Main Menu

Twitter Tutup 125.000 Akun Terkait Terorisme

Tian Arief
06-02-2016 16:49

Twitter (AFP/Damien Meyer)

San Francisco, GATRAnews - Pengelola jejaring sosial Twitter, pada Jumat (5/2) menyatakan telah menutup 125.000 akun, yang memiliki kaitan dengan ISIS sejak pertengahan 2015. Jaringan media sosial yang berpusat di San Francisco, Amerika Serikat, dengan lebih dari 500 juta pengguna di seluruh dunia itu, menyatakan dalam satu tweet bahwa kebijakannya tak mengizinkan pengguna Twitter mendorong terorisme.

Twitter selama ini telah dipandang sebagai jejaring sosial yang enggan mencampuri isi yang diposting para penggunanya. Dalam sejarahnya, selama hampir 10 tahun jaringan tersebut telah memiliki sistem yang menentang pornografi anak-anak.

Menurut sebuah laporan yang disiarkan pada 2015 oleh Brookings Institution, kelompok pemikir yang berpusat di Washington DC, menyebutkan bahwa ISIS memiliki sedikitnya 46.000 akun aktif Twitter selama masa tiga-bulan pada 2014.

"Tekanan atas Twitter agar mengekang propaganda oleh ISIS dan kelompok garis keras lain berasal dari Pemerintah AS serta organisasi non-pemerintah dan per orang," tulis Xinhua, yang dikutip Antara, di Jakarta, Sabtu siang (6/2).

Pada Januari lalu, jaringan sosial itu dituntut oleh seorang janda dari AS yang suaminya tewas dalam satu serangan terhadap pusat pelatihan polisi Yordania. Penuntut tersebut dilaporkan menuduh Twitter mempermudah ISIS untuk mendorong kekerasan.

Namun Twitter, pada Jumat, menyatakan, jaringan itu "selalu berusaha menjaga keseimbangan antara pelaksanaan Peraturan Twitter kami sendiri yang mencakup melarang prilaku, keperluan sah pelaksana hukum, dan kemampuan pengguna untuk berbagi pendapat secara bebas -termasuk pandangan yang mungkin tak disetujui oleh orang lain atau dikatakan menyerang".

Sementara itu, jaringan tersebut menyatakan telah meningkatkan jumlah tim yang mengkaji laporan yang berkaitan dengan terorisme.

"Kami juga meneliti akun lain yang serupa dengan yang dilaporkan dan meningkatkan piranti yang layak untuk memerangi spam ke permukaan akun lain yang berpotensi melakukan pelanggaran untuk kajian oleh anggota kami," katanya.

Twitter mengklaim sudah melihat hasilnya, termasuk peningkatan dalam pembekuan akun.


Editor: Tian Arief

Tian Arief
06-02-2016 16:49