Main Menu

Mitsubishi: Pakai Teknologi ini Sebelum Pindah ke Mobil Listrik

Rosyid
30-05-2018 23:57

Mitsubishi Outlander PHEV. (Twitter/FT02)

Jakarta, Gatra.com - Mitsubishi menilai Indonesia belum siap untuk langsung loncat ke teknologi mobil listrik. Selain infrastruktur yang belum siap, juga mengorbankan industri otomotif yang sudah dibangun selama ini dengan investasi yang tidak sedikit.

Hal itu disampaikan Presiden Direktur PT Mitsubishi Motors Krama Yudha Sales Indonesia (MMKSI), Kyoya Kondo di Jakarta, Rabu (30/5). "Solusi paling practical itu pakai PHEV," katanya. PHEV adalah kependekan dari Plug-in Hybrid Electric Vehicle yaitu mobil hybrid yang baterainya bisa diisi ulang dari sumber eksternal seperti colokan rumah. Teknologi ini menjadi jembatan antara mobil hybrid dengan mobil listrik.Karena energi listriknya bisa diisi dari sumber eksternal, jarak tempuh dengan tenaga listrik lebih jauh. Dalam kondisi itu mesin tidak perlu membakar bbm. Jika energi listrik sudah habis, barulah mesin konvensional bekerja. Dengan demikian konsumsi bahan bakarnya bisa ditekan lebih irit.

Iklim Indonesia yang panas, menurut Kondo menuntut AC mobil terus hidup yang menyebabkan listrik di baterai mobil cepat habis. "Ditambah iklim yang panas, pengguna akan terus menyalakan AC mobil, itu membuat baterai cepat habis. Kalau PHEV, baterai habis masih ada bensin," kata Kondo.

Kondo juga mengakui pihaknya memang saat ini memang berkonsentrasi terhadap teknologi mobil hibrida listrik PHEV, salah satunya lewat lini SUV mereka, Outlander PHEV.

Akhir Februari lalu, MMKSI menyerahkan delapan mobil listrik Mitsubishi Outlander PHEV dan dua i-MiEV serta empat unit quick charger kepada pemerintah Indonesia sebagai bagian dari studi bersama pengembangan infrastruktur kendaraan listrik di Indonesia. Paket bantuan itu diterima Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto. 

"Kami akan sama-sama dengan pemerintah, menunggu regulasi. Semoga pemerintah tetap menjaga industri otomotif yang sudah ada saat ini," pungkasnya.

Selain Mitsubishi, Nissan Mobil Indonesia (NMI) juga menawarkan teknologi mobil listrik e-power. Teknologi yang dipamerkan dalam pameran otomotif GIIAS 2017 berbeda dengan PHEV. Pada teknologi E-Power, mobil bekerja sebagai mobil listrik murni, alias bergerak sepenuhnya dengan motor listrik, bukan kombinasi motor listrik dan motor bensin seperti PHEV. Bedanya dengan mobil listrik murni yang harus di isiulang dari sumber energi listrik eksternal, teknologi e-Power ini memiliki generator sendiri. Generator pembangkit listrik ini digerakkan mesin bensin konvensional. Jadi teknologi ini menghilangkan kebutuhanan jaringan isi ulang listrik yang diperlukan mobil listrik.


Editor: Rosyid

Rosyid
30-05-2018 23:57