Main Menu

Dirut Persija: Buat Aturan Jerakan Klub dan Suporter

Iwan Sutiawan
26-09-2018 00:22

Direktur Utama Persija Jakarta, Gede Widiade. (INASGOC/Ary Kristianto/FT02)

Jakarta, Gatra.com - Direktur Utama (Dirut) Persija, Gede Widiade, mengatakan, harus dibuat aturan baru yang membuat jera suporter dan klub untuk mencegah terulangnya kematian suporter. Kasus meninggalnya Jakmania, Harlingga Sirla (23 tahun), harus menjadi insiden terakhir.

 

"Efek jera ini tidak pernah diberikan kepada suporter dan klub. Hukuman apapun jika tidak membuat jera klub sama suporter, ya enggak masalah [tidak timbulkan jera]," katanya dalam ILC TvOne bertema "Aduh, Suporter Bola" di Jakarta, Selasa malam (25/9).

Menurut Gede, jikapun misalnya klub didenda dengan hukuman membayar denda misalnya Rp5 miliar, ini juga tidak membuat efek jera, karena bagi tim yang mempunyai uang, akan langsung membayarnya dan tidak menyelesaikan masalah ke depan.

"Hukum Rp5 miliar kepada Persija, Persib, Persibaya, dibayar besok, kalau dibebankan ke tim di daerah mereka megap-megap karena tidak punya duit," ujarnya.

Karena itu, harus ada suatu hukuman yang membuat jera baik klub maupun suporter. Karena itu, semua pihak harus yang terlibat termasuk klub harus diajak bicara dan tidak boleh diputuskan searah. "Ajak kami [klub] bicara, ajak semua bicara, apa yang ditakutkan oleh suporter dan klub," ujarnya.

Misalnya, apakah Persija takut dikenakan sanksi yakni harus bermain di luar pulau atau tidak kandang dan tanpa penonton, menurutnya, ini tidak membuat jera karena Persija tidak punya stadion.

Namun bagi klub lain, misalnya Persib, Persibaya, Arema, Bali United, dan lain-lain sanksi di atas mungkin menakutkan bagi klub. Karena itu semua pihak harus duduk bersama untuk merumuskan aturan yang membuat jera klub dan supoter sehingga tidak melakukan hal-hal negatif.

Gede juga menggarisbawahi soal pernyataan Badan Olahraga Profesional Indonesia (BOPI) yang meminta agar Liga 1 Indonesia dibekukan selama sepekan dan Menpora Imam Nahrawi menyatakan agar dihentikan dua pekan bukan suatu solusi.

"Emang mudah pemberhentian tidak semudah itu, gimana gajinya, jangan putuskan karena emosional. Menurut saya, yang paling penting rumuskan besok, ke depan kalau terjadi lagi hukumannya down grade, atau 1 tahun tidak boleh main di kota tanpa penonton," katanya.


Iwan Sutiawan

Iwan Sutiawan
26-09-2018 00:22