Main Menu

Transit Planet Luar Surya untuk Mencari Kehidupan Alien

Rohmat Haryadi
29-11-2016 19:31

Teleskop Kepler 2 (galaxydaily.com)

Jakarta GATRANews -- Peneliti dari National Astronomical Observatory of Japan (NAOJ), Universitas Tokyo, telah mengamati transit planet ekstrasurya yang berpotensi mirip Bumi dikenal sebagai K2-3d menggunakan instrumen MuSCAT pada teleskop 188 cm di Okayama Astrophysical Observatory. Transit adalah fenomena di mana sebuah planet lewat di depan bintang induknya, sehingga memblokir sejumlah kecil cahaya dari bintang itu. Demikian Sciencedaily memberitakan 28 November 2016.


Transit sebelumnya telah diamati pada ribuan planet ekstrasurya lainnya, namun transit pada K2-3d penting karena ada kemungkinan bahwa planet itu memiliki kehidupan. Dengan mengamati transit menggunakan teleskop generasi berikutnya, seperti Thirty Meter Telescope (TMT), para ilmuwan berharap untuk dapat mendteteksi molekul pada atmosfer planet tersebut yang berhubungan dengan kehidupan, seperti oksigen.

Kelompok riset ini telah berhasil mengukur periode orbit planet dengan presisi tinggi sekitar 18 detik. Sehingga bisa untuk memprediksi waktu transit di masa mendatang. Jadi sekarang para peneliti tahu persis kapan harus mengamati transit menggunakan teleskop generasi berikutnya. Hasil penelitian ini merupakan langkah penting menuju pencarian kehidupan di luar bumi di masa depan.

K2-3d adalah sebuah planet ekstrasurya yang berjarak sekitar 150 tahun cahaya, yang ditemukan teleskop ruang angkasa Kepler. Ukuran K2-3d adalah 1,5 kali ukuran Bumi. Planet ini mengorbit bintang induknya, yang merupakan setengah ukuran Matahari, dalam waktu sekitar 45 hari. Dibandingkan dengan bumi, planet ini mengorbit lebih dekat dengan bintang induknya (sekitar 1/5 dari jarak Bumi-Matahari yang 150 juta km).

Karena suhu bintang induknya lebih rendah dari Matahari, maka perhitungan menunjukkan rentangan tersebut merupakan yang tepat bagi planet untuk memiliki iklim yang relatif hangat seperti Bumi. Ada kemungkinan air cair dapat eksis di permukaan planet, dan meningkatkan kemungkinan hadirnya kehidupan di luar bumi.

Orbit K2-3d lewat di depan bintang inangnya, menyebabkan penurunan kecerahan cahaya bintang karena terhalang planet. Hal ini memungkinkan peneliti meneliti komposisi atmosfer planet ini dengan mengukur dengan presisi jumlah cahaya bintang yang diblokir yang memiliki panjang gelombang yang berbeda. Nah, panjang gelombang yang berbeda ini akan menjadi sidik jari untuk mengetahui kandungan atmosfir planet tersebut.

Sekitar 30 planet yang berpotensi layak huni juga memiliki orbit transit telah ditemukan misi NASA Kepler. Tetapi, sebagian besar planet-planet itu mengorbit bintang redup, dan lebih jauh. Karena lebih dekat ke Bumi, dan bintang tuan rumah lebih cerah, K2-3d adalah calon yang menarik untuk studi lebih lanjut. Penurunan kecerahan bintang tuan rumah yang disebabkan transit K2-3d sangat kecil, hanya 0,07%.

Diharapkan bahwa teleskop besar generasi berikutnya dapat mengukur variasi panjang gelombang akibat “kedipan” lemah itu, yang memungkinkan untuk menginvestigasi dari komposisi atmosfer planet. Jika kehidupan di luar bumi ada di K2-3d, para ilmuwan berharap untuk bisa mendeteksi molekul yang berhubungan dengan kehidupan, seperti oksigen di atmosfer.

Misi NASA K2 akan terus sampai setidaknya Februari 2018, dan diperkirakan akan menemukan lebih banyak planet yang berpotensi layak huni seperti K2-3d. Selanjutnya, penerus K2 adalah Transit Exoplanet Survey Satellite (TESS), yang akan diluncurkan pada Desember 2017. TESS akan survei seluruh langit selama dua tahun, dan diharapkan untuk mendeteksi ratusan planet kecil seperti K2-3d di dekat Tata Surya.


Editor: Rohmat Haryadi

Rohmat Haryadi
29-11-2016 19:31