Main Menu

Menguji Alat Anti Wereng Ultrasonik-Led Besutan Unsoed

G.A Guritno
14-07-2018 16:40

Tim pengabdian masyarakat berfoto di depan alat Hybrid Supersonic-Led untuk mengatasi hama wereng di depan alat yang sedang dikembangkan. (Dok. Humas Unsoed/yus4)

Purwokerto, Gatra.com – Pada Oktober 2016 sampai dengan Agustus 2017 lalu, terdapat sekitar 63 ribu hektare tanaman padi di wilayah Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur yang terkena serangan hama wereng. Kondisi tersebut mendorong mahasiswa Unsoed mengembangkan alat anti hama wereng.

 

Nyaris tiap musim tanam, wereng selalu menjadi momok yang menakutkan bagi petani. Pasalnya, serangan wereng taraf berat bisa menyebabkan gagal panen atau puso.

Kondisi ini mengusik perhatian lima mahasiswa Fakultas Pertanian (Faperta) dan Fakultas Teknik (FT) Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), Purwokerto, Jawa Tengah. Mereka adalah Hatika Rahmawan dan Ria Elsani (Jurusan Agroteknologi Faperta) dan Imaludin Sopandi, Aris Budiyanto, dan Muhammad Yusuf Fadillah (Jurusan Elektro FT).

Melalui Program Kreativitas Mahasiswa Pengabdian Masyarakat (PKM-M), yang didanai oleh Kemenristekdikti, mereka bergerak untuk membantu petani di Desa Piasa Kulon, Kecamatan Somagede, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah.

“Serangan hama wereng yang tidak dapat dihidari sangat merugikan, petani mengalami kerugian gagal panen. Hal ini mendasari kami untuk menciptakan teknologi yang dapat membantu petani,” ujar ketua tim pengabdian masyarakat, Hatika Rahmawan, Jumat (13/7).

Dia menjelaskan, kegiatan dimulai dari survei lokasi pada salah satu kelompok tani organik “Ngudi Mratani” di Desa Piasa Kulon. Kelompok tani ini salah satu yang mengalami kerugian akibat hama wereng. Sosialisasi alat yang dibuat hingga perancangan mulai dilakukan semenjak awal bulan April 2018.

Teknologi “Hibrida Ultrasonik-LED” yang dikembangkan dibuat berdasarkan penelitian yang telah ada sebelumnya mengenai gelombang ultrasonik dan juga light trap. Teknologi ini merupakan teknologi terbaru yang menggabungkan keduanya.

Hama Wereng pada frekuensi gelombang ultrasonik (frekuensi 40-60 kHz) tertentu akan menyebabkan gerakannya pasif (tidak bergerak). Pasifnya gerakan hama wereng mempengaruhi pola makan, sehingga pencernaannya terganggu. Lama kelamaan bisa menyebabkan kematian.

“Kami menggunakan hasil penelitian yang telah ada sebelumnya mengenai ultrasonik dan juga cahaya, serta menggabungkan keduanya. Teknologi ini kami namakan Teknologi Hibrida Ultrasonik-LED,” imbuh Aris salah satu anggota tim.

Hatika menerangkan, sosialisasi pada 18 April lalu di Balai Desa Piasa Kulon, Banyumas dikenalkan alat dan prinsip kerja alat hybrid yang dikembangkan.

Pembimbing penelitian dan pengabdian masyarakat, DR Ardiansyah berharap teknologi ini dapat membantu mengatasi serangan hama wereng yang menyerang petani, khususnya pada pertanian organik yang tidak menggunakan pestisida dan pupuk sintesis.

“Diharapkan, meskipun tidak menggunakan pestisida, serangan hama tetap dapat dikendalikan dan mengurangi resiko gagal panen karena dibantu juga oleh teknologi hybrid,” kata Ardiansyah, Dosen Teknik Pertanian, Fakultas Pertanian Unsoed.

Pakar hama dan penyakit tanaman dari Jurusan Agroteknologi Fakultas Pertanian Unsoed Dr Rostaman berharap kelompok PKM-M ini dapat membuktikan efektivitas alat ini di lapangan, sehingga dapat dikembangkan lebih lanjut untuk menolong petani.

Reporter: Ridlo Susanto
Editor: G.A. Guritno

G.A Guritno
14-07-2018 16:40