Main Menu

Riset Indosat & P2EB UGM: Pelanggan Seluler Bertambah 10%, PDB Naik 0,4%

Fitri Kumalasari
09-11-2017 20:05

Menara BTS (Antara/Fahrul Jayadiputra/yus4)

Jakarta, Gatra.com - Setiap penambahan 10% pelanggan seluler di Indonesia, menyumbang PDB (Produk Domestik Bruto) 0,4%. Selain itu, setiap peningkatan jumlah pelanggan telepon seluler di negara-negara Asia Tenggara sebesar 10% meningkatkan 0,2% PDB negara-negara Asia Tenggara. Setiap peningkatan jumlah pelanggan telepon seluler di 46 negara Asia pun menyumbang peningkatan GDP 0.3%di negara-negara tersebut. Demikian hasil riset semetara yang dilakukan Indosat Ooredoo dan Penelitian dan Pelatihan Ekonomika & Bisnis (P2EB) FEB UGM. 

Hasil awal riset ini hendak melihat dampak mobile internet terhadap pengembangan ekonomi dan sosial di Indonesia. Temuan mereka mengonfirmasi adanya hubungan positif antara pertumbuhan mobile internet dengan perekonomian di banyak negara, terutama Indonesia. Hasil lain yang dipaparkan tim dari UGM yang dikepalai Bambang Riyanto ini juga menyatakan dampak mobile internet terhadap peningkatan PDB lebih besar di negara-negara berpendapatan menengah-rendah dan di negara-negara berpendapatan tinggi dibandingkan dengan dampak mobile internet di negara-negara berpendapatan rendah.

Dampak mobile internet terhadap peningkatan PDB di negara-negara berpendapatan menengah-rendah di Asia lebih tinggi 0.02% dibandingkan dengan dampak mobile internet di negara-negara berpendapatan rendah. Dampak mobile internet terhadap peningkatan GDP di negara-negara berpendapatan tinggi di Asia lebih tinggi 0.03% dibandingkan dengan dampak mobile internet di negara-negara berpendapatan rendah.

Menggunakan data 4 negara yaitu Indonesia, Thailand, Malaysia, dan India, diperoleh temuan yakni, dampak mobile internet terhadap peningkatan GDP di Indonesia tidak berbeda dengan dampak mobile internet di Thailand dan di India. Meski demikian, dampak mobile internet terhadap peningkatan PDB di Malaysia lebih tinggi 0.03% dibandingkan dengan di Indonesia.

“Kami menduga ada faktor infrastruktur dan suprastruktur seperti kebijakan pemerintah, iklim bisnis dan infrastruktur di Malaysia yang lebih baik dibanding Indonesia. Makanya dampaknya lebih tinggi dari Indonesia,” kata Deputi Direktur P2EB UGM di Penang Bistro, Jakarta (9/11).

P2EB UGM melakukan riset menggunakan pendekatan kuantitatif dan kualitatif serta menggunakan data jumlah pelanggan jasa telepon seluler (mobile subscription) sebagai indikator variabel perilaku penggunaan mobile internet. “Dalam riset ini, secara garis besar fenomena mobile internet dapat dikelompokkan ke dalam tiga dimensi, teknologi dan lingkungan sosial, perilaku dalam menggunakan mobile internet, dan dampak sosial dan ekonomi dari mobile internet,” kata Bambang.

Temuan awal ini mengaskan peran penting mobile internet sebagai kebutuhan masyarakat selain telah menjadi gaya hidup. Kegandrungan masyarakat akan mobile internet memperluas kesempatan peroleh pendapatan bagi masyarakat secara lebih luas. Banyak anggota masyarakat melakukan moonlighting (menyambi pekerjaan yang mendatangkan tambahan pendapatan), misalnya jual beli barang online lewat mobile internet.

Mobile internet juga meluaskan cakupan bisnis, mengefisienkan bisnis, serta meningkatkan produktifitas. Waktu yang dibutuhkan dalam menjalankan bisnis menjadi lebih pendek: pengiriman foto untuk menawarkan pesanan, pengiriman desain mengkonfirmasi pesanan, dll. Secara umum, mobile internet telah mengefisienkan pekerjaan.

Riset ini masih akan berlangsumg multiyears untuk beberapa jangka waktu ke depan. Tim riset belum meneukan data lebih detail terkait jumlah dan gambaran komprehensif mengenai danpak mobile internet bagi perekonomian Indonesia. Arti menegaskan masih banyak hal yang ingin mereka ungkapkan dari riset ke depan. “Kita ingun melihat dampak makro ekonomi dari mobile internet. Itulah mengapa handphone baik untuk melihat data internet di Indonesia.”


Reporter: Fitri Kumalasari
Editor: Nur Hidayat

Fitri Kumalasari
09-11-2017 20:05