Main Menu

Terungkap Misteri Mumi Menjerit dari Deir El-Bahari

Rohmat Haryadi
21-02-2018 05:35

Mumi berteriak Pentawere (Ministry of Antiquities)

Kairo, Gatra.com - Ilmuwan Mesir berhasil mengungkap identitas mumi menjerit (mengacu ekspresi wajah mumi)  yang ditemukan di Deir El-Bahari pada 1886. Dia diidentifikasi sebagai Pentawere, anak kedua dari Ramses III. Semula dia diduga telah diracuni, namun studi baru menunjukkan bahwa dia mungkin telah digantung. Analisis DNA menunjukkan bahwa dia adalah putra Raja Ramses III yang tewas dibunuh. Temuan itu sesuai dengan teks tentang plot untuk pembunuhan Ramses III. Demikian Dailymail, 12 Februari 2018.


Identitas sebenarnya di balik ekspresi kesedihan yang menghantui selama kekekalan dalam kematian, telah membingungkan arkeolog selama lebih dari satu abad. Para ahli menyebutnya "Screaming Mummy" yang dirawat dengan cara yang tidak pernah terlihat sebelumnya. Anggota badannya terikat kulit, dan tubuhnya terbungkus kulit domba, yang menunjukkan dia dianggap 'najis'. Mulutnya dibiarkan menganga, seolah-olah dia telah diracuni.

Setelah bertahun-tahun melakukan spekulasi, penelitian terbaru menunjukkan bahwa mayat tersebut milik putra Raja Ramses III yang dipermalukan. Karena terlibat dalam persekongkolan merencanakan pembunuhan ayahnya dan dijatuhi hukuman mati dengan digantung. Mayatnya dikuburkan di dekat makam para bangsawan  di tepi barat Sungai Nil, menurut Kementerian Barang Antik Mesir.

Tetapi, sementara yang lain dibungkus linen putih dan dimumikan dengan hati-hati, Mummy Screaming ditinggalkan kering dalam garam natron, bahkan ada yang menuangkannya ke mulutnya yang terbuka, dan dibungkus dengan kulit domba. Mayat itu juga dikenal sebagai sebagai 'Unknown Man E', sekarang dipajang di Museum Mesir di Kairo untuk pertama kalinya.

Menurut Kementerian Kepurbakalaan Mesir, tanda-tanda di sekitar leher mumi menunjukkan orang itu kemungkinan digantung. Ini sesuai dengan teks kuno tentang Konspirasi Harem, yang merinci plot Pangeran Pentawere dan ratu Tiye - putra firaun dan istri kedua Firaun - untuk membunuh Ramses III. Analisis DNA dari tulang mumi tidak dikenal itu mengidentifikasi dia putra Ramses III,  menurut Ahram Online.

"Mumi mengerikan dari Unknown Man E, yang juga dikenal sebagai "Screaming Mummy," telah lama menbuat ilmuwan bingung," kata ahli kimia Mesir, Zahi Hawass, mantan Menteri Urusan Purba yang memimpin Proyek Mumi Mesir, mengatakan kepada Al-Ahram Weekly.

"Mumifikasi yang tidak biasa itu membingungkan ahli sejarah Mesir dan tidak ada yang berhasil mengetahui kisah di balik mumi semacam itu sampai peluncuran Proyek Mumi Mesir beberapa tahun yang lalu di bawah arahan saya untuk membuat database lengkap informasi forensik yang terkait dengan koleksi mumi di Mesir," katanya.

Ramses III rekaan seniman (Yahoo)
Ramses III rekaan seniman (Yahoo)

Kematian Ramses III sangat mengerikan, dan banyak misteri masih mengelilingi rincian pembunuhannya. Hasil scan CT menunjukkan bahwa tenggorokannya tersembelih, dan jempol kakinya terputus, kemungkinan terjadi serangan beberapa penyerang. Sementara papirus menunjukkan bahwa para konspirator ditangkap, proses persidangan tidak diceritakan. Ramses III memegang pemerintahan di atas Mesir dari 1182 sampai 1151 SM.

Dokumen kuno mengungkapkan bahwa salah satu istrinya, Tiye, bermaksud membunuh Firaun agar bisa menobatkan anaknya Pentawere ke atas takhta. Pentawere berada di urutan kedua dari saudara tirinya Amun-her-khepeshef, namun dalam sebuah plot yang melibatkan pelayan, administrator, dan anggota keluarga kerajaan lainnya, Tiye merencanakan untuk membunuh Ramses III dan menggulingkannya dan menggantinya dengan Firaun Pentawere.

Pembunuhan Firaun Ramses III adalah urusan yang mengerikan. Penelitian baru tentang mumi kerajaan tersebut mengungkapkan bahwa firaun dibunuh beberapa penyerang sekaligus, mendatanginya dari semua sisi dengan senjata yang berbeda. Para konspirator dibawa ke pengadilan atas pembunuhannya. Termasuk Tiye dan Pentawere dieksekusi. Saat itu ditunjuk menjadi firaun, Amun-her-khepeshef menjadi Ramses IV.


Editor: Rohmat Haryadi

Rohmat Haryadi
21-02-2018 05:35