Main Menu

Kejawen Banyumas Rayakan Idul Fitri pada Selasa

Nur Hidayat
28-06-2017 11:58

Penganut kejawen melakukan ritual ‘selametan’ di Pasemuan atau tempat ibadah (GATRAnews/Ridlo Susanto)

Banyumas, GATRAnews - Berbeda dari pemerintah atau Ormas Islam besar tanah air, seperti NU dan Muhammadiyah yang menetapkan Hari Raya Idul Fitri 1438 H tiba pada Minggu (25/6) kemarin, ribuan penganut Islam Kejawen di Kabupaten Banyumas Jawa Tengah merayakan Idul Fitri pada hari Selasa (27/6).

“Tahun ini merupakan tahun Za sehingga perhitungannya menggunakan rumus Waljiro, Siji Loro. Di Tahun Za, itu, hari Riyaya (Hari Raya) jatuh pada hari Selasa. Sementara hari pasaran kedua adalah Pon sehingga Idul Fitri 1 Syawal tiba di hari Selasa Pon,” jelas Humas Tetua Tetua Komunitas Adat Panembahan Bonokeling Kecamatan Jatilawang Kabupaten Banyumas, Sumitro, Senin (26/6).

Perhitungan juga dilakukan untuk menentukan 1 Ramadhan kemarin yang menggunakan rumus Sanemro. Sa diartikan sebagai Selasa yang tahun ini jatuh di hari pasaran Pon, Nem berarti enam menilik jumlah hari, dan ro merupakan pertanda rangkap.

1 Ramadhan tiba pada Hari Minggu Pon (27/6) sebulan lalu. “Dalam perhitungan qomariyah, pergantian hari terjadi pada saat surup serngenge atau tenggelamnya matahari. Sehingga 1 Syawal akan tiba pada Senin petang,” ujarnya. Hari Raya Idul Fitri dalam sebutan komunitasnya disebut sebagai Hari Riaya. “Hari Raya Idul Fitri disebutnya Riaya,” imbuhnya.

Ritual Riaya akan dimulai dengan bekten atau berziarah ke makam Bonokeling. Lantas, anak putu akan berkumpul untuk menggelar ‘selametan’ di kelurahan dipimpin Kyai Kunci. Setelah itu, anak putu akan bersalam-salaman (bekten) ke tetua adat dan orang yang dituakan. “Sebagaimana ritual, lain anak putu juga harus menggunakan busana adat yakni sarung batik, baju hitam dan menggunakan ikat kepala,” ungkapnya.

"Itu 1 Syawal. Kalau tahun-tahun kemarin itu berurutan (dengan pemerintah), berurutan harinya. Kalau sekarang kan selang sehari. Kemarin kan mulai puasanya hari Minggu. Selesainya ini Selasa Pon. Menurut perhitungan di sini, waljiro, siji loro. Tanggalnya tahun Za itu, hari Selasa Pahing. Jiro itu Satu, Selasa, keduanya itu Pahing Pon. Jadi Selasa Pon. Menurut penanggalan di sini itu perhitungannya seperti itu,” jelas Sumitro, Senin (26/6).

Lebih lanjut Sumitro mengatakan Pada Idul Fitri Pemerintah Minggu (25/6/2017) komunitasnya juga turut merayakan dengan bersilaturahmi kepada tetangga sekitar. Namun, sesuai adat, komunitas kejawen juga memiliki Riaya sendiri yang akan tiba Selasa besok. “Satu Syawal-nya kalau di Bonokeling itu hari Selasa,” jelasnya.

Menurut dia, kalender aboge juga digunakan oleh beberapa kelompok Islam Kejawen lainnya di Banyumas dan Cilacap. Sebab, rumusnya sama. “Sama. Kejawen ya memakai kalender Aboge. Riayanya sama di hari Selasa Pon,” tandasnya.

Menurut Sumitro, sistem perhitungan Aboge adalah kalender berdasar pada rotasi bulan mengelilingi bumi atau Kalender Qomariyah, yang juga digunakan pada kalender Hijriah. Bedanya dengan penanggalan Qomariyah yang biasa menjadi pedoman umat Islam umum, Aboge mengenal kalender sewindu atau delapan tahunan.

Tahun dalam kalender sewindu itu memiliki nama-nama tersendiri, yaitu Taun Alif, Ha, Jim Awal, Za, Dal, Ba/Be, Wawu dan Taun Jim Akhir. “Jadi tiap sewindu sekali, tahun akan kembali ke awal sehingga kadang-kadang hari besarnya sama dengan hijriah. Tapi kadang juga selang sehari, lebih cepat atau lebih lambat,” pungkasnya.


Repoter: Ridlo Susanto

Editor: Nur Hidayat

Nur Hidayat
28-06-2017 11:58