Main Menu

Reaksi Netizen Seputar Aksi 212: Trust, Joy, dan Sadness

Aditya Kirana
25-11-2016 12:06

Aksi unjuk rasa 4/11 (GATRAnews/Abdurachman/HR02)

 

Jakarta, GATRANews - Aksi Bela Islam jilid III mendapatkan beragam respon di media sosial. Menurut Rustika Herlambang, Direktur Komunikasi Indonesia Indicator, emosi terbesar dari isu ini adalah antisipasi, kewaspadaan para netizen terkait situasi yang dimunculkan dari demo 212 tersebut. Mereka, kata Tika, mempertanyakan mengenai makna di balik isu 212 yang kian hari kian bertambah tidak relevan.

 

Tika memberi contoh aksi itu muncul bersama ajakan untuk rush money, memaksa polisi memberikan jalan protokol atas nama sholat Jumat, memaksa untuk memenjarakan Ahok. “Sementara kemarin mereka minta diselesaikan secara hukum dan sudah dilakukan oleh Kepolisian,” katanya pada GATRAnews, Selasa lalu (22/11/16).

 

Menurut Tika, perbincangan yang berdimensi kewaspadaan ini juga dimunculkan dari pernyataan di lini masa tentang bulan Desember berdekatan dengan Natal, di tanggal yang sama ada rencana buruh yang akan melakukan demo terkait upah di Jakarta dan juga peringatan hari Papua Merdeka pada 1 Desember. Emosi terbesar lainnya dari isu ini adalah trust, joy, dan sadness. “Meski dalam jumlah yang jauh lebih kecil dari emosi Anticipation,” katanya.

 

Dimensi emosi Trust terbelah antara para netizen yang percaya bahwa demo 212 adalah demo yang damai dan murni gerakan bela Islam, namun di sisi lain sebaliknya, mereka yang meyakini agenda demo 212 yang telah berubah kepentingan.

 

“Seperti ungkapan satir akun @LUKman_utd dan @hesty_caroline yang menyatakan: percaya FPI bela Islam sama dengan percaya bahwa Bear Brand isinya susu beruang” katanya. Sementara emosi Joy, dimunculkan dari keyakinan netizen akan demo yang diyakininya akan berlangsung super damai.

 

Fenomena fake news yang sedang melanda Amerika pasca pemilihan presiden, rupanya juga mulai memasuki ranah lini masa Indonesia. Hal ini terlihat dari emosi kesedihan yang diungkapkan oleh netizen, semua hampir dengan pernyataan yang persis, menyatakan rasa duka citanya karena larangan Kapolri untuk melakukan demo 212.

 

“Emosi ini jelas berasal dari pemberitaan yang telah dipelintir, di mana Kapolri tidak melarang aksi demo 212 namun melarang melakukan sholat Jumat di Jalan Protokol karena menimbulkan kemacetan,” katanya.

 

Emosi sedih netizen juga terungkap satir karena menyatakan kesedihannya untuk Habib Rizieq atau FPI yang ingin mengawal fatwa MUI namun MUI menyatakan tidak mendukung demo. Isu berita dan figur menjadi salah satu kunci dalam dinamika ini. “Siapa yang merebut dan menguasai wacana akan menjadi pemenangnya,” pungkas Tika.


Reporter: Aditya Kirana

Editor: Dani Hamdani 

Aditya Kirana
25-11-2016 12:06