Main Menu

Teknologi BPPT Sulap Sagu Jadi Bulir Beras

Sujud Dwi Pratisto
15-08-2018 14:51

Deputi Bidang Teknologi Agroindustri dan Bioteknologi BPPT, Soni Solistia Wirawan. (Dok.Humas BPPT/RT)

Jakarta, Gatra.com - Sagu, tepung olahan yang diperoleh dari pemrosesan batang pohon sagu sudah lama dikenal sebagai bahan pangan alternatif, pengganti beras.

 

Namun pemanfaatan sagu sebagai bahan pangan masih minim lantaran belum efektifnya pemanfaatan teknologi dalam pengolahan sagu. Padahal, potensi sagu di Nusantara sangat besar. Indonesia memiliki areal perkebunan sagu seluas 1,25 juta hektare.

Hal itulah yang mendorong Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) melalui Pusat Teknologi Agro Industri melahirkan inovasi teknologi pengolahan sagu.

''BPPT merancang teknologi pangan berupa mesin ekstruder yang mampu menghasilkan varian produk beras sagu, mi sagu dan makaroni sagu,'' kata Deputi Bidang Teknologi Agroindustri dan Bioteknologi BPPT, Soni Solistia Wirawan, kepada GATRA.

Tepung dari tanaman yang memiliki nama latin Metroxylon sagu Rottb itu diubah menjadi beras sagu dan beberapa varian sagu yang lain. Disebut beras sagu karena produk akhirnya berbentuk butiran beras. Sama persis dengan beras padi.

Dengan menggunakan mesin ekstruder, tepung sagu diolah menjadi beras sagu melalui proses ekstrusi atau pencetakan. Proses ini melalui berberapa tahap. Mulai dari pencampuran, pengadukan, pengadonan, pendinginan, pengeringan hingga pencetakan. Lewat proses tersebut, sagu ''disulap'' menjadi bulir serupa beras. Beras sagu hasil proses ekstrusi ini dikenal juga dengan sebutan beras analog. ''Jadi, beras analog itu adalah sagu yang dianalogkan menjadi beras,'' kata Soni.

Dari inovasi teknologi itu muncul produk yang diberi merek ''Beras Sagu'', ''Beras Sehatku'', dan ''Mie Sagu". Beras sagu memiliki beberapa keunggulan, antara lain indeks glikemik (kandungan gula darah) lebih rendah daripada beras padi dan berserat pangan tinggi. ''Karena itu, beras sagu ini baik dikonsumsi bagi mereka yang rentan diabetes serta bagus untuk diet dan pola hidup sehat,'' kata Soni.

Direktur Pusat Teknologi Industri BPPT, Hardaning Pranamuda, mengungkapkan bahwa BPPT telah melakukan riset dan penelitian mengenai kandungan dari beras sagu.

Hasilnya berkorelasi positif. Beras sagu aman bagi pengidap diabetes. Sebab, angka indeks glikemik (IG) yang dihasilkan beras sagu sangat rendah, yakni IG 40. Adapun beras padi memiliki IG lebih berervariasi antara IG 80 dan IG 89.

BPPT juga melakukan pengujian klinis terhadap tikus untuk mengukur pengaruh beras sagu terhadap penyakit diabetes. ''Tikus diberikan penyakit diabet lalu kita berikan konsumsi pakan yang mengandung beras sagu. Ternyata, kadar gulanya terjaga, dan ada pemulihan sel terhadapnya,'' ujar Hardaning.

Selanjutnya, BPPT juga mengujikan terhadap sejumlah relawan yang menderita diabetes. ''Hasil pengenalan dan intervensi beras sagu ke relawan (pengidap diabetes) menunjukkan kecenderungan kadar glukosa yang menurun,'' kata Hardaning.

Relawan yang mengonsumsi beras sagu selama empat minggu mengalami penurunan kadar glukosa 10%. Kolesterolnya yang semula 212 mg/dL menjadi 200mg/dL, dan trigleseridanya dari 160 mg/dL menjadi 131 mg/dL.

''Inovasi beras sagu yang dihasilkan BPPT tidak hanya menjadi terobosan pangan, tapi juga berperan terhadap kesehatan,'' Hardaning menjelaskan.

Menurut Soni, dengan lebih sehat dan higienis, beras sagu dapat menjadi makanan klinis yang aman bagi penderita diabetes. Selain itu, beras sagu bisa menjadi alternatif penyediaan beras non-padi yang menyehatkan masyarakat.

Sebagai gambaran, Badan Pengelola Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan mencatat dari seluruh pasien diabetes, sebanyak 382.680 di antaranya mengalami komplikasi berbagai penyakit, semisal gangguan penglihatan, gagal ginjal, penyakit jantung, dan strok, yang taksiran biaya kesehatannya Rp3,27 trilyun.

Inovasi teknologi pengolahan beras sagu ini telah diimplementasikan. BPPT menggandeng PT Barata Indonesia untuk memproduksi mesin ekstruder. BPPT juga mengandeng PT Mitra Aneka Solusi (PT. MAS) sebagai produsen beras sagu. Beras analog sagu dijual dengan harga estimasi Rp25.000/kg. Penjualan dilakukan secara online dan offline.

Harga beras sagu masih lebih tinggi daripada dengan harga beras. Sebagai pembanding, harga beras varietas Pandanwangi Rp13.000 per kilogram.

''Bila beras sagu sudah diproduksi secara massal dan melibatkan intervensi pemerintah dalam hal penyaluran dan subsidi, harga beras sagu bisa jauh lebih murah,'' kata Soni.


Reporter : Andhika Dinata
Editor     : Sujud Dwi Pratisto

Sujud Dwi Pratisto
15-08-2018 14:51