Main Menu

Badai Bedak Mars ’Melumpuhkan’ Rover Penjelajah Opportunity

Rohmat Haryadi
21-06-2018 16:43

Badai Mars mengaburkan kamera Curiosity (NASA)

Maryland, Gatra.com -- Badai debu menyebar luas di Mars dua minggu terakhir. Hal itu membuat wahana penjelajah NASA, Opportunity lumpuh untuk melakukan penelitian. Namun wahana NASA lainnya Curiosity, yang meneliti  tanah Mars di kawah Gale, diperkirakan tidak terpengaruh. Opportunity yang menggunakan panel surya untuk energinya, tertutup debu di lokasinya saat ini. Curiosity yang memiliki baterai bertenaga nuklir sanggup berjalan siang dan malam, dan tidak terpengaruh badai debu. Demikian Sciencedaily.com, 20 Juni 2018.

 

Meskipun Curiosity berada di sisi lain Mars dari Opportunity, debu di atasnya meningkat lebih dari dua kali lipat selama akhir pekan ini. Tingkat kabut debu di atmosfer yang menghalangi sinar matahari disebut "tau". Sekarang tau di atas kawah Gale 8,0 - tau tertinggi yang pernah dicatat misi tersebut. Tau terakhir diukur di atas lokasi Opportunity, 11,0, cukup tebal. Pengukuran akurat tidak lagi mungkin dilakukan rover aktif tertua (15 tahun) di Mars itu, akibat pasokan energinya yang mandek.

Ilmuwan NASA yang mengawasi dari Bumi, Curiosity menawarkan pengetahuan baru yang belum pernah terjadi sebelumnya untuk menjawab beberapa pertanyaan. Salah satu pertanyaan yang terbesar: Mengapa beberapa badai debu di Mars bertahan selama berbulan-bulan dan membesar, sementara di bagian lain tetap kecil dan hanya bertahan seminggu?

"Kami tidak punya ide bagus," kata Scott D. Guzewich, seorang ilmuwan atmosfer di Pusat Penerbangan Luar Angkasa Goddard NASA di Greenbelt, Maryland, yang memimpin penelitian badai debu Curiosity.

Data Curiosity ditambah pantauan pesawat ruang angkasa di orbit Mars, akan memungkinkan ilmuwan untuk pertama kalinya mengumpulkan banyak informasi badai debu baik dari permukaan maupun dari luar angkasa. Badai terakhir tingkat global menyelimuti Mars terjadi pada 2007, lima tahun sebelum Curiosity mendarat di sana.

Dalam animasi, Curiosity termangu menghadap ke bibir kawah, sekitar 18,6 mil (30 kilometer) dari tempatnya berdiri di dasar kawah. Foto harian yang diambil Kamera Mast, atau Mastcam, menunjukkan langit semakin kabur. Kabut debu yang menghalangi sinar matahari ini sekitar enam hingga delapan kali lebih tebal dari biasanya untuk musim ini.

Insinyur Curiosity di Jet Propulsion Laboratory NASA di Pasadena, California, telah mempelajari potensi badai debu dan pengaruhnya terhadap instrumen rover. Mereka berkesimpulan itu hanya menimbulkan risiko kecil. Dampak terbesar pada kamera rover, yang membutuhkan waktu pencahayaan tambahan karena pencahayaan rendah. Rover secara rutin mengarahkan Mastcam ke bawah setelah setiap penggunaan, untuk mengurangi jumlah debu yang menumpuk pada optiknya.

Badai debu di Mars sering terjadi, terutama selama musim semi dan musim panas di belahan selatan, ketika planet ini paling dekat dengan Matahari. Ketika atmosfer menghangat, angin yang dihasilkan lebih besar.  Suhu permukaan yang berbeda memobilisasi partikel debu berukuran butir bedak. Karbondioksida yang dibekukan di topi kutub pada musim dingin menguap, mengentalkan atmosfer, dan meningkatkan tekanan permukaan. Dalam beberapa kasus, ketinggian awan debu mencapai 40 mil (60 kilometer) atau lebih tinggi.

Badai debu Mars biasanya berada di daerah setempat. Sebaliknya, badai saat ini, jika terjadi dalam lingkup yang luas. Lebih luas dari gabungan Amerika Utara dan Rusia, kata Guzewich. Badai debu mungkin tampak eksotis bagi penduduk Bumi, tetapi tidak unik untuk Mars. Bumi juga memiliki badai debu di daerah gurun seperti Afrika Utara, Timur Tengah, dan Amerika Serikat bagian barat daya.

Tetapi kondisi di Bumi mencegah mereka menyebar secara global, kata Ralph A. Kahn, ilmuwan riset senior Goddard yang mempelajari atmosfer Bumi dan Mars. Struktur atmosfer kita yang lebih tebal, dan gravitasi yang lebih kuat yang membantu mengatasi badai debu. Bumi juga memiliki tutupan vegetasi yang mengikat tanah dengan akarnya, dan membantu memblokir angin. Dan hujan mencuci partikel keluar dari atmosfer.


Editor: Rohmat Haryadi

Rohmat Haryadi
21-06-2018 16:43