Main Menu

Dagozilla Tim Robot Sepakbola ITB yang Bisa Berkomunikasi Antar Robot

Rohmat Haryadi
06-07-2018 19:33

Salah satu robot tim Dagozilla (itb.ac.id)

Bandung, Gatra.com --- Di tengah hiruk pikuk Piala Dunia di Rusia, kolaborasi tim mahasiswa berbagai jurusan di Institut Teknologi Bandung (ITB) berhasil menciptakan robot yang bisa sepakbola. Tim tiga robot itu berjuluk Dagozilla. Ketua tim pembuat Dagozilla, Evan Febrianto mengatakan, robot dibuat untuk pengembangan robot humanoid di dunia. Demikian dilansir laman ITB, Juli ini.

 

Fitur dalam robot dibuat sedemikian rupa. Salah satunya kemampuan komunikasi antar robot. “Kami membuat tiga buah robot yang terdiri atas dua buah robot penyerang dan satu buah robot penjaga gawang,” kata mahasiswa Teknik Elektro 2014 itu. Robot-robot ini bekerja secara otonom atau otomatis. Saat dijalankan, robot berkomunikasi satu dengan yang lain untuk menentukan peran masing-masing.

Apakah dia harus menyerang, bertahan, menjadi assist, dan sebagainya. Peran ini ditentukan dari ada atau tidaknya bola, jika robot berperan sebagai penyerang maka dia akan mendekat ke bola dan melakukan pola serangan yang sudah diprogram sebelumnya. Cara kerjanya, Dagozilla dilengkapi dengan satu komputer yang bertugas untuk memonitoring kondisi dari ketiga robot yang bertanding di lapangan.

Komputer berperan sebagai base station untuk mengatur strategi yang akan digunakan dalam menghadapi lawan. Dagozilla sempat meraih penghargaan sebagai tim dengan strategi terbaik pada Kontes Robot Indonesia regional II di Universitas Tarumanegara, 12 Mei 2018 lalu. Ini merupakan bentuk pencapaian awal Dagozilla sebelum nantinya akan bertanding di kancah internasional.

Proses pembuatan robot ini memakan waktu 8 bulan. Terdiri dari 5 bulan riset desain, 2 bulan untuk manufaktur dan assembly. Dan sebulan untuk pengujian dan simulasi. Biaya yang dikeluarkan sekitar Rp25 juta. “Meskipun produk ini sudah dapat dikatakan jauh berkembang dari tahun sebelumnya, namun Dagozilla juga tidak dapat dikatakan sempurna. Pengembangan ke depannya kami akan melakukan optimasi di fitur-fitur yang masih dirasa kurang optimal,” Evan menjelaskan.

Bersama timnya, Evan akan mengoptimalkan beberapa fitur seperti mendeteksi bola, lokalisasi robot di lapangan, serta fitur unggulan kemampuan komunikasi antar robot. Proses pembuatan Dagozilla dibimbing Dosen Teknik Elektro ITB, Dr. Kusprasapta Mutijarsa, S.T., M.T., dengan jumlah anggota tim 21 orang.

Selain dijadikan tugas akhir, Dagozilla diproyeksikan mengikuti kompetisi tingkat dunia. Dagozilla juga sempat dipamerkan pada acara EEDays 2018 yang berlangsung pada 22-24 Mei, di Aula Timur ITB. “Tugas Akhir ini sebenarnya adalah pengembangan tugas akhir sebelumnya. Namun, karena dirasa masih belum sempurna, diadakan lagi pada tahun selanjutnya, yakni tahun ini. Sehingga concern utamanya adalah pengembangan robot dari segi mekanik, elektrik, dan programming secara utuh,” tutup Evan kepada itb.ac.id.


Editor: Rohmat Haryadi

Rohmat Haryadi
06-07-2018 19:33