Main Menu

Perempuan adalah Kekuatan Super di Dunia IT

Flora Librayanti BR K
11-08-2018 10:25

Ilustrasi mahasiswa di kelas komputer (Reuters/Chris Wattie/yus4)

Jakarta, Gatra.com - Dunia information technology (IT) sangat identik dengan pria. Bahkan tidak sulit menemukan anak laki-laki yang bercita-cita menjadi pakar coding, developer sampai urusan teknis semacam enginer.

 

Faktanya, dari sejumlah sektor yang didata lembaga non-profit, The National Center for Women & Information Technology (NCWIT) pada 2016 lalu, jumlah perempuan yang terlibat hanya sebesar 2,1%. Lalu ada 10,5% tim yang terdiri dari gabungan laki-laki dan perempuan. Serta sisanya yang 87,4% hanya diisi laki-laki saja. Ada sebanyak 603.192 pekerja sektor IT yang diteliti dalam lima bidang: communications, computer hardware, computer peripherals, information software, serta semiconductors/ solid-state devices.

Ironisnya, jumlah mahasiswa jurusan ilmu komputer di kampus-kampus ternama di Amerika Serikat (AS) saja ternyata mengalami penurunan pula. Pada 2010, jumlahnya hanya sekitar 14%. Bandingkan dengan puluhan tahun sebelumnya, pada 1985 jumlahnya sempat mencapai 37%.

Padahal, “Menjadi perempuan adalah kekuatan super tersendiri,” kata Vice President Brand Strategy and Services pada perusahaan internet Mozilla, Mary Ellen Muckerman ketika ditemui GATRA di pusat kebudayaan AS, At America, Jakarta, Selasa, 31 Juli.

Mary lantas menjelaskan maksudnya. Alasan utama mengapa perempuan sangat penting dalam dunia IT karena perempuan membawa sudut pandang yang berbeda. Pengembangan teknologi IT hari ini butuh tak hanya IQ (Intelligence Quotient) yang tinggi, tapi juga EQ (Emotional Quotient) tinggi. “Para perempuan sangat mahir dalam hal ini,” katanya.

Mary menyebut setidaknya ada tiga tool yang membutuhkan empati. Pertama, design thinking. Ini mengacu pada strategi kreatif desainer yang digunakan dalam proses desain. Kedua, aspek user centered design. Termasuk didalamnya tentu saja bagaimana merancang user interface yang nyaman, bagaimana membedakan desain untuk mobile, desktop, atau tablet, hingga bagaimana menciptakan solusi atas feedback yang diberikan pengguna. Ketiga adalah journey mapping. Efektifitas proteksi data masuk dalam poin terakhir ini.

Jika ditelisik lebih jauh di perusahaan-perusahaan internet maupun IT lainnya, jumlah perempuan memang masih belum signifikan. Pada Oktober 2015, Microsoft mengumumkan ada 29,1% jumlah pekerja perempuan mereka. Tapi hanya ada 16,6% di bidang teknis dan 23% di level pemimpin. Twitter sendiri punya 10% pekerja teknis yang perempuan dan 21% di sektor kepemimpinan. Google sedikit lebih tinggi, yakni 17% pekerja teknis dan 21% di skala manajemen.

Pada posisi puncak, sejauh ini ada contoh lain yang punya nama besar. Mereka adalah Chief Operating Officer (COO) Facebook, Sheryl Sandberg dan tentu saja mantan Chief Executive Officer (CEO) Yahoo, Marissa Mayer.

Di sisi lain, penelitian perusahaan konsultan Delloite menunjukkan kalau setengah dari pengguna produk teknologi dan website adalah perempuan. Bahkan, riset mereka menemukan kalau 85% keputusan pembelian produk IT dipengaruhi oleh perempuan. Pada 2013 saja, dari total jumlah belanja konsumen AS sebanyak US$5,9 triliun, sebanyak US$4,3 triliun habis untuk produk IT.

Seperti dilansir dari The Atlantic, perempuan adalah pengadaptasi sejumlah produk IT secara jauh lebih cepat. Produk-produk itu antara lain: penggunaan internet, penggunaan pesan suara pada telepon genggam, layanan lokasi di telepon genggam, pesan teks, skype, semua media sosial kecuali LinkedIn, semua gawai berbasis internet, e-readers, layanan kesehatan (health-care devices), serta GPS.

Persepsi bahwa remaja perempuan adalah tidak mahir dalam teknologi sesungguhnya tidak tepat. Mereka justru adalah kelompok pertama yang beradaptasi dengan teknologi. “Kita harus melakukan langkah yang lebih baik untuk melibatkan perempuan dalam pekerjaan terkait IT,” kata mantan VP Small-and-Midsized Business di Microsoft, Cindy Bates.


 

Editor : Flora L.Y. Barus

Flora Librayanti BR K
11-08-2018 10:25