Main Menu

#DeleteFacebook Populer, Zuckerberg Akui Kesalahan

Basfin Siregar
22-03-2018 04:59

Gerakan #DeleteFacebook mulai populer di Twitter sebagai respon atas pencurian data 50 juta pengguna Facebook dalam skandl Cambridge Analytica  (Gatra.com/ilustrasi).

 

Amerika Serikat, Gatra.com - Facebook masih terus menghadapi tekanan karena skandal pencurian data oleh Cambridge Analytica.

Sejak Selasa lalu (20/3), tagar #DeleteFacebook makin populer di twitter.

Tagar itu awalnya muncul Sabtu lalu (17/3), dipicu kemarahan pengguna karena data mereka di Facebook ternyata diperjualbelikan pihak ketiga.

Awalnya tagar #DeleteFacebook hanya di-retweet oleh sekitar 6000 pengguna.

Tapi pada Selasa, gerakan ini makin populer setelah beberapa selebriti internet bergabung. Di antaranya Brian Acton, salah satu pendiri Whatsapp.

Lewat akun @brianacton, dia ikut mendukung gerakan menghapus akun Facebook.

"It's time. #deletefacebook", tulisnya.

Brian Acton dan Jan Koum adalah dua sekawan pendiri Whatsapp. Aplikasi Whatsapp sudah dibeli Facebook pada 2014 lalu seharga US 19 milyar, atau setara Rp 260,8 trilyun.

Tapi pada 2017 Brian meninggalkan Whatsapp..
 
Gerakan #DeleteFacebook merupakan tekanan terbaru yang harus dihadapi Mark Zuckerberg, CEO Facebook, terkait skandal Cambridge Analytica.

Skandal itu memang mengguncang Facebook. Selain digugat investor, saham Facebook terus merosot sampai 6,8% di Bursa Saham New York.

Penurunan saham itu memangkas valuasi pasar Facebook sampai US 60 miliyar, atau setara Rp 824 trilyun.

Zuckerberg bahkan sudah dipanggil oleh parlemen Inggris dan Uni Eropa untuk menjelaskan kasus ini.

Zuckerberg memang juga menuai banyak kritik. Pasalnya ia belum memberikan pernyataan apa pun sejak skandal itu terkuak pada Sabtu lalu (17/3).

Meski Zuckerberg sebenarnya juga tertekan.

Situs majalah teknologi Wired pada Selasa lalu (20/3), melaporkan bahwa sejak skandal Cambridge Analytica muncul, tiap malam  para petinggi Facebook begadang sampai malam-malam di kantor mereka di Menlo Park, California.

Menurut Wired, dua petinggi yang terus begadang sampai dini hari di kantor Facebook adalah Mark Zuckerberg dan Sheryl Shandberg, COO (Chief Operating Officer) Facebook.

Mereka terutama mempersiapkan strategi menghadapi kemungkinkan akan dipanggil menghadap Kongres AS.

Respon resmi Zuckerberg akhirnya baru muncul pada Kamis dini hari (22), diunggah di akun Facebooknya.

Dalam unggahan yang cukup panjang itu Zuckerberg menjelaskan bagaimana pencurian data itu bisa terjadi.

Ia juga mengakui telah terjadi pelanggaran kepercayaan (breach of trust) yang dilakukan developer pihak ketiga terhadap Facebook, yang akhirnya menyebabkan terjadi pelanggaran kepercayaan antara Facebook dan para penggunanya.

"Kami juga melakukan kesalahan," tulisnya.

Zuckerberg juga menjelaskan akan tetap bertanggung jawab atas skandal pencurian data ini.

"Saya yang memulai Facebook, dan pada akhirnya, saya bertanggung jawab atas apa yang terjadi di platform ini," tulisnya.

Akankah Facebook bertahan menghadapi skandal ini? Banyak analis menjawab ya.

Lee Munson, analis keamanan dari comparitech.com, kepada tabloid Mirror mengatakan bahwa badai yang dihadapi Facebook ini akan memusingkan dalam jangka pendek. Tapi dalam jangka panjang, Facebook akan tetap eksis.

Gerakan #DeleteFacebook, menurut Munson, juga tidak akan menggoyang status Facebook sebagai salah satu media sosial terpopuler.

"Facebook akan bertahan, tapi Cambridge Analytica tidak," katanya.

Editor: Basfin Siregar

Basfin Siregar
22-03-2018 04:59