Main Menu

Biopeat BPPT, Pupuk yang Menggenjot Produktivitas Tanaman

Andhika Dinata
31-08-2018 20:26

Fasilitas produksi pupuk Biopeat di PT RSUP Riau. (Ist/re1)

Jakarta, Gatra.com - Lahan gambut seringkali dianggap sebagai lahan tidur, lahan non-produktif, atau lahan sub optimal. Oleh karenanya lahan gambut jarang dikelola atau digarap untuk areal pertanian dan pangan. Lahan gambut identik ditanami oleh komoditas tertentu semisal Kelapa Sawit.


 

Budidaya gambut untuk komoditas lain masih terbilang jarang ditambah lagi dengan adanya regulasi Pemerintah terhadap tatakelola gambut untuk menekan resiko kebakaran lahan dan dampak lingkungan.

Baru-baru ini Badan Pusat Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) merancang produk baru yang diberi nama Biopeat. Biopeat merupakan produk unggulan hasil rekayasa teknologi yang saat ini dikembangkan BPPT bersama PT. Riau Sakti United Plantations (RSUP). Ide dari rekayasa tersebut yakni dalam rangka memanfaatkan lahan gambut tanpa bakar (zero burning) untuk kebutuhan pertanian dan perkebunan.

Melalui rekayasa bioteknologi di sarana laboratorium yang dimiliki BPPT, mikroorganisme lokal (indigenous) berupa jamur telah dimanfaatkan untuk meningkatkan produktivitas lahan gambut yang dibuktikan melalui peningkatan pH tanah gambut dan penyediaan nutrisi tanaman.

Kepala BPPT Unggul Priyanto menyebutkan inovasi biopeat ini merupakan terobosan baru yang dilakukan BPPT bersama pihak swasta PT. Riau Sakti United Plantation (RSUP) yang dapat menjadi salahsatu terobosan teknologi untuk meningkatkan kesuburan lahan gambut dengan indikator kenaikan pH lahan gambut dan peningkatan produktivitas tanaman.

“Dengan biopeat ini maka kebakaran lahan akibat gambut yang dibakar, akan dapat dikurangi. Inovasi biopeat ini jelas menjadi solusi teknologi, saat ini tengah dikembangkan BPPT bersama industri lokal, yakni PT. RSUP di Kepulauan Riau,” papar Unggul kepada Gatra.com.

Seperti diketahui lahan gambut tropis mengandung asam organik yang tinggi, hasil degradasi lignin dari tanaman yang melapuk dan menyebabkan peningkatkan keasaman tanah yang menjadikan pH tanah menjadi rendah.

Mikroba potensial dari lahan gambut akan dimanfaatkan untuk memakan asam-asam organik sebagai sumber karbon untuk pertumbuhan, sehingga aktifitas mikroba tersebut akan memberikan dampak positif untuk perbaikan kualitas tanah.

Aplikasi pupuk hayati BioPeat pada tanah gambut tersebut kata Unggul mampu meningkatkan pH tanah gambut yang semula rata-rata pH 3,9 menjadi sekitar pH 5.

“Dengan meningkatnya pH tanah gambut, maka peluang mikroba penyubur tanah lainnya yang dapat bertahan hidup dilingkungan tanah gambut juga ikut meningkat, sehingga tanah gambut menjadi lebih subur,” jelasnya.

Produk BioPeat BPPT lanjutnya, telah teruji kemampuannya melalui serangkaian uji aplikasi. Selain memperbaiki kualitas hasil panen, BioPeat juga mampu meningkatkan ketahanan tanaman terhadap serangan hama. Yang lebih penting dari itu produk pupuk teknologi itu mampu menggenjot produktivitas tanaman.

“BioPeat terbukti mampu meningkatkan produktivitas tanaman Jagung sebesar 45%, buah Nanas grade A sebesar 31%, dan meningkatkan kadar kemanisan buah Naga hingga mencapai rata-rata Brix 15%, cukup jauh diatas nilai brix buah Naga di pasaran yang hanya mencapai 11%,” paparnya.

Mengenai Ketersediaan produk unggulan BioPeat, Deputi Bidang Teknologi Agroindustri dan Bioteknologi (TAB) BPPT, Soni Solistia Wirawan menyebut BPPT dan PT. RSUP akan membangun unit produksi berkapasitas 600 ton/tahun sebagai model percontohan untuk di dikembangkan lebih lanjut dalam skala yang lebih besar.

Unit tersebut direncanakan akan mengolah limbah nenas dari pabrik pengalengan nenas Sambu Group (Group Company dari perusahaan PT. RSUP) sebanyak 15 ton/hari dan diproses lebih lanjut secara fermentasi selama 2 – 4 minggu menjadi BioPeat

“Sampai saat ini, diperkirakan 40 – 50 ton produk BioPeat telah diujicobakan kepada para petani lahan gambut sekitar perusahaan untuk budidaya pertanian seperti cabe, bawang merah dan jagung serta memberikan hasil yang signifikan,” ujar Soni.

Terkait sinergi antar pihak, BPPT juga bekerjasama dengan Pemerintah Kabupaten Indragiri Hilir, Universitas Islam Indragiri (UNISI) dan PT. RSUP. Hal ini dinyatakan Deputi TAB, dituangkan dalam penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU), yang ditandatangani bersamaan dengan peresmian unit produksi BioPeat.

Kerjasama tersebut terang Soni merupakan wujud konkrit dan sinergi ABG (Academic, Business & Government) yang mendukung inovasi dan hilirisasi teknologi yang berdampak kepada masyarakat.

“Ke depan dengan melibatkan dukungan dari berbagai pihak terkait, diharapkan teknologi BioPeat dapat menjadi solusi dan memberikan kontribusi nasional dalam mendukung program Pengelolaan Lahan Tanpa Bakar (PLTB) yang telah dicanangkan pemerintah,” paparnya. 

Deputi TAB BPPT itu juga mengharapkan agar kedepan program tersebut dapat berjalan secara berkelanjutan. Sehingga, dapat meningkatkan kesejahteraan dan pendapatan petani, seiring peningkatan produktivitas pertanian para petani.

Sementara itu dalam pandangan terpisah, Direktur PT. Riau Sakti United Plantations (RSUP) Tay Ciatung menyebutkan pihaknya sangat senang bila teknologi pupuk Bio Peat dapat diadopsi dan dikembangkan oleh masyarakat.

Menurut Tay terobosan yang dilakukan perusahaan bersama BPPT merupakan bagian dari program ketahanan pangan nasional dengan menjadikan pupuk sebagai stimulus tanaman produksi.

“Kita maunya teknologi ini bisa dibagikan dan di-share ke masyarakat. Dengan Biopeat ini masyarakat dan petani dapat mengambil nilai tambah yang lebih. Tentu ini juga mendukung program Pemerintah dalam bidang ketahanan pangan,” pungkasnya.


Reporter: Andhika Dinata
Editor: Mukhlison

Andhika Dinata
31-08-2018 20:26