Main Menu

Penjinak Virus Zika Menunggang Macan Asia

Rohmat Haryadi
15-09-2016 09:35

Injeksi bakteri Wolbachia ke Telur Nyamuk AE (Dok GATRAnews/Youtube)

Jakarta, GATRANews - Virus Zika menyebar lewat serangga pembawa virus (serbavirus). Serbavirus yang mengandung Wolbachia terbukti gagal menyebarkan penyakit. Bagaimana mekanisme rekayasa biologi pada nyamuk loreng itu?


Nyamuk Aedes aegypti memang luar biasa. Betapa tidak, sejumlah penyakit menular lewat nyamuk kebun itu. Sebut saja, virus dengue penyebab demam berdarah (DBD), cikungunya, dan termutakhir adalah virus Zika.

 

Aedes aegypti yang populer disebut nyamuk macan Asia itu dikenal sebagai serangga pembawa virus (serbavirus). Dalam bahasa asing serbavirus disebut arbovirusArthropod Borne Virus, sebutan untuk serangga yang menularkan virus penyebab penyakit. Antara lain, nyamuk, lalat, dan lain-lain.


Terkait Zika, pemerintah Indonesia tengah mewaspadai virus yang mengganggu pertumbuhan otak bayi itu. Ibu hamil yang terinfeksi Zika akan melahirkan bayi yang menderita microcephaly. Yaitu suatu kondisi di mana otak janin tidak tumbuh ke ukuran normal, dan menyebabkan bayi lahir dengan kepala abnormal berukuran kecil. Menteri Kesehatan Nila Moeloek meminta agar masyarakat waspada terhadap virus Zika yang sudah menyebar di Singapura.



Ia menegaskan meskipun gejala Zika lebih ringan dari DBD, tetapi virus yang pertama kali menyebar di Brasil itu lebih berbahaya. "Kami meminta masyarakat untuk waspada," kata Nila dalam rapat kerja dengan Komisi IX DPR di Kompleks DPR, Senayan, Jakarta, Rabu, 31 Agustus lalu.

 

Menurut Nila, langkah cepat yang harus diambil dengan tindakan pencegahan, salah satunya dengan pemeriksaan ketat di tiap pintu kedatangan warga asing di bandara atau pelabuhan.



Pencegahan lainnya dengan melibatkan bakteri jinak yang disebut Wolbachia pipientis. Bakteri ini dapat memblokir penularan virus Zika melalui serbavirus seperti Aedes aegypti. Wolbachia dapat ditemukan pada 60 persen dari serangga di seluruh dunia, termasuk kupu-kupu dan lebah. Meskipun demikian dia tidak ditemukan secara alami dalam tubuh nyamuk macan Asia. Para peneliti di University of Wisconsin-Madison (UW-Madison) telah mengonfirmasi bahwa bakteri jinak tersebut sanggup memblok Zika.


Matthew Aliota, seorang ilmuwan di UW-Madison School of Veterinary Medicine (SVM) mengatakan bakteri Wolbachia bisa menjadi pencegah penyebaran Zika lewat mekanisme pengendali biologis. Mengingat, tiga puluh sembilan negara di Amerika telah terjangkit epidemi Zika, dan setidaknya 4 juta orang diperkirakan terinfeksi pada akhir tahun 2016.


Upaya memerangi Zika di Indonesia bisa menggandeng Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta yang selama ini bersama Eliminate Dengue Project (EDP) Yogyakarta mengembangkan nyamuk anti DBD, melalui pengembangbiakan nyamuk dengan bakteri Wolbachia. Peneliti Utama EDP, Riris Andono Ahmad atau akrab disapa Doni menjelaskan riset tersebut kepada GATRA. Doni mengatakan teknik pengembangan nyamuk agar mengandung bakteri Wolbachia adalah dengan teknologi rekayasa biologi yang disebut mikroinjeksi.


Dengan teknologi ini, Wolbachia yang diambil dari lalat buah (Drosophila melanogaster) yang diekstrak. Ada berapa teknis transfeksi Wolbachia ke tubuh nyamuk Aedes aegypti. Yaitu dengan menyuntikkan dengan jarum halus (mikro) ke dalam telur, pupa (kepompong), atau nyamuk dewasa. Penyuntikan pada nyamuk dewasa menggunakan jarum yang lebih “gemuk”, kurang fleksibel, dengan diameter dalam jarum 0,1 milimeter, dan diameter luar jarum 0,5 mm.

Nyamuk dewasa dibikin mengantuk dengan menempatkan mereka dalam ruangan mengandung CO2 atau menempatkan mereka pada suhu rendah dalam jangka waktu yang singkat, dan disuntikkan di bagian bawah perut. Nyamuk dilepaskan kembali ke kandang setelah injeksi.

Injeksi dewasa dilakukan pada tahapan yang berbeda yaitu. setelah pembuahan, sesudah mengisap darah, dan kondisi kelaparan. Injeksi nyamuk betina itu dilakukan di bawah mikroskop Stereozoom dengan pembesaran 63 kali. Volume yang disuntikkan ditentukan berdasarkan pembengkakan perut.

Injeksi larva dan pupa (kepompong) nyamuk dicoba untuk memeriksa parameter kelayakan pada tahap perkembangan ini untuk injeksi. Larva dan pupa disimpan dalam air volume rendah dan dingin untuk memperlambat gerakan menggeliat mereka. Larva dengan lembut dijepit tang dan disuntik. Jarum menembus cukup, tetapi tidak memecah larva atau pupa. Larva dan pupa disuntik di segmen perut bagian bawah. Larva dan pupa disuntik dari sisi depan perut. Jarum yang digunakan adalah mirip dengan jarum yang digunakan untuk injeksi dewasa.

Suntikan pada telur nyamuk dengan menyediakan telur yang melimpah selama injeksi. Injeksi dilakukan di bawah mikroskop Stereozoom dimana kontur telur nyamuk dapat dengan mudah divisualisasikan. Suntikan disaring melalui 0,45 mikron jarum suntik berpenyaring untuk menghindari penyumbatan jarum. Setelah melakukan percobaan selama puluhan ribu kali, ilmuwan Australia berhasil memasukkan bakteri Wolbachia dalam telur nyamuk. "Telur nyamuk yang sudah mengandung wolbachia tersebut kemudian ditetaskan dan dikembang-biakkan," kata Doni yang juga Direktur Pusat Kedokteran Tropis Fakultas Kedokteran UGM itu.
 

Sel nyamuk yang mengandung Wolbachia menurun dari induk ke anak nyamuk. Hal ini karena karakteristik unik reproduksi Wolbachia. Dalam tubuh inang, Wolbachia paling banyak berada di organ reproduksi, karena itu menjamin proses penyebaran lewat keturunan tersebut. Wolbachia akan berada di dalam sel sperma dan sel telur dari inang, sehingga ketika terjadi pembuahan, anak turun serangga tersebut sudah mengandung Wolbachia.

 
"Wolbachia diturunkan dari jalur induk betina. Artinya betina yang mengandung Wolbachia akan menghasilkan telur, dan 100% anak dari serangga yang menetas akan mengandung Wolbachia," katanya. Termasuk betina yang kawin dengan jantan yang mengandung Wolbachia. Nah, anak-anak nyamuk yang mengandung Wolbachia inilah yang tidak menularkan virus, meskipun tidak kehilangan sifat serbavirus.


Reporter: Arief Koeshernawan

Editor: Rohmat Haryadi

Rohmat Haryadi
15-09-2016 09:35