Main Menu

Harimau Jawa Belum Punah?

Sandika Prihatnala
25-06-2018 15:46

Foto Harimau Jawa diambil pada 1938 di Ujung Kulon. (Dok. Wikipedia/Andries Hoogerwerf/FT02)

Jakarta, Gatra.com - Tak percaya Harimau Jawa telah punah, sejumlah aktivis dan pecinta alam lakukan ekspedisi 'Menjemput Harimau Jawa' di Taman Nasional Ujungkulon, Banten. Satwa berstatus punah yang dikenal dengan lodaya ini diyakini masih hidup di sejumlah wilayah di Jawa. Sejumlah kesaksian dan temuan menjadi pemandu dalam ekspedisi kali ini.

 

Ekspedisi pada 24 Juni – 8 Juli 2018 di kawasan konservasi Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK), Pandeglang, Banten merupakan aksi para pecinta alam yang menolak klaim kepunahan Harimau Jawa. Perdebatan masih atau tidaknya Harimau Jawa (Panthera tigris sondaica) terus bergulir sejak International Union for Conservation of Nature (IUCN) menetapkannya sebagai satwa terancam punah dan dinyatakan punah pada tahun 1973.

Pernyataan itu kemudian didukung WWF pada tahun 1996 setelah melakukan penelitian di TN Merubetiri dengan menggunakan kamera penjebak sistem injak. Tidak sedikit praktisi maupun akademisi ikut mengamini pernyataan ini. Apalagi foto sosok harimau Jawa tidak pernah ada setelah foto terakhir karya  Andries Hoogerwerf tahun 1938. Ia merupakan satu-satunya fotografer yang memfoto utuh tubuh harimau Jawa di alam, ketika sedang berjalan di Taman Nasional Ujung Kulon. 

Sementara berbeda dengan kondisi dilapangan, masyarakat pinggiran hutan justru kerap membicarakan keberadaan Harimau Jawa. Sejumlah kesaksian berupa jejak, kotoran, cakaran, suara auman, hingga bertatap muka langsung kerap ditemukan. Tidak hanya masyarakat pinggiran hutan, diluar komunitas pinggiran pun membicarakannya.

Wilayah perjumpaan dengan Harimau Jawa tidak hanya di TN Meru Betiri sebagai kawasan konservasi yang ditetapkan sebagai habitat harimau Jawa, tapi juga menyebar dari ujung barat Pulau Jawa, Provinsi Banten sampai Ujung Timur.

Temuan Keberadaan Harimau Jawa

Sebelumnya, Ekspedisi Harimau Jawa Kelompok Pencinta Alam pada tahun 1997 di TN Meru Betiri, Jawa Timur telah mengindikasikan Harimau Jawa belum punah. Berbagai temuan terdokumentasikan itu memperkuat berbagai data dan informasi keberadaan Harimau Jawa. Baik yang bersumber dari masyarakat pinggiran hutan, petugas pemerintah pengawas hutan, TNI, peneliti maupun pemburu binatang liar yang juga menemukan buktibukti keberadaan Lodaya atau Gembong.

Namun, tidak sedikit aktifis lingkungan yang lebih memilih setuju pernyataan punah demi melindungi keberadaan Harimau Jawa. Alasan mereka, dengan pernyataan punah, Carnivor tersebut dapat bebas menjelajah habitatnya dengan aman dan berkembang biak. Namun argumen ini bertolak belakang dengan harapan.

Faktanya, perburuan Harimau Jawa justru menjadi lebih bebas. Tidak ada hukum berburu hewan yang sudah punah. Jika pun ada informasi perburuan, akan disebut sebagai mitos atau mengada-ada. Terbukti, dengan terbunuhnya harimau jawa akibat perburuan dan terjebak tahun 2012 – 2014.

Bukti fisik berupa kulit dan gigi harimau dapat terdokumentasikan langsung dari sumbernya. Lebih jauh, anggapan punah selain akan mengabaikan berbagai data dan informasi yang berkembang, dapat berimplikasi pada hutan jawa sebagai habitat Harimau Jawa. Alih fungsi hutan akan mengalami percepatan dengan berbagai alasan. Pembangunan adalah kata sakti yang dapat diterjemahkan dengan berbagai bentuk kegiatan.

Rencana pertambangan emas di kawasan Meru Betiri adalah salah satu contoh, bagaimana punahnya harimau Jawa dijadikan alasan tidak ada alasan mempertahankan kawasan konservasi karena yang dilindungi telah punah. Kondisi serupa juga dapat dilihat tumbuhnya pembangunan
fisik pada kawasan hutan untuk meningkatkan daya tarik wisata.

Tekanan terhadap hutan di Jawa Juga terkait target program penyediaan energi 35.000 MW melalui Panas Bumi dan PLTA, perluasan lahan-lahan pertanian dll. Ekspedisi Harimau Jawa 1997 telah menorehkan kesan dan kesadaran Pencinta Alam akan peran strategisnya dalam melestarikan spesies dan habitatnya sebagai bagian dari sistem kehidupan yang berkeadilan.

Paska Ekspedisi, proses pembuktian terus dikembangkan di banyak wilayah. Berbagai Informasi dari berbagai sumber menjadi dasar ekspedisi lanjutan, baik skala kecil maupun besar. Dilakukan secara mandiri maupun dengan mendapatkan dukungan dari donatur. Tahun 1999 dilakukan ekspedisi lanjutan di kawasan gunung Slamet dan 2005 di Gunung Ungaran.

Ekpedisi mandiri dilakukan di Kawasan Gunung Raung tahun 2012 dan Perbukitan Pembarisan Jawa Barat 2013. Berbagai temuan perjalan selama lebih dari 20 tahun memperkuat keberadaan Harimau Jawa. Temuan-temuan tersebut terdokumentasikan melalui foto, cetak jejak memalui media gips, data rambut, fases maupun catatan-catatan lapang, buku dll.

Terbaru, foto dari video petugas TN Ujung Kulon pada 25 Agustus 2017 kembali mengangkat isu keberadaan Harimau Jawa. Sekalipun foto tersebut mengidikikasikan sebagai Macan Tutul dari ciri yang ada, namun menyisakan hipotesis lain tentang keberadaan Harimau Jawa. Selain, berbagai data dan informasi menempatkan TN Ujung Kulon merupakan salah satu habitat Harimau Jawa.

Sebagai habitat, TN Ujung Kulon telah dibuktikan dengan ditemukannya jejak kaki dengan ukuran 14 x 16 cm dan seorang anggota TNI menyatakan telah bertemu dengan harimau Jawa dengan yang dikuatkan dengan sumpah. Sebagai bagian upaya perlindungan dan penyelamatan Harimau Jawa sebagai spesies dan habitatnya serta perlindungan atas hutan-hutan jawa untuk keberlanjutan kehidupan, menjadi strategis untuk memberikan ruang peran pencinta alam.

Didik Raharyono, peneliti dari Peduli Karnivora Jawa ini salah satu yang yakin Harimau Jawa belum punah. Ia terlibat dalam Ekspedisi Meru Betiri, dan kini ikut serta dalam ekspedisi di TNUK.

“Indikasinya banyak, ada catatan laporan perjumpaan di TNUK sejak 1999-2001,” katanya kepada Gatra. Kesaksian patugas yang melihat langsung Harimau Jawa di TNUK pada September 2017 lalu membuatnya terpicu kembali untuk berkunjung ke TNUK pada November 2017.

“Saya mengumpulkan berbagai kesaksian petugas, dua petugas jagawana yang telah pensiun juga saya datangi,” ungkapnya.

Mereka mengaku melihat jejak tapal kaki dengan diameter 15 cm. Seorang lagi mengaku bertemu langsung dengan Harimau Jawa pada 1999, tapi tanpa bukti foto. Bahkan ada pekerja lepas WWF (orang lokal) yang bersaksi kepadanya pernah bertemu langsung bangkai harimau yang masih utuh pada 2010.

Bukti penguat lainnya, ternyata UKF-IPB, tahun 2009 sudah mencetak jejak kaki yang teriidentifikasi sebagai milik harimau jawa. Dengan dimensi 14x16 cm. Penemunya juga menuturkan temuan sisa pemangsaan yang ditimbun serasah (sampah organik berupa tumpukan dedaunan kering, rerantingan, dan berbagai sisa vegetasi lainnya di hutan atau kebun yang sudah mengering dan berubah dari warna aslinya).

“Hal ini semakin.memperjelas identifikasi saya ke harimau jawa,” katanya. Harimau Jawa, kerap menimbun sisa pakannya dengan Serasah. Berbeda dengan macan tutul yang biasanya membawa sisa pakan keatas pohon.

Penguat berikutnya, lanjut Didik, datang dari satpam TNUK. Dia memberi keterangan sebelum kejadian petugas pemantau banteng melihat Harimau Jawa pada Agustus 2017, ada sekelompok wisatawan di Cidaon yang mengaku melihat harimau loreng, seminggu sebelum petugas melihatnya.

Perjumpaan itu terjadi menjelang senja diatas jam 17-an. Jarak dengan harimau sekitar 7 meter. Semula dianggap karuhun/mistis. Tapi setelah hampir 5 menitan dan dijemput temannya, harimau loreng itu berjalan santai memasuki semak semak.

“Disitu beliau menyimpulkan kalau yang dijumpai itu hewan, bukan satwa mistis,” katanya.

Setelah mendengar kesaksian terbaru itulah, ia dan sejumlah aktivis lainnya semakin yakin tentang eksistensi Harimau Jawa di TNUK. Melalui ekspedisi ini, ia berencana membantu TNUK untuk mencoba mengidentifikasi lebih dalam. Disamping melakukan regenarasi pembelajaran kepada pecinta alam Indonesia agar lebih peduli pada satwa liar dan hutan di Jawa sebagai habitatnya yang semakin menyempit.


Editor : Sandika Prihatnala

Sandika Prihatnala
25-06-2018 15:46