Main Menu

Reaksi Trump Setelah Google Didenda

Rosyid
20-07-2018 08:56

Presiden Amerika Serikat Donald Trump. (REUTERS/Kevin Lamarque/RT)

Washington, Gatra.com - Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengecam keputusan Uni Eropa (UE) yang mendenda Google. Trump memperingatkan Uni Eropa tidak akan bisa memanfaatkan Amerika Serikat.

"Saya katakan! Uni Eropa baru saja menampar denda Lima Miliar Dolar pada salah satu perusahaan besar kami, Google," katanya lewat tweet sebagai reaksi terhadap denda USD 5 miliar (Rp 72 triliun) kepada Google, lewat perusahaan induknya, Alphabet Inc, pada Rabu 18 Juli 2018.

"Mereka benar-benar telah mengambil keuntungan dari AS, tetapi tidak untuk waktu lama!" tambahanya dalam tweet Kamis (19/7) malam waktu setempat seperti dikutip Bangkokpost, Jumat (20/7).

Rabu lalu, Komisaris Persaingan UE Margrethe Vestager menuduh Google memanfaat sistem operasi Android yang mendominasi industri ponsel dan tablet untuk mempromosikan penggunaan mesin pencari buatanya dan pada saat menutup kesempatan mesin pencari buatan pesainnya. Keptusaun UE dibuat setelah penylidikan selama tiga tahun yang dilakukan Komisi Persaingan Usaha UE.

Denda yang dijatuhkan pada Google ini menjadi rekor tertinggi. Rekor denda tertinggi sebelumnya juga dijatuhkan pada Google tahun 2017.

Google juga diharuskan menghentikan perilakunya itu dalam waktu 90 hari, atau menghadapi pembayaran penalti hingga lima persen dari rata-rata perputaran uang hariannya.

CEO Google Sundar Pichai mengatakan akan mengajukan banding. "Keputusan hari ini menolak model bisnis yang mendukung Android, yang telah menciptakan lebih banyak pilihan untuk semua orang. Kami bermaksud mengajukan banding," katanya dalam posting blog.

Google menyediakan Android gratis untuk produsen ponsel pintar dan menghasilkan sebagian besar pendapatannya dari penjualan iklan yang muncul bersama dengan hasil pencarian.

Keputusan terhadap Google itu diumumkan seminggu sebelum pertemuan antara Kepala Komisi UE dengan Presiden Trump. Agenda penting pertemuan kedua pemipmin itu adalah membahas sengketa tarif.

Kasus Android berawal dari gugatan kelompok lobi bernama FairSearch. Anggota kelompok ini termasuk perusahaan teknologi besar seperti Microsoft, Nokia dan Oracle. Mereka mengeluh persaingan tidak adil yang dilakukan Google. Saatini sistem operasi Android digunakan 80 persen perangkat seluler diseluruh dunia.

Menurut majalah Forbes, tahun lalu pendapatan Alphabet, induk perusahaan Google mencapai USD 111 miliar, naik dua kali lipat dibandingkan empat tahun lalu.


Editor: Rosyid

Rosyid
20-07-2018 08:56