Main Menu

Pertama kali, Kelelawar Vampir Kedapatan Mengisap Darah Manusia

Rohmat Haryadi
13-01-2017 04:36

Kelelawar vampir (nationalgeographic.com)Jakarta GATRANews - Kelelawar vampir, meskipun namanya menakutkan, makhluk ini diperkirakan hanya makan darah burung. Tetapi penelitian terbaru menunjukkan bahwa kelelawar vampir juga mengisap darah manusia! Sungguh mengkhawatirkan, karena ini dapat menyebabkan penyebaran penyakit. Kelelawar vampir dikenal sebagai penyebar utama rabies. Demikian Dailymail, 12 Januari 2017.


Para peneliti percaya bahwa gangguan manusia di taman nasional bisa menjadi penyebab kelelawar vampir mencoba darah mamalia. Dalam tulisan mereka, yang diterbitkan di Acta Chiropterologica, para peneliti menulis: "Manusia menjadi mangsa karena tidak adanya darah dari spesies mangsa. Mungkin mencerminkan rendahnya ketersediaan burung liar di lokasi penelitian. Ini memperkuat dampak dari aktivitas manusia terhadap ekologi lokal."

Kelelawar vampir hanya mengandalkan darah sebagai sumber makanan mereka. Tetapi biasanya mendapatkan darah dari burung liar. Peneliti dari Universitas Federal Pernambuco di Brasil melakukan penelitian bagaimana kelelawar vampir berperilaku dalam situasi langka burung liar.

Tim menganalisa 70 feses sampel dari koloni kelelawar vampir di Taman Nasional Catimbau di Brasil. Hasilnya mengejutkan, mereka menemukan tiga sampel mengandung jejak darah manusia. "Kami cukup terkejut," kata Enrico Bernard, penulis utama studi kepada New Scientist.

"Spesies ini tidak disesuaikan untuk makan darah mamalia," katanya. Darah mamalia cenderung mengandung protein lebih tinggi daripada darah burung. Sehingga lebih sulit kelelawar mencernanya. Penelitian sebelumnya, ketika tidak ada burung liar, kelelawar memilih berpuasa, bahkan hingga mati kelaparan, daripada mencoba darah babi atau kambing.

Kini para peneliti menemukan jejak darah manusia, dan ayam di tahinya. "Mereka beradaptasi dengan lingkungan dan mengeksploitasi sumber daya baru," kata Bernard. Temuan ini menjadi perhatian bagi masyarakat di Brazil, karena kelelawar bisa menyebarkan penyakit seperti rabies.

"Ini akan membuka berbagai kemungkinan penelitian tentang kelelawar vampir di Caatinga, dan pengaruhnya pada kesehatan masyarakat. Mengingat potensi kenaikan transmisi rabies di wilayah ini," tambah Bernard.

Para peneliti percaya bahwa kelelawar masuk rumah melalui lubang di atap atau jendela, atau menarget orang yang tidur di luar rumah. Kini peneliti berencana mengunjungi rumah-rumah penduduk sekitar untuk mengetahui seberapa sering mereka digigit kelelawar vampir.


Editor: Rohmat Haryadi

Rohmat Haryadi
13-01-2017 04:36