Main Menu

LIPI Kembangkan Teripang Sebagai Makanan Sehat

Sandika Prihatnala
21-02-2018 17:40

Teripang atau Timun Laut banyak ditemukan di perairan Indonesia. (Dok. GATRA/Heru Pamuji/FT02)

Jakarta, Gatra.com - Menjalani hidup sehat bisa dilakukan dengan berbagai cara. Menjaga konsumsi makanan sehat, salah satunya. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) melalui Pusat Penelitian Oseanografi melakukan kajian lebih dalam terkait pengelolaan teripang dan manfaatnya bagi kesehatan. 

 

Dalam beberapa dekade terakhir, konsep makanan sehat  memberi pendekatan baru dan praktis guna mencapai kesehatan optimal. LIPI melihat, salah satu jenis bahan baku makanan sehat tersebut adalah Teripang jenis Stichopus vastus. Namun, teripang jenis itu masih jarang dibudidayakan sehingga ketersediaanya di alam terbatas. 

Teripang atau juga dikenal sebagai timun laut termasuk dalam filum Echinodermata yang merupakan salah satu biota laut yang telah dipanen dan diperdagangkan di lebih dari 70 negara di dunia, termasuk Indonesia. 

“Teripang banyak ditemukan di perairan Indonesia. Secara geografis, perairan Indonesia terletak di antara Samudera Pasifik dan Samudera Hindia yang merupakan habitat terbaik untuk hewan teripang. Sayangnya, budidaya teripang masih belum banyak dilakukan,” terang Dirhamsyah, Kepala Pusat Penelitian Oseanografi (P2O) LIPI dalam acara Media Briefing dengan tema “Suplemen Sehat dari Laut untuk Perbaikan Gizi Masyarakat” pada Kamis (22/2) di Media Center LIPI Jakarta.

Hendra Munandar, Peneliti Balai Pengembangan Bio Industri Laut (BBIL) LIPI mengatakan, spesies teripang mengalami praktik tangkap lebih (overfishing) karena nilai ekonomisnya yang tinggi, volume perdagangan yang besar, dan relatif mudah ditemukan di perairan dangkal. Teripang pasir diambil secara terus menerus dari alam tanpa memperhatikan umur dan ukuran, dari anakan muda sampai dewasa, untuk memenuhi tingginya permintaan pasar. 

Belum adanya manajemen stok yang baik berdampak pada penurunan populasi di alam di seluruh dunia dan mendorong spesies ini digolongkan sebagai salah satu biota yang terancam punah dalam the IUCN Red List of Threatened Species (Hamel et al., 2013). 

“Hal ini mendorong perlunya penguasaan teknologi budidaya biota ini untuk mendukung upaya konservasi, usaha budidaya, dan sekaligus penyediaan bahan baku pangan,” kata Hendra.

Budidaya terbaru, lanjut Hendra, memanfaatkan biota dalam ekosistem tambak. Rumput laut Gracilaria sp. berperan sebagai produsen yang menyerap nutrisi yang berasal dari perairan, pupuk, dan sisa metabolisme biota dalam tambak kemudian mengkonversinya menjadi biomassa melalui proses fotosintesis. Bandeng merupakan omnivora yang memakan partikel tersuspensi, fitoplankton, dan klekap. Sementara teripang pasir berperan sebagai pemakan detritus yang memanfaatkan bahan organik dalam tambak. 

“Melalui metode ini, daur nutrisi dalam sistem budidaya menjadi lebih efisien, karena biaya pakan dan pengelolaan kualitas air dapat ditekan secara optimal yang akhirnya berdampak pada penurunan biaya produksi,” tambahnya. 

Selain lebih ramah lingkungan, budidaya ini juga memiliki produktivitas dan nilai ekonomi yang lebih baik dibandingkan dengan budidaya masing-masing komoditas secara monokultur. 

Sementara menurut Tutik Murniasih, Peneliti P2O LIPI menyebut, teripang memiliki bentuk yang kurang menarik, tetapi tetap diminati untuk dikonsumsi. 

”Masyarakat saat ini sudah sadar untuk mengkonsumsi makanan yang sehat dari produk alami karena memiliki manfaat fisiologis dan mengurangi resiko terjadinya berbagai penyakit kronis,” jelasnya. 

Contohnya teripang Stichopus vastus yang tergolong teripang murah. Teripang Stichopus vastus memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi produk obat dan makanan kesehatan yang bernilai ekonomi tinggi. 

“Teripang dapat diolah menjadi makanan kesehatan pendamping atau penambah program diet, nutrisi atau kondisi tubuh tertentu dan bukan merupakan pengganti makanan,” ungkapnya. 

Tutik mengungkapkan, LIPI telah mengembangkan formula suplemen dari teripang dengan warna putih keruh, berbau khas dan berbentuk kental. “Formulasi sediaan dalam bentuk cair mempunyai banyak keuntungan, yaitu kemudahan dalam penentuan dosis, kemudahan untuk ditelan dan pertimbangan bioavailabilitas. Selain itu kandungannya lebih mudah diserap tubuh,” kata Tutik.  

Ia menambahkan bahwa dari hasil analisis organoleptik (bau, warna dan bentuk) menunjukkan penyimpanan pada suhu ruangan dan suhu lemari pendingin selama 24 jam tidak menyebabkan perubahan warna dan bau.

“Formula tersebut menunjukkan kestabilan terhadap jamur dan mikroorganisme dan untuk tingkat keamanan formula, analisis menunjukkan hasil yang negatif untuk cemaran logam berat,” lanjut Tutik.

Bahkan, formula yang dihasilkan memiliki kandungan kondroitin sulfat (500-2000 mg/100g) dan glukosamin (1000-4000 mg/100g). “Invensi ini sedang dalam proses pengusulan paten dan diharapkan dapat menjadi substitusi impor produk-produk sejenis yang saat ini beredar di masyarakat,” pungkasnya. 


Editor : Sandika Prihatnala

Sandika Prihatnala
21-02-2018 17:40