Main Menu

Penggunaan Kecerdasan Buatan untuk Memprediksi Gempa Susulan

Hidayat Adhiningrat P.
31-08-2018 01:13

Ilustrasi seorang petugas mengamati seismograf (antara/yus4)

Jakarta, Gatra.com - Sekelompok peneliti dari Universitas Harvard, Universitas Connecticut, dan Google tengah melatih neural network yang mereka buat agar bisa memprediksi kapan akan terjadi gempa susulan di wilayah tertentu. Neural network merupakan Kecerdasan buatan yang akurasi prediksinya diperkirakan lebih tepat ketimbang teknik standar yang telah ada.

 

Latihan untuk Neural network ini dilakukan dengan memberi data yang diambil dari contoh 131.000 pasang gempa dan gempa susulan yang muncul berikutnya. Daerah yang dilanda gempa dipetakan dalam jejaring sel.

Prediksi wilayah gempa susulannya sediri dilihat dengan mempelajari distribusi tekanan yang terjadi akibat gempa awal. Pemetaan wilayah gempa susulan ini dilakukan dengan peta daerah yang sudah diberi jejaring sel tadi.

Dalam jurnal ilmiah yang dipublikasikan oleh Nature (29/8/2018) dikatakan bahwa dengan membedakan volume dari tiap gempa utama, prediksi pascagempa bisa diformulasikan sebagai masalah klasifikasi binari dalam skala besar. Akurasi tiap sel grid mencapai 5 km x5 km x 5 km. Sel grid pada volume setelah gempa utama bisa jadi mengakibatkan gempa susulan atau tidak.

Sejauh ini, Neural network telah diuji untuk 30.000 kejadian gempa bumi. Ketepatan prediksi gempa susulan yang didapat dengan teknologi ini diklaim lebih akurat dari metode Couloumb failure stress change yang telah ada sebelumnya.

Couloumb failure stress change bekerja dengan memeriksa perubahan tekanan di sekitar daerah setelah gempa terjadi. Metode pengukuran gempa paling akurat diberi nilai 0,5 sampai 1.

Jika hasilnya dibandingkan, Neural network berhasil mendapat skor 0,849 sementara Couloumb failure stress change mendapat skor 0,583.

Meski begitu, model Neural network ini masih berupa prototipe dan masih belum memperhitungkan berbagai jenis tekanan fisik lainnya. Maka dari itu, metode perkiraan gempa tersebut masih belum bisa digunakan dalam waktu dekat.

"Tapi ke depan, ini bisa menjadi alat yang sangat kuat untuk menghubungkan semua jenis fenomena fisik yang ada. Seperti perubahan tegangan dinamis, perubahan tegangan poroelastik, struktur geologi yang ada untuk memprediksi perilaku gempa susulan." tulis salah seorang peneliti yang terlibat, Phoebe M. R. DeVries.

Hidayat Adhiningrat P

Hidayat Adhiningrat P.
31-08-2018 01:13