Main Menu

Habibie Award 2016 Jatuh pada Tim Peneliti Garam BPPT

Dani Hamdani
22-08-2016 17:47

Burhanuddin Jusuf Habibie, 18 Agustus 2016 (Dok Kemenristek Dikti)

Jakarta, GATRAnews -  Tim Peneliti Garam Farmasi dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) meraih penghargaan Bacharuddin Jusuf Habibie Technology Award (BJHTA) 2016. Penghargaan BJHT ke 9 ini diserahkan di kediaman Presiden Indonesia k-3 B.J. Habibie, Kuningan, Jakarta Selatan, Kamis, 18/8/16, lalu.

 

"Teknologi yang mereka rancang tidak berhenti di jurnal, tapi sangat bermanfaat bagi masyarakat," kata Kepala BPPT Unggul Priyanto, saat serah terima penghargaan tersebut. 

 

Menurut Unggul, garam farmasi sangat berguna untuk bahan baku dasar obat-obatan, seperti cairan infus, tablet, pelarut vaksin, dan cairan pencuci darah. Namun selama puluhan tahun, garam untuk farmasi seluruhnya masih di impor sehingga harganya mahal.

 

Tim beranggotakan Imam Paryanto, Bambang Srijanto, Eriawan Rismana, Tarwadi, Purwa Tri Cahyana, Arie Fachruddin, dan Wahono Sumaryono ini berhasil membuat  apa yang disebut sebagai garam proanalisis. Seperti garam untuk industri dan untuk bumbu dapur, garam farmasi juga kandungannya adalah Natrium Klorida (NaCl). Yang membedakan adalah kemurnianya yang sangat tinggi, sekitar 99,5 persen. 

 

Pekerjaan paling sulit, kata Imam Paryanto, kepala tim peneliti, ialah memurnikan garam biasa menjadi garam farmasi. "Di Indonesia selama ini belum ada teknologi yang bisa melakukannya dalam skala industri," kata Imam. Tim Garam BPPT ini berhasil menciptakan teknologi sekaligus patennya. 

 

"Inovasi ini diharapkan dapat menciptakan kemandirian industri farmasi nasional agar tidak terus bergantung produk impor," ujar Imam.

 

Harga garam farmasi impor, menurut Imam, bisa mencapai Rp 50 ribu per kilogram. Kebutuhan nasional bahan baku farmasi ini sekitar 6.000 ton tiap tahun, dan masih 100 persen impor. 

Para Penerima BJ Habibie Award 2016 (Dok Kemenristek Dikti)
Para Penerima BJ Habibie Award 2016 (Dok Kemenristek Dikti)

 

Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan, Mohamad Nasir, mengatakan inovasi garam farmasi ini dapat mengurangi ketergantungan impor sekitar 30 persen.

 

"PT. Kimia Farma (Persero) Tbk sebagai salah satu perusahaan farmasi terbesar di Indonesia sudah mendirikan pabrik garam farmasi sejak 2014 yang teknologinya berdasarkan paten tim BPPT ini," kata Nasir. 

 

Kapasitas pabrik garam farmasi yang dibangun di Watudakon, Jombang, Jawa Timur, ini mampu menghasilkan 2.000 ton. Pabrik bahan baku obat pertama di Indonesia, mengacu pada Cara Pembuatan Bahan Baku Aktif Obat yang Baik (CPBBAOB) dengan izin BPOM tanggal 15 Desember 2015.

 

Dengan beroperasinya Pabrik garam Kimia Farma ini, Menristek Dikti berharap harga garam farmasi bisa ditekan lebih rendah. Selain tentu saja, ini turut mendorong kemandirian bahan baku nasional. "Memberdayakan teknologi dan peralatan dalam negeri," tuturnya. 

 

Penghargaan tahunan yang digelar BPPT ini bertujuan memberikan apresiasi tertinggi pada pelaku teknologi yang berprestasi dalam inovasi teknologi. Nama penghargaan ini diambil dari pimpinan pertama sekaligus pendiri BPPT, B.J. Habibie. 

 

Tahun 2015, penghargaan ini jatuh kepada Warsito Purwo Taruno, inovator teknologi electrical capacitance volume tomogragraphy (ECVT) atau sistem pemindai berbasis medan listrik statis yang diaplikasikan di dunia medis internasional.


Editor: Dani Hamdani 

 

Dani Hamdani
22-08-2016 17:47