Main Menu

Hoax Menggelisahkan Komunitas Seni Santri Cirebon

Andhika Dinata
13-02-2017 19:26

Cirebon, GATRANews - Gaduh di media sosial memancing kegelisahan banyak kalangan termasuk pesantren. Media sosial, lantas berkembang menjadi medium berpadunya hoax (kabar bohong). Entah tujuannya menyerang, memprovokasi atau memutarbalikkan fakta kebenaran. Agaknya itu yang menjadi sumber inspirasi komunitas seni santri Cirebon menggelar diskusi bertemakan Hoax dalam momen soft opening Saung Juang Taman Baca Cirebon Jumat pekan lalu (10/2/17).

 

Diskusi dan ngobrol-ngobrol lepas itu dilakukan bersama Suluk Amparan. Tema diskusi yang ditawarkan berupa himbauan dan ajakan bagi semua kalangan masyarakat untuk merawat ke-Indonesiaan.

 

“Ada kegelisahan dan kekisruhan. Jika demikian, mau dibawa ke mana negeri ini?. Perlu kita akui, bahwa ada sebuah kemunduran rasa berbangsa. Dalam situasi ini, kita juga sudah tidak punya pegangan, mana yang salah dan benar,” kata Mike, seniman muda Cirebon yang juga vokalis Marjinal.

 

Menurut Mike, adanya kegelisahan tersebut, merupakan efek dan akibat dari kondisi masa sebelumnya. Generasi muda memiliki kemunduran moral dan semangat juang, sehingga banyak yang lalai dan tidak bisa menatap masa depan. “Generasi muda harus punya perspektif kuat. Orientasinya jangan melihat budaya barat, sehingga kita lalai dan lupa kita tinggal di mana,” sambungnya.

 

Dalam upaya menangkal hoax dan isu-isu negatif, menurut Mike, semua pihak harus berani menahan diri dan menggunakan logika dalam menanggapi setiap persoalan. Ia menghimbau agar mereka yang generasi muda yang punya pengetahuan cukup memberi penyadaran bagi komunitas dan kalangan terdekatnya.

 

“Bukan urus sendiri-sendiri, kenyataannya kita tidak lepas dari luar diri (lingkungan) kita. Begitu juga dengan negeri ini, apa pun yang terjadi pada negeri ini, maka efeknya pada kita dan orang-orang terdekat”.

 

Dengan menjamurnya berita hoax yang dapat digunakan sebagai sarana pemecah bela antar sesama anak bangsa, Mike mengajak kepada generasi muda dan kalangan komunitas untuk kembali bersatu dalam bingkai Indonesia yang utuh.

 

“Kita harus pulang, pulang menjadi diri kita sendiri dan pulang menjadi bangsa kita sendiri. Itu yang harus dilakukan untuk mengantisipasi dan mengatasi persoalan yang sekarang terjadi dan gejolak kedepan. Kita kaji ulang kembali dengan warisan sejarah leluhur dan kebaikan guru-guru kita yang mengajarkan kebajikan kita,” imbau Mike.

 

Sementara itu salah satu pembicara penting dalam diskusi ini, Kang Babas, menyampaikan pesan penting bahwa berbicara keindonesiaan, berarti berbicara soal kebersamaan. “Kalau kita bicara Indonesia, maka kita berbicara keberagaman. Artinya, warna Indonesia itu bukan identik dengan ketunggalan. Karena banyak suku agama dan bahasa yang juga berbeda-beda,” pungkasnya lagi.**


Reporter : Andhika Dinata

Editor: Dani Hamdani 

Andhika Dinata
13-02-2017 19:26