Main Menu

Batan Rekomendasikan Bangun PLTN di Kalimantan Barat

Mukhlison Sri Widodo
04-09-2018 20:47

Kepala BATAN, Djarot Wisnubroto (GATRA/Agriana Ali/RT)

Yogyakarta, Gatra.com - Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) merekomendasikan Kalimantan Barat sebagai kawasan contoh pendirian pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) di Indonesia. Pemerintah daerah dan sumber daya setempat dianggap siap, tinggal disetujui pemerintah pusat.

 

Kepala Batan Djarot Sulistio Wisnubroto mengatakan rekomendasi tersebut didasari beberapa faktor. Pertama adanya dukungan serta kebijakan pemerintah daerah yang ingin memiliki pembangkit tenaga listrik berteknologi tinggi. 

“Sebagai kawasan industri, kebutuhan energi listrik di sana masih mengimpor dari Malaysia,” kata Djarot di Sekolah Tinggi Teknologi Nuklir, Sleman, Selasa (4/9).

Faktor ke dua, di Kalbar tersedia sumber daya alam berupa uranium dalam jumlah besar dan belum dieksplorasi. Ke tiga, pulau Kalimantan aman dari gempa.

Menurut Djarot, sebagai langkah awal proyek PLTN, sejak empat tahun lalu Pemda Kalbar memberikan beasiswa kepada 26 putra daerah menempuh pendidikan di STTN. Mahasiswa Kalbar ini bersama 75 mahasiswa lain telah selesai menempuh pendidikan dan menjalani wisuda, Selasa pagi.

Selain itu, lobi ke pemerintah pusat agar perizinan PLTN segera terwujud juga dilakukan, termasuk oleh Oesman Sapta Odang, Wakil Ketua MPR RI.

“Sambil menunggu proses lobi-lobi di pusat, kami berharap 26 mahasiswa STTN dari Kalbar membantu sosialisasi teknologi nuklir di masyarakat agar terwujud kesatuan visi dan misi PLTN,” katanya.

Wisuda 101 mahasiswa STTN bergelar Sarjana Sains Terapan ini menambah ahli nuklir di Indonesia yang saat ini berjumlah sekitar 1.500 orang.

“Namun jika melihat kebutuhan dari 8.000 industri yang berhubungan dengan radioaktif, keberadaan mereka terserap. Terlebih lagi dibandingkan lulusan pendidikan nuklir yang lain, lulusan STTN lebih siap bekerja,” kata Ketua STTN Edy Giri Rachman Putra.

Selain ijazah, semua lulusan STTN dibekali surat izin bekerja sebagai proteksi radiasi dan sertifikasi personel Ultrasonic Testing Level II berstandard The American Society For Non-Destructive Testing.

Menurut Edy, bukan hanya memiliki peluang bekerja di bidang kesehatan dan industri, saat ini ahli nuklir dibutuhkan oleh setiap lembaga pemasyarakatan untuk mengawasi penggunaan alat deteksi yang mengandung radiasi.

Edy mengatakan, 95% lulusan STTN bekerja di lapangan sebagai ahli nuklir dan sisanya bergerak di bidang akademik. 

"Ini berbanding terbalik dengan lulusan teknologi nuklir yang berasal dari perguruan tinggi lain," kata dia.


Reporter: Arif Koes
Editor: Mukhlison

Mukhlison Sri Widodo
04-09-2018 20:47