Main Menu

Ditemukan Koloni Super Penguin Adélie dengan Populasi 1,5 Juta di Antartika

Rohmat Haryadi
04-03-2018 10:22

Koloni Super Penguin Adélie di Pulau Danger, Antartika (Michael Polito/WHOI)

Antartika, Gatra.com -- Selama 40 tahun terakhir, jumlah penguin Adélie , salah satu jenis yang paling umum di Semenanjung Antartika, terus menurun - atau begitulah pemikiran para ahli biologi. Studi baru para peneliti dari Woods Hole Oceanographic Institution (WHOI), memberikan wawasan baru tentang jenis penguin ini. Dalam sebuah makalah yang dirilis pada 2 Maret di jurnal Scientific Reports, para ilmuwan mengumumkan penemuan "supercolony" yang sebelumnya tidak diketahui. Lebih dari 1.500.000 penguin Adélie di Kepulauan Danger, sebuah rantai pulau-pulau terpencil dan berbatu di ujung utara Semenanjung Antartika.


"Sampai saat ini, Kepulauan Danger tidak diketahui sebagai habitat penguin yang penting," kata Heather Lynch, dari Associate Professor of Ecology & Evolution  di Stony Brook University. Koloni super ini tidak terdeteksi selama beberapa dekade, dia mencatat, sebagian karena keterpencilan pulau-pulau itu sendiri, dan perairan berbahaya yang mengelilinginya. Bahkan di musim panas Australia, lautan di dekatnya dipenuhi dengan es laut yang tebal, sehingga sangat sulit untuk diakses.

Namun pada 2014, Lynch dan rekannya Mathew Schwaller dari NASA menemukan noda guano pada citra satelit NASA yang ada di pulau-pulau, mengisyaratkan sejumlah besar penguin misterius. Untuk mengetahui dengan pasti, Lynch bekerja sama dengan Stephanie Jenouvrier, ahli ekologi burung laut di WHOI, Mike Polito di Louisiana State University. dan Tom Hart di Universitas Oxford untuk mengatur sebuah ekspedisi ke pulau-pulau tersebut dengan tujuan untuk menghitung burung secara langsung.

Ketika kelompok tersebut tiba pada Desember 2015, mereka menemukan ratusan ribu burung bersarang di tanah berbatu, dan segera menghitung jumlah mereka dengan tangan. Tim juga menggunakan pesawat tak berawak komersial yang dimodifikasi untuk mengambil gambar dari keseluruhan pulau dari atas.

"Pesawat tak berawak ini memungkinkan Anda terbang di grid di atas pulau, memotret sekali per detik.Anda kemudian dapat merekonstruksinya menjadi kolase besar yang menunjukkan seluruh daratan pada dua dimensi dan tiga dimensi," kata Hanumant Singh, Profesor Mekanikal dan Teknik Industri di Northeastern University, yang mengembangkan sistem pencitraan dan navigasi pesawat tak berawak. Begitu gambar besar itu tersedia, katanya, timnya dapat menggunakan perangkat lunak jaringan syaraf tiruan untuk menganalisanya, pixel demi pixel, mencari sarang penguin secara mandiri.

Ketepatan yang digunakan drone adalah kunci, kata Michael Polito, rekan penulis dari Louisiana State University dan seorang penyidik tamu di WHOI. Jumlah penguin di Kepulauan Danger dapat memberikan wawasan tidak hanya pada dinamika populasi penguin, namun juga dampak perubahan suhu dan es laut pada ekologi kawasan ini.

"Kepulauan Danger tidak hanya memiliki populasi penguin Adélie terbesar di Semenanjung Antartika, mereka juga tampaknya tidak mengalami penurunan populasi yang ditemukan di sepanjang sisi barat Semenanjung Antartika yang terkait dengan perubahan iklim baru-baru ini," kata Polito.

Mampu mendapatkan jumlah burung yang akurat dalam koloni super menawarkan tolok ukur yang berharga untuk perubahan masa depan. "Populasi Adélies di sisi timur Semenanjung Antartika berbeda dengan yang kita lihat di sisi barat, misalnya kami ingin mengerti mengapa, apakah terkait dengan kondisi es laut yang melimpah di sana? Ketersediaan makanan? Itu adalah sesuatu kami tidak tahu," katanya.

Ini juga akan memberi bukti berharga untuk mendukung Kawasan Konservasi Laut (KKL) yang diusulkan di dekat Semenanjung Antartika, Mercedes Santos dari Instituto Antártico Argentino menambahkan. Komisi Konservasi Sumber Daya Hidup Laut Antartika, sebuah panel internasional yang memutuskan penempatan KKL. "Mengingat bahwa proposal MPA didasarkan pada sains terbaik yang ada, publikasi ini membantu menyoroti pentingnya area ini untuk perlindungan," katanya.


Editor: Rohmat Haryadi

Rohmat Haryadi
04-03-2018 10:22