Main Menu

Wahana Hayabusa 2 Mencapai Asteroid ‘’Berlian’’

G.A Guritno
28-06-2018 10:01

Peluncuran Roket A H-IIA yang membawa hayabusa2 (Reuters/yus4)

Tanegashima, Gatra.com - Sebuah pesawat ruang angkasa Jepang, Hayabusa 2, telah sampai di sebuah asteroid berbentuk seperti ‘’berlian’’, yang merupakan bagian atas benda kosmis yang berputar. Wahana bersiap melepaskan proyektil untuk mengambil sampel segar dari permukaan asteroid.

 

Sejak diluncurkan dari pelabuhan antariksa Tanegashima Jepang pada tahun 2014, Hayabusa 2 telah melakukan perjalanan panjang menuju batu angkasa yang dinamai Ryugu. Misi utamanya adalah mencari asteroid Ryugu untuk mempelajari objek itu lebih dekat, mengambil contoh bebatuan serta tanah dari sana dan membawanya ke Bumi.

Menurut Paul Rincon, dari BBC News, wanaha antariksa ini akan memakai bahan peledak untuk mendorong sebuah proyektil ke Ryugu, kemudian melakukan penggalian untuk mendapatkan sampel segar dari bawah permukaan.

Kepada Rincon, Dr Makoto Yoshikawa, manajer misi Hayabusa 2, mengungkapkan mengenai rencana selanjutnya setelah pesawat ruang angkasa itu sampai di tempat tujuannya.

"Pada awalnya, kami akan mempelajari fitur permukaan dengan sangat hati-hati. Lalu kami akan memilih tempat untuk mendarat. Pendaratan itu artinya kami mendapatkan bahan material yang ada di permukaan," katanya, seperti dikutip oleh BBC News.

Sebuah proyektil tembaga atau "penabrak" akan terpisah dari Hayabusa 2, mengambang ke permukaan asteroid. Lalu setelah Hayabusa 2 keluar dari lintasan dan aman, muatan eksplosif akan meledak, mendorong proyektil ke permukaan asteroid.

"Kami memiliki penabrak yang akan membuat kawah kecil di permukaan Ryugu. Mungkin pada musim semi tahun depan, kami akan mencoba membuat kawah ... kemudian pesawat akan mencoba mencapai ke kawah untuk mendapatkan material dari bawah permukaan."

Usaha untuk menggali dan mendapatkan material segar di bawah permukaan Ryugu merupakan tantangan yang sangat besar bagi Hayabusa 2.

Selama ini, para ilmuwan mempelajari asteroid untuk mendapatkan pengetahuan mengenai asal-usul dan evolusi lingkungan kosmis tempat manusia tinggal yakni Tata Surya.

Pada dasarnya asteroid adalah sisa bahan material dalam pembentukan Tata Surya sekitar 4,6 miliar tahun yang lalu. Diprediksi benda kosmis tersebut juga mengandung senyawa kimia yang mungkin penting untuk memulai kehidupan di Bumi. Di dalamnya mengandung air, senyawa organik (karbon kaya) dan logam mulia. Material seperti logam mulia yang terkandung di dalamnya telah menggoda beberapa perusahaan untuk melihat kelayakan penambangan asteroid.

Manajer misi Dr Yoshikawa, yang juga profesor di Institute of Space dan Astronautical Science Jepang (ISAS), mengatakan bahwa sosok Ryugu tidak terduga.

Menurut dia asteroid dengan bentuk umum cenderung berputar cepat, menyelesaikan satu revolusi putaran setiap tiga atau empat jam. Tapi periode putaran Ryugu relatif lebih lama, sekitar 7,5 jam.

"Banyak ilmuwan dalam proyek kami berpikir bahwa di masa lalu periode putaran sangat pendek atau berputar sangat cepat, dan kemudian periode putaran telah melambat. Kami tidak tahu mengapa itu melambat, tapi ini adalah topik yang sangat menarik," katanya kepada BBC News.

Hayabusa 2 akan menghabiskan sekitar satu setengah tahun untuk meneliti batuan ruang seluas 900 m persegi, yang berjarak sekitar 290 juta km (180 juta mil) dari Bumi. Selama waktu eksplorasi tersebut, pesawat antariksa ini akan mengirimkan beberapa kapal pendarat ke permukaan Ryugu, termasuk rover kecil dan paket instrumen buatan Jerman yang disebut Maskot (Mobile Asteroid Surface Scout).

Ryugu masuk kategori asteroid tipe-C, atau masuk jenis yang dianggap relatif primitif. Dengan demikian Ryugu mungkin kaya akan mineral organik dan terhidrasi (yang dikombinasikan dengan air). Mempelajari bahan material pembuat Ryugu dapat memberikan pengetahuan ke dalam campuran molekuler yang berkontribusi pada asal usul kehidupan di Bumi.

Permukaan asteroid itu kemungkinan telah mengalami perubahan cuaca ekstrem, seperti terkena beberapa paparan lingkungan yang keras dari ruang angkasa. Itulah mengapa para ilmuwan misi Hayabusa 2 ingin menggali permukaan untuk mendapatkan sampel segar.

Instrumen Lidar (deteksi cahaya dan jangkauan) di Hayabusa 2 telah digunakan sebagian sebagai sensor navigasi untuk perjalanan, mendekati dan pendaratan. Lidar akan menerangi target dengan sinar laser berdenyut untuk mengukur jarak variabel antara dua objek. Pada hari Selasa (26/5), para ilmuwan berhasil menggunakan Lidar untuk mengukur jarak dari Hayabusa 2 ke asteroid untuk pertama kalinya.

Direncanakan misi kembali ke bumi akan berangkat dari Ryugu pada bulan Desember 2019 dengan membawa sampel asteroid dan tiba di bumi pada tahun 2020. Sebelumnya pesawat antariksa Hayabusa pertama telah diluncurkan pada tahun 2003 dan mencapai asteroid Itokawa pada tahun 2005.

Meskipun diterpa serangkaian kecelakaan, Hayabusa 1 kembali ke Bumi pada tahun 2010 dengan sejumlah kecil material dari asteroid. Dalam waktu hampir bersamaan, terdapat misi pengambilan sampel asteroid dari Amerika, Osiris-Rex, yang rencananya bertemu dengan objek 101955 Bennu pada bulan Agustus nanti.

Editor: G.A. Guritno

G.A Guritno
28-06-2018 10:01