Main Menu

Kemenkominfo Ancam Blokir Layanan OTT Yang Tidak Mendaftar

Aulia Putri Pandamsari
03-02-2018 18:15

Ilustrasi Layanan OTT (Shutterstock/FT02)

Jakarta, Gatra.com - Kementerian komunikasi dan informatika (Kemenkominfo) mengancam akan memblokir layanan Over The Top (OTT) yang tidak mendaftarkan layanannya. Hal itu dikatakan Direktur Jenderal Aplikasi Informatika (Aptika) Kementerian komunikasi dan informatika, Samuel Pengarepan dalam sebuah diskusi mengenai layanan OTT di Indonesia yang bertajuk "Darurat Serbuan OTT Asing"


Rencananya, pemerintah bakal segera mengeluarkan peraturan menteri kominfo tentang Layanan OTT pada Maret 2018 mendatang. “Sekarang sedang dalam kajian, tetapi perlu penyelarasan kembali,” kata Samuel kepada awak media. Dengan adanya pemberlakuan Permen OTT tersebut diharapkan dapat menciptakan kesetaraan pasar antara pemain OTT asing dan lokal untuk mendapatkan bisnis yang sama.

 

Layanan OTT adalah semua layanan berbasiskan data, informasi dan multimedia yang menggunakan jaringan internet penyedia jasa telekomunikasi. Diantara layanan OTT seperti facebook, twitter, youtube maupun layanan komunikasi seperti whatsapp.   Samuel sendiri menyadari bahwa di era digital sangat sulit menahan serbuan OTT asing.

 

”Kami tidak membatasi harus asing atau lokal, tetapi kami ingin memastikan bagi semua Penyelenggara Sistem Elektronik (PSE) untuk melakukan pendaftaran,” katanya. Yang wajib melakukan pendaftaran, adalah setiap perusahaan penyelenggara layanan OTT yang melakukan kegiatan bisnis baik jual beli, jasa, bahkan permainan atau game, dan layanan OTT yang meminta data pribadi seperti aplikasi facebook, dan whatsapp.


“Kami harus mengetahui siapa penanggung jawabnya, bagaimana tingkat pengamanan, serta lingkungan customernya,” tambah Samuel. Bagi yang tidak melakukan pendaftaran dalam waktu yang disediakan, tetapi tetap melakukan kegiatan layanan OTT maka Kemkominfo akan memblokir layanan dari perusahaan tersebut.


“Kita tidak anti-asing,  sepanjang seluruh perusahaan mematuhi regulasi yang sudah ditetapkan. Tentu, yang kita harapkan adalah potensi ekonomi digital yang ada di Indonesia dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan perekonomian secara keseluruhan," kata pria yang akrab dipanggil Semmy ini.


 

Reporter: APP

Editor: Hendri Firzani

Aulia Putri Pandamsari
03-02-2018 18:15