Main Menu

Cegah Gagal Panen, Pentingnya Petani Pahami Ilmu Agro Metreologi

Fahrio Rizaldi A.
14-12-2017 16:58

Tanaman padi rusak terendam banjir (GATRA/Ridlo Susanto/FT02)

Indramayu, Gatracom - Profesi petani bukanlah pekerjaan yang mudah. Selain keahlian mengelola lahan, petani sejati mesti memahami ilmu budidaya tanaman agar mencapai hasil yang maksimal.


Dari sekian banyak keahlian, tidak ada salahnya petani mengenal ilmu Agro Metreologi, yakni ilmu untuk memahami perubahan iklim.

Agro Metreologi merupakan ilmu yang relatif baru di dunia pertanian, khususnya di Indonesia. Namun, sejumlah petani asal Indramayu, yang bergabung dalam komunitas petani peneliti curah hujan tengah menyebarkan ilmu mengamati iklim ini.

Tarsono, satu di antara petani peneliti curah hujan asal Desa Nunuk, Indramayu ini mencoba menjelaskan fungsi dari Agro Metreologi. Menurutnya, petani harus memahami perubahan iklim untuk menghindari kerugian.

"Pentingnya belajar iklim karena petani kerap kali merugi ketika bertanam dengan mengabaikan faktor cuaca. Di kala kekeringan atau di saat banjir, tanaman terancam mengalami kerusakan dengan skala yang besar, nyaris sama meruginya dengan serangan penyakit," ungkap Tarsono dalam keterangan tertulis, Kamis (14/12).

Hal inilah yang mendasari para petani muda di Indramayu, membentuk Klub Pengukur Curah Hujan Indramayu (KPCHI). Hadirnya KPHCI bertujuan untuk membantu rekan-rekan petani di Indramayu untuk belajar memahami iklim.

Ada tujuh jasa layanan iklim yang ditawarkan untuk pertanian, seperti, pertama panduan untuk pengukur curah hujan oleh petani di lahannya sendiri. Kedua, panduan untuk pengamatan agro-ekologi. Ketiga, mengukur dan mengevaluasi panen.

Kemudian, keempat, pengorganisasian dari warung ilmiah lapangan (WIL) dan klub/pengukur curah hujan. Kelima, skenario curah hujan musiman: perkembangannya dan pertukarannya.

Lantas, keenam, menyajikan pengetahuan baru dan ketujuh panduan untuk eksperimen di lahan sendiri.
 
Tarsono sendiri mengakui untuk mempelajari ilmu Agro Meteorologi bukan perkara mudah. Ia bersama kawan-kawannya menghabiskan waktu delapan tahun untuk mempelajari ilmu ini. "Banyak ilmu yang didapatkan, dan diaplikasikan untuk strategi bertani, mitigasi dan banyak lagi," ungkap Tarsono.

Hasilnya, Tarsono dan kawan-kawan merasakan langsung pada 2015 silam. Saat itu, tepatnya bulan Mei, curah hujan di Indramayu sedang rendah akibat fenomena El Nino.

"El Nino membawa iklim kering, akhirnya kami mengimbau petani untuk melaksanakan strategi tanam lebih awal. Khusus di Desa Nunuk, kami menyarankan pemerintah desa untuk mengarahkan para petani menanam padi lebih awal, atau yang disebut sistem culik," urai Tarsono.

Ternyata stretegi itu membuahkan hasil, saat cuaca benar-benar kering. Padi yang ditanam lebih awal itu sudah mengeluarkan malai, sehingga selamat dari gagal panen. Dari strategi itu, hasil produksi petani mencapai 5 sampai 6 ton per hektar.

Kejadian serupa juga terjadi di tahun 2016, ketika terjadi musim kemarau basah akibat fenomena La-Nina. "Saat itu, kami juga mengimbau agar petani tidak menanam semangka sebagai tanaman penjeda setelah dua kali tanam padi. Sayangnya saat itu para petani tak mendengarkan saran kami. Alhasil mereka yang bertanam semangka banyak yang rugi. Semangka yang mereka tanam, tidak ada satu pun berbuah. Tidak ada petani yang panen alias gatot atau gagal total," tandasnya.


Reporter: Rizaldi Abror
Editor: Arief Prasetyo

Fahrio Rizaldi A.
14-12-2017 16:58