Main Menu

Mahasiswa ITS Kembangkan Pemurni Biogas dari Abu Batubara

Mukhlison Sri Widodo
13-07-2018 08:24

Mahasiswa ITS Surabaya, Pradena Bhesari Fitrah Laharto (kiri) dan Umirul Solichah Fauzany. (GATRA/Abdul Hady JM/re1)

Surabaya, Gatra.com - Mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya kembali membuat inovasi.
Abu dasar (bottom ash) yang sering menjadi limbah utama bagi tiap industri Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) berhasil dimanfaatkan sebagai material pemurni biogas yang ramah lingkungan.


Inovasi tersebut hasil kreasi dari tiga mahasiswa Departemen Kimia ITS Surabaya.

Mereka adalah Pradena Bhesari Fitrah Laharto, Aristin Putri Kusuma Anggraini, dan Umirul Solichah Fauzany.

Abu dari hasil pembakaran batu bara ini biasanya ditimbun di suatu area industri PLTU dan tidak dimanfaatkan secara maksimal.

Apalagi abu dasar termasuk limbah B3 (Bahan Beracun dan Berbahaya), yang menimbulkan bahaya yang serius bagi lingkungan.

Sedang pencetus ide dan pengarah untuk karya ini adalah mahasiswa pascasarjana Kimia, Randy Yusuf Kurniawan di bawah bimbingan Ir Endang Purwanti Setya N MT.

Randy menjelaskan, biogas mengandung gas metana murni, sementara gas metana di alam bercampur dengan gas pengotor. Untuk memperoleh gas murni tersebut dari alam, dilakukanlah teknik pemurnian gas alam.

“Biasanya teknik pemurnian tersebut sangat mahal karena membutuhkan larutan-larutan kimia yang harganya juga relatif mahal, berbeda dengan penelitian kami yang menggunakan limbah,” jelas Randy.

Terkait dengan limbah yang digunakan, Randy menuturkan bahwa limbah abu dasar yang diperoleh memiliki komponen penyusun utama, yakni silika.

Silika tersebut dibentuk menjadi mesopori dan diteliti memiliki kemampuan untuk mengadsorpsi gas metana dari pengotor seperti karbondioksida dan asam sulfida.

“Mesopori merupakan material padatan berpori yang memiliki ukuran meso, yakni 2 sampai 50 nanometer,” papar Randy lebih lanjut.

Ketua tim, Pradena Bhesari Fitrah Laharto menambahkan, silika mesopori masih belum cukup untuk meningkatkan daya adsorpsi gas metana. Perlu penambahan zat kimia polietilen glikol (PEG) 4000.

Angka 4000 menunjukkan massa molekul PEG yang memiliki sifat kekentalan yang rendah, sehingga ketika diimpregnasi dengan mesopori, maka porinya tidak tertutup.

“Jika pori tersebut terbuka, maka adsorpsi gas metana menjadi lebih mudah dan molekul gas lain akan tertahan, sehingga didapatkan metana murni,” tuturnya.

Mahasiswa yang akrab disapa Fira itu, juga menjelaskan bahwa impregnasi merupakan teknik menambahkan suatu material seperti polietilen glikol ke dalam bagian pori (Silika Mesopori).

Dalam melakukan penelitiannya, tim mengambil sampel limbah abu dasar sebanyak lima gram dengan kandungan berat 1,15 gram silika di dalamnya.

“Kandungan silika tersebut sangat sedikit, sehingga kami perlu meningkatkan kandungan silika dari 1,15 gram menjadi 2,165 gram dengan pemisahan besi dan kalsium agar bagus hasilnya,” jelas mahasiswa semester tujuh itu.

Anggota tim, Umirul Solichah Fauzany, juga menuturkan bahwa inovasi dari penelitian timnya ini berharap bisa dikembangkan dan digunakan oleh industri biogas sebagai material pemurni biogas yang ramah lingkungan.

Sehingga biaya pembelian biogas oleh masyarakat tidak begitu mahal.


Reporter : Abdul Hady JM
Editor : Mukhlison

Mukhlison Sri Widodo
13-07-2018 08:24