Main Menu

Badan Atom Dunia Dorong Indonesia Produksi ”Tempe Nuklir”

Mukhlison Sri Widodo
28-04-2018 06:28

Kepala Seksi Kerjasama Teknis wilayah Asia-Pasifik IAEA Jane Gerardo-Abaya. (GATRA/Arif Koes/FT02)

Yogyakarta, Gatra.com -  Keberhasilan Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) menghasilkan varietas kedelai yang lebih baik dengan memanfaatkan energi nuklir mendapat apresiasi dan dukungan International Atomic Energy Agency (IAEA).

 

Lembaga dunia ini mendorong Indonesia sebagai produsen terbesar di dunia.

Lewat kerjasama, IAEA mendorong Indonesia menjadi produsen tempe terbesar dunia dan menerapkan teknologi nuklir pada tanaman pangan.

Dukungan ini disampaikan langsung Kepala Seksi Kerjasama Teknis  wilayah Asia-Pasifik IAEA Jane Gerardo-Abaya di penutupan Regional Course For Teacher di Sekolah Tinggi Teknologi Nuklir (STTN), Sleman, Yogyakarta, Jumat (27/4).

“Indonesia adalah negara pertama di dunia yang berhasil mengembangkan tanaman pangan, terutama kedelai yang menjadi lebih baik dengan radiasi nuklir. Secara resmi, IAEA menyatakan varietas yang dihasilkan tidak berbahaya bagi kesehatan dan berdampak positif pada bidang agrikultur,” jelas Jane.

Menurut Jane, Batan mampu menjadikan bibit varietas kedelai lokal mampu beradaptasi dalam iklim yang berbeda, masa panen yang lebih pendek, dan ukurannya menjadi lebih besar. 

Tentu saja ini menyenangkan pelaku bisnis tempe karena tampilan produknya lebih menarik dan menghemat  bahan baku.

IAEA akan memberi dukungan dan berharap upaya Batan bisa ditularkan ke negara lain sesuai kebutuhan mereka.

“Kami berharap keberhasilan penerapan teknologi nuklir ini mampu menjadikan Indonesia memenuhi kebutuhan kedelainya sendiri. Bersama dengan badan pangan dunia (FAO), kami menargetkan Indonesia menjadi produsen terbesar tempe di dunia,” lanjut Jane. 

Mengenai perkembangan penggunaan energi nuklir di kawasan Asia-Pasifik, Jane menyatakan saat ini beberapa negara mulai tertarik menerapkannya. 

Memang saat ini penggunaan energi nuklir didominasi bidang kesehatan dan mutasi pada tanaman atau hewan.

Tetapi beberapa negara di Timur Tengah, seperti Arab Saudi dan Uni Emirat Arab fokus pada penggunaan energi nuklir untuk pemenuhan energi. 

Dalam dua tiga tahun ke depan, fasilitas nuklir untuk energi di sana akan beroperasi.

“Di Asia Tenggara, kami melihat Indonesia, Malaysia dan Vietnam memiliki kemajuan pesat dalam penelitian energi nuklir. Kami berharap mereka segera memiliki kebijakan yang tepat menjadikan nuklir sebagai sumber energi terbarukan,” katanya.

Dilansir dari www.batan.go.id, pada 2010 dan 2013, Batan meluncurkan varietas kedelai yang mengalami proses mutasi nuklir. 

Varietas kedelai Mutiara dilepas pada 2010 dengan keunggulan lebih besar dibandingkan sebelumnya. 

Kemudian pada 2013 varietas kedelai dengan masa tanam lebih pendek diluncurkan dengan nama Gamsugen 1 dan Gamsugen 2.

Kepala STTN DI Yogyakarta Edy Giri Rachman Putra mengatakan tidak hanya varietas tanaman pangan yang selama ini diteliti. 

Batan juga telah mampu mengawetkan makanan melalui proses radiasi.

“Keberhasilan ini diharapkan mampu memberi pemahaman kepada masyarakat bahwa penggunaan nuklir secara bijak mampu memberi dampak positif. Dukungan dari IAEA ini merupakan penghargaan tinggi bagi Batan,” katanya.


Reporter : Arif Koes
Editor : Mukhlison

Mukhlison Sri Widodo
28-04-2018 06:28