Main Menu

Tuduhan Manuver Manajemen Muamalat (Bagian II)

Nur Hidayat
04-10-2017 16:05

Ilustrasi (Dok. gatrafoto/Abdul Malik/AK9)

Jakarta, Gatra.com - Bukan rahasia lagi bila kondisi bank Muamalat selama ini kurang fit. Bahkan ketika diurus direksi sebelumnya, Muamalat sempat mengalami kemunduran kinerja yang signifikan. Di era kepemimpinan sebelum Endy, Muamalat pernah tersandung kredit macet maskapai penerbangan Batavia Air hingga Rp 423 milyar.

Lalu ketika kepengurusan berganti sejak 2014, terjadi penurunan laba secara drastis sampai 71,36 % per Juni 2016, yaitu Rp106,54 Milyar menjadi Rp30,51 milyar. Selain itu, kinerja pembiayaan yang diukur dalam Non Performing Financing (NPF) juga naik tinggi, di mana NPF gross menjadi 7,23% dari tahun sebelumnya sebesar 4,93% per Juni 2015.

Indikator vital lainnya yang mengkhawatirkan adalah penurunan rasio modal kecukupan modal atau Capital Adequacy Rasio (CAR) yang signifikan. Per Mei 2106 sudah di angka 11,71% padahal Desember 2015 masih di level 12,36%. Sementara permodalan bank ini modal juga tak kalah merosot, anjlok dari Rp 57,1 trilyun menjadi Rp 53,71 trilyun.

Namun, kepada GATRA, Endy menyatakan, penurunan kinerja itu, terjadi saat ia belum benar-benar memimpin Muamalat. Ia sendiri, memang ditunjuk sejak tahun 2014, dan resmi bekerja sekitar September 2014 setelah lulus uji kepatutan dan kelayakan yang digelar OJK. Namun saat itu, NPF Muamalat sudah mencapai lebih dari 5%.

Upaya penyembuhan pun dilakukan manajemen baru. Seorang sumber GATRA menyebut, salah satu yang dilakukan direksi adalah melakukan re-statemen laporan keuangan. Ini merupakan upaya pencatatan keuangan untuk membuat beban keuangan perusahaan menjadi lebih cantik.

Cholil Hasan, seorang konsultan keuangan yang diminta tanggapan GATRA menyatakan, re-statemen sebagai sebuah upaya legal untuk melakukan penertiban dari pencatatan transaksi yang kurang pas. “Misalnya pencatatan kredit macet yang dianggap kurang baik, ternyata sudah baik, maka itu diluruskan,” katanya.

Meski begitu, kata Cholil, re-statement sebenarnya tidak mengubah kondisi perusahaan. Dan memang, fundamental Muamalat, meski diklaim membaik, namun tidak terjadi perubahan secara mendasar.

Bahkan kasus kredit macet juga kembali terjadi. Yaitu pembobolan kredit yang dilakukan perusahaan PT Rockit Aldeway hingga 838 milyar, dan melibatkan 7 bank termasuk Muamalat yang kena Rp 100 milyar. 

Selanjutnya: Konsultan Keuangan Kurang Kredibel 


Mukhlison S Widodo, Putri Kartika Utami, dan Hendry Roris Sianturi

Nur Hidayat
04-10-2017 16:05