Main Menu

Balas Surat Kemenkominfo, Facebook Sebut Ada Potensi Penyalahgunaan Data Pasca Peretasan Jutaan Akun

Flora Librayanti BR K
10-10-2018 14:29

Ilustrasi - Keamanan Facebook. (Shutterstock/FT02)

Jakarta, Gatra.com - Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) menyatakan sudah menerima surat balasan dari Facebook mengenai adanya masalah keamanan pada fitur Facebook yang berdampak pada peretasan akun pengguna. Surat Direktur Jenderal Aplikasi Informatika yang dikirimkan pada 1 Oktober 2018 telah dibalas pada 3 Oktober 2018.

 

"Terhadap permintaan klarifikasi, Facebook menyebutkan peretasan dilakukan oleh aksi pelaku di luar sistem Facebook yang mendapatkan token pengguna dari celah keamanan pada fitur Facebook 'View As' atau 'Lihat Sebagai'," kata Plt. Kepala Biro Humas Kementerian Kominfo, Ferdinandus Setu dalam keterangan resmi yang didapat Gatra.com, Selasa malam (9/10).

Token tersebut memungkinkan otentikasi akun pengguna fitur "View As", fitur yang memberi tampilan seperti apa profil jika dilihat dari akun Facebook lain.


"Untuk memperbaiki masalah dan melindungi pengguna, Facebook menyatakan tengah melakukan investigasi dan akan melakukan update berkala," tambah Ferdinandus.

Dalam surat balasannya itu, Facebook memastikan bahwa mereka telah membahas celah keamanan atau kerentanan yang ada. Selain itu, mereka juga telah melakukan setting ulang atau reset token akses pengguna Facebook yang terdampak. Pengguna lalu diharuskan untuk masuk kembali (login) ke Facebook. Facebook menyebut secara global sekitar 50 juta akun terdampak juga telah di-setting ulang.


Berikutnya, setelah pengguna masuk kembali (login), Facebook memberi tahu melalui pesan teratas di bagian Kabar Berita atau News Feed. Setelah melakukan tinjauan keamanan, Facebook menonaktifkan sementara fitur "Lihat Iklan".

Dalam surat tersebut, Facebook menyatakan mereka sudah memberi tahu penegak hukum mengenai potensi penyalahgunaan data.

“Kementerian Kominfo mendorong Facebook untuk mengumumkan kepada publik Indonesia panduan dan perlindungan terhadap pengguna di Indonesia,” tegas Ferdinandus.


 

 Flora L.Y. Barus

Flora Librayanti BR K
10-10-2018 14:29