Main Menu

Temuan Teknologi Penyimpanan Sperma Berbiaya Murah dari Ilmuwan Indonesia

G.A Guritno
03-05-2018 10:33

DR Mulyoto Pangestu, penemu teknologi penyimpanan sperma kering dengan suhu ruangan. (GATRA/Ridlo Susanto/FT02)

Purwokerto, Gatra.com – Selama ini, alat penyimpanan sperma dianggap sebagai sesuatu yang mahal. Pasalnya, untuk tetap cair, sperma membutuhkan suhu yang sangat dingin.

 

Namun, dosen Fakultas Peternakan Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), Purwokerto, yang kini mengajar di Monash University, Australia, DR Mulyoto Pangestu menemukan teknologi penyimpanan sperma sederhana dan murah dengan metode penyimpanan kering dan bersuhu ruangan.

Hasil penelitian ini mengantarnya memperoleh penghargaan tertinggi (Gold Award) dalam kompetisi Young Inventors Awards, yang diadakan majalah The Far Eastern Economic Review (FEER) dan Hewlett Packard Asia Pasifik.

Penemuan ini bernilai tinggi untuk negara-negara berkembang, seperti Indonesia, yang penguasaan teknologi dan pembiayaan untuk penyimpanan spermanya masih terbatas.

“Teknologi yang ada itu kan memakai nitrogen cair ya. Suhunya sangat rendah. Dan ada risiko, tangkinya sepeti yang di pojok itu. Ada risiko keterlambatan nitrogen, tangki bocor, atau apa yang bisa merusak sperma,” jelasnya saat bertemu dengan wartawan berbagai media, di Laboratorium Fakultas Peternakan Unsoed, Rabu (2/5).

Mulyoto yang juga lulusan Unsoed Purwokerto ini menjelaskan, peralatan cold storage (pendingin) untuk menyimpan material biologis biasanya membutuhkan nitrogen cair sebagai bahan pendingin (coolant). Agar tetap cair, sperma harus disimpan dalam suhu minus 196 di tabung nitrogen khusus. Selain mahal, nitrogen cair juga berbahaya.

Menurut pria kelahiran Pekalongan 55 tahun lalu itu, peralatan dan biaya mahal itu akan menghambat perkembangan teknologi dan juga aplikasi, khususnya untuk dunia peternakan. Misalnya untuk inseminasi buatan yang harus menjangkau kawasan yang luas.

Ia pun melakukan riset untuk menemukan cara untuk mengeringkan dan menyimpan sperma dalam suhu ruangan. Bahan yang digunakan pun amat murah, hanya sekitar Rp 2.500 per unit. Dia menyebut proses pengeringan sperma yang ditemukannya sebagai pengeringan evaporatif (evaporative drying).

Bahan yang dipakai adalah dua lapis tabung plastik mini (ukuran 0,250 ml dan 0,500 ml) yang disegel dengan panas (heat-sealed), kemudian dibungkus lagi dengan aluminium foil.

“Ternyata ketemu teknik penyimpanan yang kering itu. Kalau dulu kita beli dan pakai tabung nitrogen harus rutin mengisi. Rutin seminggu atau sebulan sekali, kita harus mengisi. Kalau sekarang, begitu kita simpan, taruh di meja saja, bisa, jadi suhu ruang,” ujarnya.

Mulyoto menjelaskan, selain berguna untuk pengembangan teknologi (riset-red) penyimpanan sperma dengan jenis ini diproyeksikan akan berguna untuk industri peternakan. Antara lain, untuk inseminasi buatan.

Peternak yang sudah mahir menjadi inseminator nanti akan bisa mengaplikasikan sperma yang disimpan dengan teknologi ini untuk secara mandiri melakukan inseminasi buatan.

Dia mengklaim, di Australia, teknologi ini sudah diaplikasikan di berbagai peternakan skala besar. Sperma dengan teknik simpan kering dan suhu ruangan ini amat membantu peternak.

Teknologi ini juga sesuai dengan program swasembada daging yang dicanangkan pemerintah. Selain murah, teknologi ini akan membuat kesempatan inseminasi buatan lebih luas. Pasalnya, sperma bisa disimpan di mana pun, bahkan hingga kawasan terpencil.

“Setelah processing itu, biaya murah karena kita tidak perlu tangki,” imbuhnya.


Reporter: Ridlo Susanto
Editor: G.A. Guritno

G.A Guritno
03-05-2018 10:33