup F. Jika Jerman juara Grup F, bisa jadi Meksiko atau Swedia yang menjadi lawan Brasil berikutnya.

Jika Brasil lolos ke final, Spanyol atau Jerman dipandang sebagai lawan mereka yang paling mungkin. Pertandingan Brazil-Spanyol akan menjadi pertarungan dua tim yang berusaha mengembalikan kejayaan mereka setelah gagal pada Piala Dunia 2014. Spanyol kalah 5-1 dari Belanda di pertandingan pembuka mereka dan gagal maju dari babak penyisihan grup.

Jika Brasil bertemu Jerman, maka pertandingan ini akan menjadi ajang balas dendam. Atau bisa jadi akan menjadi pembenaran tentang definisi sepak bola untuk Jerman dari pemain legendaris Inggris Gary Lineker: “Sepak bola adalah permainan sederhana. Dua puluh dua orang mengejar bola selama 90 menit dan pada akhirnya, Jerman selalu menang.”

Editor: G.A. Guritno

G.A Guritno
13-06-2018 22:32