Main Menu

Menyikapi Gempa Lombok, BPPT Tawarkan Inovasi Rumah Tahan Gempa

Hidayat Adhiningrat P.
31-08-2018 11:35

Warga korban gempa membangun rangka rumah hunian sementara (ANTARA FOTO/Ahmad Subaidi/yus4)

Jakarta, Gatra.com - Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) menawarkan inovasi rumah tahan gempa. Tawaran ini muncul untuk menyikapi banyaknya kerusakan hunian tempat tinggal dan fasilitas umum akibat gempa yang terjadi di Lombok.

 

Direktur Pusat Teknologi Material (PTM) BPPT Mahendra Anggaravidya mengatakan bahwa konstruksi dan material rumah ini ramah terhadap gempa.

"Rumah ini disusun per panel, kalaupun roboh tidak mencelakai penghuni. Karena material ringan yang terbuat dari komposit sandwich. Kalaupun ada yang jatuh menimpa berat panel hanya 2 kilogram. Jadi tidak begitu berbahaya," paparnya di Kantor BPPT, Jakarta, Kamis (30/8/2018).

Posisi rumah ini, kata Mahendra, disambung dalam ikatan yang utuh. Jadi, ketika terkena beban gempa, sambungan tersebut tidak tercerai berai atau roboh.

"Bahannya sandwich panel buatan BPPT yang bermitra dengan industri lokal. Dalam hal ini BPPT berperan dalam memformulasikan bahan komposit, lalu menyusun desain dan di produksi massal oleh industri lokal. Jadi ya hampir 80 persen TKDN," katanya.

Berdasarkan uji simulasi beban gempa pada rumah tersebut, terlihat bahwa setelah simulasi percepatan 2,28 G dalam frekuensi 0,1-10 Hz dengan metode (spectrum) serta kombinasi beban mati, hidup dan angin. Hasil simulasi dan analisis struktur menggunakan SAP2000, menunjukkan struktur tetap aman dengan kombinasi frame dan sandwich.

PTM BPPT saat ini tengah membuat permodelan bertipe 21 dan 36 rencananya untuk dibawa ke Lombok. Pembangunan rumah komposit ini membutuhkan waktu 1 minggu per unit. 

Untuk itu kata Mahendra, dibutuhkan sinergi dari pemangku kepentingan seperti Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, BNPB dan BUMN untuk segera dipasang di Lombok.

"Selain itu juga kami inginkan ada dukungan khusus yang sifatnya pendanaan, khususnya untuk memperbanyak jumlah unit yang akan dijadikan bantuan," katanya.

Untuk satu unit rumah komposit tipe 21, dibutuhkan anggaran sekitar Rp40 jutaan. Sedangkan untuk tipe 36 akan menghabiskan dana Rp70 jutaan per unitnya.

"Selain kedua tipe tersebut, kami juga bisa membuat ukuran yang di kustom. Biaya permeternya dua jutaan. Bisa untuk ukuran besar untuk pembuatan fasilitas umum seperti Puskesmas atau tempat ibadah," urainya.


Hidayat Adhiningrat P

Hidayat Adhiningrat P.
31-08-2018 11:35