Main Menu

Proyek Kontruksi dan Nilai Rupiah Melemah

Birny Birdieni
11-09-2018 15:20

Ilustrasi - Proyek konstruksi (GATRA/Adi Wijaya/FT02)

Artikel Terkait

Jakarta, Gatra.com- Beberapa hari terakhir ini, cukup ramai pembahasan tentang beberapa proyek konstruksi dalam hal ini proyek infrastruktur yang berpotensi ditunda. Ini karena semakin melemahnya nilai rupiah akan US$.

 

Apakah kita setuju dengan hal ini?
Jawaban saya tegas "tidak setuju"....!!!!

Beberapa hal penting kajian kritis saya tentang hal ini, yaitu:

Satu, kondisi perekonomian Indonesia saat ini masih terkendali. Indikator hal ini dapat kita cermati secara Makro dan Mikro.

Secara Makro, tidak hanya negara Indonesia yang terdampak menguatnya Nilai US$. Beberapa negara lain juga tercatat menurun nilai mata uangnya terhadap nilai mata uang Dolar US$.

Selain itu, secara makro internasional, belum ada pernyataan kondisi "economy gap" yang kritis yang berdampak krisis ekonomi global.

Secara mikro, Pemerintah belum menyatakan terbuka tentang krisis ekonomi di tengah nilai 1US$ tembus di angka Rp 14.700. Selain itu, hal tentang ekonomi mikro di seluruh daerah di Indonesia juga tercatat masih terkendali.

Kedua, proyek infrastruktur adalah "Komitmen Negara Indonesia" bukan saja "Komitmen Pemerintah". Oleh karena itu seluruh elemen bangsa Indonesia harus berkomitmen mendukung program ini.

Saya juga percaya bahwa Proyek Infrastruktur berbasis "Perencanaan" yang sudah dikaji dari awal. Pemerintah sudah lebih dulu mengidentifikasi berbagai potensi risiko yang mungkin terjadi termasuk melemahnya nilai Rupiah.

Pemerintah sudah lebih dulu menganalisis dan mampu mengambil tindakan korektif terhadap melemahnnya Nilai Rupiah.

Ketiga, dalam prinsip "Kontrak Konstruksi" sebagai proses pengalihan risiko, saya juga yakin bahwa risiko melemahnya Nilai Rupiah sudah diprediksi dari awal proyek. Proyek Konstruksi sebagai Investasi, tidak akan dibiarkan berhenti.

Ini komitmen. Walaupun Indonesia masih bergumul dengan Form of Contract, acuan kontrak yang digunakan di Indonesia mampu mengalihkan risiko.

Jadi secara optimis, saya masih percaya Proyek Konstruksi dalam hal ini, Proyek Infrastruktur di Indonesia belum dipengaruhi oleh Nilai Rupiah yang melemah terhadap US$.

Respon Pemerintah yang cepat untuk mengurangi impor, meningkatkan jumlah ekspor untuk memperkuat nilai Rupiah, dan budaya kita yang pro Rupiah, akan mampu mengoptimalkan keberlanjutan penyelenggaraan proyek infrastruktur di Indonesia.

Respon Pemerintah yang juga merevisi Proyek Strategis Nasional adalah berfokus tentang "prioritas". Mengutamakan ekspor daripada impor, hal itu adalah "prioritas".

Jadi jika ada beberapa proyek non infrastruktur didahulukan penyelesaiannya dibandingkan Proyek Infrastruktur, hal itu juga tentang prioritas bukan berarti ditunda.


Prof. Dr. Manlian Ronald. A. Simanjuntak, ST., MT., D.Min

(Guru Besar dan Ketua Program Studi S2 T. Sipil Konsentrasi Manajemen Proyek Konstruksi Universitas Pelita Harapan)

Birny Birdieni
11-09-2018 15:20