Main Menu

Ketika Wanita Iran Dilarang Menonton Sepakbola

Sandika Prihatnala
20-06-2018 11:02

Ilustrasi wanita Iran (Tasnim News Agency/via REUTERS/yus4)

Jakarta, Gatra.com - Di negeri para mullah, wanita tidak punya keleluasaan dalam menyaksikan pertandingan sepakbola maupun tempat olahraga lainnya. pemerintahan Iran melarang para wanita untuk masuk ke stadion atau olahraga khusus pria sejak revolusi Islam 1979.

Namun, saat piala dunia 2018 berlangsung di Rusia, stigma itu hilang. Kala timnas Iran bertanding melawan Maroko, kamera televisi nampak berulang kali menyorot kehadiran fans wanita pendukung Iran. Baik yang berkerudung atau tidak, fans wanita itu terlihat bahagia kala menonton tim kesayangannya berlaga.

Tak sia-sia mereka datang. Timnas kebanggannya itupun menang lawan Maroko 1-0 pada menit akhir pertandingan melalui gol bunuh diri pemain lawan.

Kehadiran para wanita Iran didalam pertandingan sepakbola dianggap tabu dan tidak pantas di Iran. Bahkan karena ada anggapan dan aturan pelarangan sejak revolusi Islam 1979 itu, mereka yang nekat ingin menyaksikan pertandingan sepakbola terpaksa menyamar menjadi pria. Ada yang memakai kumis palsu, rambut palsu, dan sebagainya demi menonton sepakbola.Foto – foto semacam itu tersebar di dunia maya dan menimbulkan simpati.

Penolakan sempat muncul kala Iran bertanding lawan Maroko. Supporter Iran membentangkan poster bernada protes bertuliskan “#NoBan4Women” dan “Mendukung Wanita Iran Menghadiri Stadion”. Di Ibukota Teheran, bahkan sempat terpasang sebuah baliho raksasa yang diprotes warga karena tidak memasang foto satu wanita pun sebelum akhirnya baliho itu diturunkan dan diganti baliho yang ada foto wanitanya.

Baliho bertuliskan “Bersama-sama, kami juara. Satu bangsa, satu detak jantung” itu dipasang sebuah perusahaan guna mendukung timnas Iran di Piala Dunia 2018. Baliho itu menggambarkan sekitar 15 orang yang nampak bersemangat memegang trofi emas. Memajang foto pemain sepakbola dan warga sipil yang beberapa memakai jas, dan pakaian tradisional. Keragaman terlihat dari warna kulit yang berbeda dan rambut yang berbeda.

Sayang, karena pada kenyataannya ketiadaan wanita dalam baliho itu memicu kemarahan di social media. Saking kesalnya beberapa wanita Iran mengubah gambar untuk memasukkan wajah wanita dan kemudian mempostingnya ke media sosial.

"Kami melihat bahwa itu kekurangan wanita, jadi kami memutuskan untuk menambahkan beberapa diri," kata postingan wanita di twitter, dikutip dari The Observer.

Setelah diusut, perusahaan yang mendesain baliho itu disebut “House of designers of Islamic Republic”. Mereka dikenal karena membuat poster yang menentang politik Presiden Hassan Rohani yang dikenal moderat. Mereka juga diketahui punya hubungan erat dengan garda revolusi. Iklan kontroversial seperti ini, bukan yang pertamakali.

Nah, ketika wanita Iran berhasil menonton pertandingan sepakbola di RUsia, tergambar betapa bahagianya mereka.

“Ini pertama kalinya saya sebagai perempuan Iran berada di stadion. Saya sangat gembira,” kata Nazanin, dikutip dari The Associated Press.

Upaya menghilangkan aturan pelarangan bagi wanita menonton sepakbola pernah disuarakan kapten Iran Masoud Shojei yang pernah bermain selama tiga kali piala dunia membela Iran. Ia ingin agar larangan itu diakhiri. Hal senada juga diungkapkan Ali Karimi, pemain Iran yang sempat berseragam time lit Jerman, Bayern Munchen. Namun, pemerintah Iran rupanya tidak bergeming.


Editor : Sandika Prihatnala

 

Sandika Prihatnala
20-06-2018 11:02