Main Menu

Cegah Hoax dan Ujaran Kebencian, Literasi Media Digital Mesti Digencarkan

Rosyid
11-09-2017 10:54

Ilustrasi (GATRAnews/AK9)

Yogyakarta, Gatranews - Gerakan melek media digital mulai marak belakangan ini. Namun gerakan ini baru berkembang di lingkungan kampus dan pemerintahan, belum meluas di masyarakat. Padahal melek media digital amat penting untuk menangkal tindakan tak terpuji di dunia maya, seperti hoax atau berita bohong, ujaran kebencian, dan perundungan.  

 

Hal ini terungkap dalam riset Jaringan Pegiat Literasi Digital (Japelidi). Jaringan ini terdiri atas 52 peneliti dan akademisi dari 25 perguruan tinggi di Indonesia. Sejak April 2017, mereka meneliti gerakan literasi digital di Yogyakarta, Salatiga, Semarang, Surakarta, Malang, Bandung, Banjarmasin, Bali, dan Jakarta. Hasilnya, ada 338 kegiatan literasi digital di sembilan kota itu.

 

“Ini adalah angka yang luar biasa sebagai gerakan untuk membuat warga lebih melek media digital.  Akan tetapi, para penggiat gerakan masih didominasi oleh perguruan tinggi selain pemerintah daerah dan komunitas,“ kata Novi Kurnia, koordinator Japelidi sekaligus  Ketua Program Studi S2 Ilmu Komunikasi Universitas Gadjah Mada dalam rilisnya, Minggu (10/9).

 

Hasil riset menunjukkan bahwa ragam kegiatan literasi digital masih didominasi ceramah atau sosialisasi, di samping lokakarya dan pelatihan. Alhasil, kegiatan ini masih menganggap pengguna media digital harus dilindungi dari pengaruh buruk media daripada memberdayakan mereka untuk memanfaatkan media digital dengan baik.

 

Novi menjelaskan,  remaja atau pelajar, mahasiswa, masyarakat umum dan orang tua menjadi sasaran gerakan-gerakan literasi digital. “Anak muda dianggap penting sebagai target sasaran gerakan untuk bisa menjadi agen dalam gerakan literasi digital,” ujar dia.

 

Namun, secara umum, gerakan literasi digital di Indonesia bersifat sukarela, tidak terstruktur, insidental, sporadis, dan tidak kontinyu. “Peran pemerintah dalam gerakan ini juga belum terlihat. . Inisiatif-inisiatif dari warga masyarakat sendiri masih minim,” kata Novi.

 

Penelitian dalam rangka Hari Literasi Internasional 2017 ini juga melihat adanya sejumlah inisiatif upaya melek media digital. Beberapa kampus, seperti  UGM, UNY, dan Unisba, menjadikan literasi digital sebagai bagian kurikulum baku.  Di lingkup pemda, DI Yogyakarta dapat menjadi contoh dengan menggelar pelatihan media digital untuk siswa dan guru.

 

Dari temuan riset tersebut, para akademisi Ilmu Komunikasi menyarankan sejumlah langkah dalam menggencarkan literasi digital. ”Pada level keluarga, orang tua harus menjadi contoh serta melibatkan anak sebagai mitra dalam membuat kesepakatan-kesepakatan atas akses media digital,” kata dosen Ilmu Komunikasi Universitas Negeri Yogyakarta Dyna Herlina.

 

Untuk sekolah, Japelidi mendorong harus ada perubahan ke arah pendidikan berbasis digital. Murid dan guru mesti setara dalam menguasai konten pembelajaran bersama di media digital. Selain itu, orang tua dan guru dituntut bekerjasama dalam pendidikan anak dan penyediaan laboratorium media digital.

 

“Pemerintah juga harus mendorong transformasi digital dengan membangun infrastruktur digital yang demokratis, memperkuat e-governance, serta memberdayakan warga negara sebagai bagian dari kewarganegaraan digital,” ujar Dyna.

 

 


Reporter: Arif Koes Hernawan

Editor: Rosyid

Rosyid
11-09-2017 10:54